<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517</id><updated>2012-02-16T19:51:28.337-08:00</updated><category term='selebritis'/><category term='Sosok'/><category term='legenda'/><category term='pesohor'/><title type='text'>BATAK BUKAN BAKAT</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-5820290986242255670</id><published>2009-06-02T20:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T20:31:07.046-07:00</updated><title type='text'>Dalihan Na Tolu Tetap Berkilau di Brisbane</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SiXrR04Bw0I/AAAAAAAAAHU/6cJTTWOX5XI/s1600-h/Acara+WKI+di+Uniting+Church,+diskusi+dengan+Amang+Siahaan+dan+A.+Hutabarat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SiXrR04Bw0I/AAAAAAAAAHU/6cJTTWOX5XI/s320/Acara+WKI+di+Uniting+Church,+diskusi+dengan+Amang+Siahaan+dan+A.+Hutabarat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342935224428905282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SiXo1uCpX8I/AAAAAAAAAHM/2_QGdyYtYGM/s1600-h/brisbane.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 113px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SiXo1uCpX8I/AAAAAAAAAHM/2_QGdyYtYGM/s320/brisbane.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342932542534803394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks &amp; foto oleh : Martua Hutabarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Let’s have a barbie this afro in Guyatt Park, and don’t forget to bring your own coldies...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis dan ahli sosiologi beranggapan bahwa ada beberapafaktor yang menyebabkan semakin terkikisnya modal sosial di masyarakat itu, diantaranya kemajuan teknologi, materialisme dan individualisme. Masyarakat tidak lagi berkomunikasi dengan tetangganya, bertegur sapa, dan bahkan terputus hubungan dengan sahabat atau keluarga dan familinya, serta semakin berkurang berinteraksi dengan lingkungannya. Segala kebutuhannya dapat dipenuhi melalui teknologi, seperti internet. Menonton film-film terbaru, belanja, bahkan bertegur sapa, dapat dilakukan dari rumah. Secara fisik, mereka semakin terasing dari lingkungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal ini tidak (belum) terjadi di komunitas Batak yang ada di Brisbane, Australia. Rasa kekeluargaan, dan juga persaudaraan yang kental serta keinginan untuk berkumpul dan bersosialisasi masih tertanam kuat di darah masyarakat Batak. Salah satu buktinya adalah pesan singkat yang tertera di awal tulisan ini, yang dalam bahasa Indonesia, “ Ayo kita mengadakan acara barbeque di Guyatt Park, dan jangan lupa bawa minuman”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan tersebut biasanya dikirim melalui sms atau electronic mail. Saling berkomunikasi dan bertegur sapa tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan masyarakat Batak, dimanapun mereka berada. Kemajuan teknologi tidak menghalangi persekutuan dan saling tegur sapa, dan itu merupakan bukti bahwa modal sosial seperti komunikasi, saling interaksi dan aktivitas sosial yang semakin memperkuat kohesi diantara mereka, masih tertanam kuat dan berakar pada masyarakat Batak. Dan ini jugalah salah satu yang membedakan masyarakat yang berbudaya Timur dan yang berbudaya Barat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australia merupakan negara benua yang multi etnis. Secara goegrafis dan politis sangat berkepentingan dengan Indonesia, dan daratannya (7,6 juta km2) tiga kali lebih luas dari Indonesia, namun penduduknya hanya sepersepuluh total penduduk Indonesia, yakni lebih kurang 21 juta jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengadu nasib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Duta besar Indonesia untuk Australia, Sabam Siagian, pernah mengatakan bahwa secara langsung dan tidak langsung, keamanan Australia ditentukan oleh Indonesia. Situasi dan kondisi di Indonesia juga menentukan situasi dan kondisi di Australia.. Republik Indonesia yang stabil inilah akhirnya menjadi semacam tameng geopolitik yang menenteramkan bagi Australia sehingga rasa keterpencilannya sebagai negara yang berbudaya “ Barat “ yang dikelilingi oleh negara-negara Asia yang berbudaya “ Timur “ kurang lebih dapat diatasi. Selain itu, Indonesia juga membutuhkan Australia karena keunggulannya di bidang teknologi, sains dan manajemen organisasi. Banyak pelajar, bahkan masyarakat indonesia mengadu nasib dan peruntungannya di Negeri Kangguru tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Batak Brisbane tergabung dalam beragam kegiatan dan organisasi, dan salah satunya adalah WKI atau warga Kristen Indonesia. WKI merupakan wadah bagi warga Indonesia di Brisbane yang beragama Kristen dan berasal dari denominasi gereja yang berbeda dan berasal dari suku-suku yang ada di Indonesia. Seperi Batak, Jawa, Manado, Ambon, Papua, Dayak dan juga warga Indonesia yang menikah dengan orang Australia. Selain itu, baik yang sudah permanent resident ataupun temporary juga bergabung di WKI. Acara ibadah diadakan bergantian, terkadang di Gereja, taman, atau dirumah keluarga Kristen Indonesia. Setiap keluarga atau pribadi membawa makanan atau minuman masing-masing, atau di Australia terkenal dengan istilah BYO (Bring Your Own), kemudian dikumpulkan untuk dikonsumsi bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang tokoh masyarakat Batak yang telah tinggal lebih dari 30 tahun di Brisbane, Amang Togar Siahaan, mengungkapkan bahwa tidak ada organisasi resmi untuk komunitas Batak, apalagi kumpulan marga-marga seperti yang lazim ditemui di Indonesia. Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa komunitas batak di Brisbane tidak terlalu banyak, dan jumlah atau populasinya kurang dapat diketahui dengan pasti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert Hutabarat, yang juga merupakan tokoh masyarakat Batak di Brisbane juga sependapat dengan hal tersebut. Jumlah pasti orang Batak tidak dapat diketahui karena umumnya masyarakat yang datang ke Brisbane adalah pelajar atau pekerja yang tinggal sementara di Brisbane. Hal ini menyebabkan sangat sulit untuk memastikan jumlah masyarakat Batak di Brisbane. Kedua tokoh masyarakat ini sudah menjadi permanent resident di Brisbane, dan bahkan sudah membuka usaha sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jumlah yang sedikit, tidak menjadi penghalang untuk berkumpul dan bertemu serta menjalin keakraban dan kekeluargaan satu dengan yang lainnya. Sebagian besar masyarakat Batak yang berada di Brisbane juga adalah mahasiswa. Umumnya mereka study tingkat lanjut di beberapa Universitas yang terdapat di Brsibane, seperti The University of Queensland dan Queensland University of Technologuy. Para mahasiswa Batak tersebut, ada yang studi dibiayai oleh orangtua, namun ada juga yang dibiayai oleh sponsor, baik dari Indonesia dan dari luar negeri, termasuk beasiswa pemerintah Australia. Masa studi mereka beragam, antara 2 sampai 5 tahun, tergantung dari program yang dipilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saling Berbagi Saling Bercerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Batak sangat menjunjung tinggi adat dan kebiasaan positif di mana pun mereka berada. Prinsip “Dalihan Na Tolu” merupakan akar kuat dalam bermasyarakat dan berinteraksi dengan keluarga yang menjadi ciri khas spesifik masyarakat Batak yang tidak dimiliki oleh suku atau bangsa lain. Prinsip itu juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan di Brisbane Australia. Komunitas Batak yang ada di Brisbane menganggap bahwa mereka adalah satu keluarga, sehingga sudah selayaknya saling menghormati, dan saling mendukung di tanah orang. Mengenai acara-acara adat, umumnya masyarakat Batak mengadakannya di Bona Pasogit, seperti pesta pernikahan. Hal ini karena komunitas batak yang ada di Brisbane tidak terlalu banyak. Namun, setelah acara di Bona Pasogit tersebut, biasanya akan diadakan acara kebaktian atau ibadah di Brisbane. Seperti ibadah bulanan WKI, diisi dengan acara saling berbagi, saling bercerita dan tentu saja yang terutama, beribadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Batak yang studi di University of Queensland biasanya menyumbang lagu pujian di setiap ibadah bulanan WKI. Selain itu, masyarakat Batak yang ada di Brisbane juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan seni dan kebudayaan. Salah satu yang sangat terkenal di Brisbane adalah “ Angklung Performance “. Di setiap acara-acara besar dan juga acara kesenian, selalu ada permintaan untuk menampilkan permainan angklung, dan masyarakat Brisbane sangat menghargai dan mengapresiasi kesenian dan budaya yang sangat beragam dimiliki oleh Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sedang didiskusikan untuk membentuk kelompok kesenian Batak, yang dapat menampilkan tarian tor-tor ataupun lagu dalam bahasa Batak. Lebih lanjut, ada keinginan dari mahasisa dan mahasiswi Batak yang ada di Brisbane untuk membentuk suatu organisasi resmi komunitas Batak, dan tentu saja hal ini perlu didiskusikan dengan orang tua Batak yang ada di Brisbane. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Putra dan Putrinya&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Salah satu prinsip atau tradisi turun-temurun masyarakat Batak yang sangat membanggakan adalah prinsip “anakkon ki do hamoraon di ahu”. Dimanapun orang Batak berada, prinsip yang sudah menjadi salah satu falsafah hidup orang Batak ini, selalu menjadi patokan yang mendasari aktivitas atau motivasi mereka dalam mendidik anak-anaknya. Sebisa mungkin, pendidikan bagi anak-anaknya diberikan hingga ke jenjang yang paling tinggi, atau memberikan pendidikan seni sesuai dengan talenta atau keterampilan anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Albert Hutabarat, misalnya, memberikan les atau keterampilan bermain piano bagi putrinya, dan mendapat ujian atau sertifikasi dari pemerintah setempat. Putrinya yang sangat mahir bermain piano ini sering diundang pada acara-acara ibadah atau kegiatan lainnya. Meskipun usianya masih sangat belia, namun dengan talenta, kemampuan berbahasa Inggris dan pemahaman notasi yang luar biasa, bukan hal yang mustahil akan muncul pianis Batak andalan dari Australia. Dan inilah yang juga menjadi harapan orang tuanya, dengan memberikan kesempatan untuk belajar seluas-luasnya kepada putra dan putrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan-pertemuan, saling berkomunikasi dan beribadah merupakan salah satu kunci untuk dapat bertahan di negeri orang. Selain itu, pemeliharaan Tuhan juga patut disyukuri. Salah seorang anggota masyarakat Batak mengatakan bahwa doa dan perenungan akan Firman Tuhan serta iman kepada Allah yang hidup merupakan modal utama dan bekal hidup untuk dapat berhasil dan bertahan di negeri orang. Salah seorang pemuda Batak yang tergabung dalam komunitas Batak Brisbane tersebut memberikan salah satu ayat Alkitab yang menjadi pegangannya dalam merantau, yakni Yosua 1:8 “Unang meret buku ni patikon sian pamanganmu, sai pingkirpingkiri ma i arian dohot borngin, asa diradoti ho, jala dipatupa ho, hombar tu sude na tarsurat di bagasan i, asa maruntung ho di angka dalanmu, jala marmulia parulaonmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekilas mengenai kehidupan dan aktivitas masyarakat Batak yang terdapat di Brsibane, Australia. Tentu saja, untuk mempertahankan eksistensinya, selain berinteraksi dengan sesama warga Indonesia, hubungan dengan masyarakat Australia juga mutlak diperlukan. Dan, tentu saja, tradisi turun temurun yang menjadi ciri khas orang Batak tersebut tetap dipertahankan dan dilaksanakan dimanapun mereka berada. Horas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dosen di Universitas Negeri Papua, manokwari, Papua Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tulisan ini telah dimuat dimajalah TAPIAN edisi Juni 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-5820290986242255670?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/5820290986242255670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=5820290986242255670' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/5820290986242255670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/5820290986242255670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2009/06/dalihan-na-tolu-tetap-berkilau-di.html' title='Dalihan Na Tolu Tetap Berkilau di Brisbane'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SiXrR04Bw0I/AAAAAAAAAHU/6cJTTWOX5XI/s72-c/Acara+WKI+di+Uniting+Church,+diskusi+dengan+Amang+Siahaan+dan+A.+Hutabarat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-1789033423585716837</id><published>2009-04-06T22:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T23:14:26.155-07:00</updated><title type='text'>Bangso Batak di Swiss</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/Sdrto3f_DrI/AAAAAAAAAG8/O3FmuX7Qe-8/s1600-h/foto+dari+rantau_4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/Sdrto3f_DrI/AAAAAAAAAG8/O3FmuX7Qe-8/s320/foto+dari+rantau_4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321827196040318642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks dan foto Alfonco Sinaga *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangso Batak adalah sebuah bangsa yang sudah mendunia. Mereka tidak cukup hanya pergi ke luar merantau dari Bona Pasogit lalu menyebar ke penjuru Nusantara. Mereka juga menjelajahi seluruh penjuru dunia. Pepatah mengatakan “ dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung, “ nampaknya merupakan salah satu modal yang tertanam di benak masing-masing dari mereka sebelum melangkah jauh sampai ke ujung dunia, jauh meninggalkan Bona Pasogit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eropa merupakan tanah yang banyak dijadikan mimpi oleh orang Batak. Tak terkecuali Swiss, yang dikenal sebagai salah satu negeri paling aman di dunia, karena kenetralannya. Banyak orang-orang dari seluruh penjuru dunia menyimpan uang di bank-bank Swiss karena alasan keamanan (security). Itulah salah satu contoh betapa aman dan nyamannya negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swiss adalah sebuah negera konfederasi yang berasaskan demokrasi, beribukotakan Bern, dipimpin seorang presiden yang setiap tahun berganti. Negeri ini merdeka sejak 1 Agustus 1291. Dia adalah negeri daratan, tak punya laut, luas wilayahnya sekitar setengah dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Penduduknya kurang lebih 7,6 juta atau sedikit lebih banyak dari populasi orang Batak yang mencapai sekitar 7 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara yang punya puluhan danau ini, sangat membanggakan. Pegunungan Alpen yang terbentang megah di perbatasan dengan Italia. Salju abadi (gletsier) menjadi daya tarik wisata mancanegara yang merupakan salah satu andalan perekonomian negeri ini. Bahasa Jerman, Perancis, Italia serta Romansch adalah bahasa resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah,di Swiss ada dua ratusan jiwa orang Batak. Bagaimanapun orang Batak di rantau, mestilah pintar membawa diri dan beradaptasi, bila tidak maka penolakan akan sendirinya datang dari penduduk setempat. Cara hidup dan kebiasaan sehari-hari tentu harus mengikuti peraturan dan budaya setempat. Begitulah komunitas orang Batak di Swiss dapat tetap eksis dan malah dari waktu ke waktu semakin bertambah. Mayoritas orang Batak di Swiss adalah berkat perkawinan campur. Kebanyakan adalah sang istri yang orang Batak, namun beberapa ada juga sang suami yang menikah dengan orang Swiss. Sementara suami-istri yang terdiri dari orang Batak sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, yang namanya orang Batak, tidak pernah lupa akan budaya aslinya, yaitu senang berkumpul dan senang menari serta bernyanyi. Sekalipun sudah puluhan tahun di negeri orang, budaya orang Batak itu tidak bisa lekang, malah semakin ada kepeduliaan akan keinginan bahwa orang Batak haruslah tetap menjaga prinsip “ dalihan natolu “ yang salah satunya adalah manat mardongan sahuta. Ada anggapan bahwa setiap orang Batak yang berdomisili di Swiss adalah dongan sahuta, sehingga dirasa perlu untuk saling bertegur sapa dan berkumpul dalam sebuah acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tema Piknik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Orang Batak di Swiss tidak punya kumpulan seperti punguan marga atau parsahutaon di kota-kota besar di Indonesia. Namun demikian, berkat kepemimpinan yang dituakan seperti pak M.Napitupulu/N br.Simanjuntak, yang sudah lebih dari 33 tahun tinggal di Swiss, maka seluruh orang Batak di negeri ini sangatlah terjaga keharmonisan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah menjadi tradisi orang Batak di Swiss, bahwa ada dua kegiatan rutin tiap tahun, yang dilakukan dalam rangka memupuk rasa kekeluargaan serta tidak mengesampingkan nilai sukacita yang dihadirkan dari kedua kegiatan rutin tahunan tersebut. Kegiatan pertama dinamakan Piknik Batak,biasanya mengambil waktu pada setiapbulan Juni, bertempat di daerah Zurich. Kegiatan ini lebih menekankan pada tema pikinik, yang melibatkan seluruh keluarga, mulai dari anak-anak sampai orangtua. Piknik diadakan biasanya di tepi pantai danau Zurich. Acaranya dikemas dari pagi sampai malam. Maklum pada musim panas matahari masih bersinar terang sampai pukul 10 malam. Maka tak terasa kalau sudah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kegiatan kedua adalah pesta Batak. Biasanya dilakukan setiap September, masih suasana musim panas. Acaranya hampir sama dengan Piknik Batak. Bedanya Pesta Batak tuan rumahnya bergiliran secara suka rela. Bernyanyi, menari, manortor, makan siang bersama, sajian makanan khas Batak, markombur dan sebagainya, sudah merupakan cirri dan tradisi kedua acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah kominitas orang Batak menikmati hidupnya di negeri orang, di Swiss.Disamping mereka dapat terus mempertahankan eksistensi, mereka juga tidak pernah lupa akan tradisi yang turun-temurun, sebagaimana yang tetap dipelihara oleh seluruh Bangso Batak di seluruh penjuru dunia ini. Horas Bangso Batak di seluruh dunia !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* penulis menetap di Swiss, bekerja sebagai manajer di perusahaan peralatan listrik&lt;br /&gt;* tulisan ini telah dimuat sebelumnya di majalah Tapian edisi April 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-1789033423585716837?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/1789033423585716837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=1789033423585716837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/1789033423585716837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/1789033423585716837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2009/04/bangso-batak-di-swiss.html' title='Bangso Batak di Swiss'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/Sdrto3f_DrI/AAAAAAAAAG8/O3FmuX7Qe-8/s72-c/foto+dari+rantau_4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-1093709221327282327</id><published>2009-04-06T00:55:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T01:10:58.052-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legenda'/><title type='text'>Kutukan Nenek,Muncullah Lau Kawar di Karo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/Sdm3e4jd12I/AAAAAAAAAG0/3hUZj67ozeE/s1600-h/ilustrasi+Legenda+-+lau+kawar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/Sdm3e4jd12I/AAAAAAAAAG0/3hUZj67ozeE/s320/ilustrasi+Legenda+-+lau+kawar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321486175920052066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didongengkan kembali oleh : Sahala Napitupulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tanah Karo pada zaman dahulu kala. Tersebutlah sebuah kampung yang  subur dan permai, desa Kawar namanya. Di desa itu terdapat sebuah mata air yang dimanfaatkan penduduk sebagai sumber air minum. Penduduknya hidup dari bertani. Dan jika mereka habis panen, biasanya akan digelar Gondang Guro-Guro Aron, musik khas masyarakat Karo. Dalam acara itu penduduk akan bersuka cita, berdendang dan manortor. Remaja lelaki dan perempuan akan manortor berpasang-pasangan. Begitulah cara penduduk Kawar mengadakan selamatan atas panen yang mereka nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu, Desa Kawar mengalami panen raya. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Hasil panen meningkat dua kali lipat. Lumbung-lumbung  penduduk penuh semua dengan padi. Bahkan banyak warga harus membuat lumbung-lumbung baru, supaya dapat memuat hasil panen yang melimpah. Untuk mensyukuri atas panen raya ini, warga desa Kawar telah bersepakat untuk mengadakan pesta “ Mejuah-juah “ satu hari penuh, diisi dengan upacara adat dan makan besar secara bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pesta itu pun tiba. Desa Kawar tampak semarak. Pagi-pagi warga telah datang ke tempat pesta digelar. Di sebuah lapangan terbuka, disitulah mereka berkumpul. Mereka memakai pakaian aneka warna nan indah. Sebagian kaum perempuan tampak sibuk memasak. Memasak berbagai macam masakan untuk disantap bersama dalam upacara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah rumah didekat mata air itu, tinggallah seorang nenek tua renta. Dia menderita sakit, lumpuh. Ia baru saja melepas kepergian anak, menantu dan cucunya untuk hadir dalam upacara itu. Ia terbaring dalam kesendiriannya. Rasa sepi menyergapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat berlalu. Kemudian, sayup-sayup ia mulai mendengar suara Gondang Guro-guro Aron telah ditabuh. Angin juga membawa suara derai tawa gembira  ke telinganya. Ia menebarkan pandangannya ke luar melalui jendela kamarnya. Ia tersenyum tiap kali mendengar keriuhan pesta itu. Dan teringatlah ia ketika dahulu masih remaja. Lelaki dan perempuan manortor berpasangan-pasangan dan ia ada diantara mereka.  Banyak pemuda berlomba ingin berlama-lama manortor dengannya. Maklum, dahulu ia tidak hanya pandai manortor. Ia juga terkenal sebagai kembang desa Kawar. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Beberapa saat berlalu. Suara keriuhan pesta makin terdengar jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Ya, Tuhan, betapa aku ingin berada di pesta itu. Aku ingin manortor sepuas hatiku. Tapi, usia tua dan kelumpuhan ini membuatku tak berdaya, “ jeritnya dalam hati. Beberapa saat kemudian airmatanya pun turun berderai.  Airmata kerinduan, kesepian dan penyesalan akan nasib. Kadang ia merasa seperti orang tak berguna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya makan siang. Musik Gondang dihentikan sementara. Semua warga desa Kawar berkumpul untuk menyantap hidangan makan siang yang telah tersedia. Dengan lahap mereka menyantapnya. Panggang babi dan gulai sapi tersaji bersama nasi yang masih mengepul. Semua bergembira. Sesekali terdengar tawa riuh mereka karena ada saja yang membuat lelucon. Kegembiraan itu menyebabkan mereka lupa pada sang nenek yang terbaring dirumahnya dalam keadaan kelaparan. Anak, menantu dan cucunya mjuga lupa padanya. Waktu terus berlalu. Sejak tadi si nenek telah mengharapkan kiriman nasi dan lauknya, yang akan dibawa oleh cucunya si Tongat. Tapi, tunggu punya tunggu, tak ada seorang pun yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit perutnya makin melilit karena didera kelaparan yang sangat. Ia tak kuat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, ia mencoba turun dari ranjangnya. Tapi, ia kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh. Ia tersungkur kelantai tanah, karena tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Ia mencoba merangkak. Perlahan dan tertatih ia merangkak menuju ke dapur untuk melihat kalau-kalau ada yang bisa ia makan. Tapi tak ada apa-apa. Rupanya, anak dan menantunya hari itu sengaja tidak memasak. Pikir mereka, ditempat pesta akan tersedia banyak makanan, sehingga nanti  mereka tinggal mengambilnya dan mengirimkan makanan  itu melalui cucunya si Tongat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa saat kemudian. Tubuh si nenek tampak gemetar menahan kelaparan. Di dapur ia tak mendapatkan apa-apa. Ia sangat kecewa. Dengan beringsut dan tertatih-tatih ia kembali ke pembaringannya. Nafasnya tersenggal menahan rasa kecewa dan kemarahan. Ia merasa seperti disia-siakan. Kemudian airmatanya berderai meratapi nasibnya dan penderitaannya.&lt;br /&gt; “ Oh Tuhan, aku sudah tak kuat menahan rasa lapar ini, “ tangisnya sembilu “ Mereka sungguh tega membiarkan aku menderita seperti ini, “ ujanya seperti berbisk mengungkapkan rasa kecewanya.&lt;br /&gt;Sementara itu, pesta makan sore dalam upacara itu baru saja usai. Sang anak tiba-tiba teringat pada ibunya di rumah. Ia segera menghampiri istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Istriku, apakah kamu tadi sudah mengantar makanan untuk ibu ? “ tanyanya lekas.&lt;br /&gt; “  Belum, suamiku, “ jawab sang istri.&lt;br /&gt;“ Ibu sudah pasti kelaparan. Segeralah kau bungkus makanannya, lalu suruhlah si Tongat, anak kita, untuk menghantarkannya ke rumah, “ perintyah sang suami.&lt;br /&gt; “ Baiklah,  “  jawab sang istri. Wanita itupun bersegera membungkus makanannya, lalu memanggil anaknya. “ Tongat, antarkan makanan ini kepada nenekmu di rumah, “ perintahnya pada sang anak.&lt;br /&gt; “ Baik, bu, “ jawab Tongat sambil menerima bungkusan makanan. Ia pun berlari membawa makanan itu pulang.  Beberapa saat berlalu. Sesampainya di rumah, Tongat segera menyerahkan bungkusan itu kepada neneknya.&lt;br /&gt;  “ Ini makanannya, Nek. Tapi nenek makanlah sendiri karena Tongat harus kembali ke tempat upacara, “ ujarnya bergegas kembali. Dengan sisa tenaga yang ada padanya, sang nenek membuka bungkusan makanan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah membayangkan akan menikmati makanan yang lezat. Namun, ketika bungkuan tersebut dia buka, betapa dia kecewa, karena mendapati isinya hanyalah sisa-sisa makanan. Beberapa tulang sapi dan kambing yang hampir sudah habis dagingnya, dan sedikit sisa nasi. Itulah yang dia dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seperti tak percaya apa yang dia lihat. “ Ya, Tuhan, apa mereka sudah menganggapku seperti binatang ? Mereka hanya memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang. Mereka sekarang telah terang-terangan menghinaku. Sungguh, tak dapat kumaafkan penghinaan mereka, “ tangis si nenek meledak dalam kemarahan yang sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, bungkusan tersebut berisi lauk daging yang masih utuh, termasuk didalamnya babi panggang satu porsi dan nasi yang cukup untuk si nenek. Tetapi, ditengah jalan, si Tongat telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada si nenek mengetahui kejadian yan sebenarnya. Ia mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu padanya. Dengan perlakuan seperti itu, hatinya terasa hancur. Air matanya terus-menerus mengalir menyesali keadaan yang telah terjadi. Maka ia pun kemudian berdoa kepada penguasa alam untuk mengutuk anak dan menantunya itu.&lt;br /&gt; “ Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Sekarang aku menyumpahi mereka, “ ujarnya memohon kepada penguasa alam semesta. Beberepa saat berlalu. Tiba-tiba langit tampak mendung. Guntur dan kilat tampak bertalu-talu memecah langit. Bersamaan turunnya hujan lebat, desa Kawar digoncang oleh gempa bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh penduduk yang tadi sangat bersuka cita, seketika menjadi panik. Wajah-wajah ketakutan tampak dimana-mana. Jerit tangis terdengar dimana-mana. Namun, mereka tak bisa menghindar dari keganasan alam yang dahsyat itu. Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tenggelam oleh karena hujan deras yang tiada henti selama berhari-hari. Beberapa hari kemudian, desa itu telah beruba menjadi sebuah kawah besar yang dipenuhi genangan air. Demikianlah oleh masyarakat Karo, kawah itu diberi nama Lau Kawar. Danau yang terletak sekitar 80 km dari Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;* ceria ini juga telah dimuat di majalah TAPIAN, edisi April 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-1093709221327282327?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/1093709221327282327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=1093709221327282327' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/1093709221327282327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/1093709221327282327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2009/04/kutukan-nenekmuncullah-lau-kawar-di.html' title='Kutukan Nenek,Muncullah Lau Kawar di Karo'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/Sdm3e4jd12I/AAAAAAAAAG0/3hUZj67ozeE/s72-c/ilustrasi+Legenda+-+lau+kawar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-6477706591966254141</id><published>2009-03-01T22:34:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T23:02:22.053-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legenda'/><title type='text'>Tuak dari Ratapan si Beru Sibou</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SauA86kCInI/AAAAAAAAAGs/bvI5r3kaKJQ/s1600-h/tuak,legenda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SauA86kCInI/AAAAAAAAAGs/bvI5r3kaKJQ/s320/tuak,legenda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308478369787159154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didongengkan kembali oleh Sahala Napitupulu'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuak berasal dari pohon enau. Pohon itu sering juga disebut si Bagot. Dalam bahasa Indonesia dia dikenal sebagai pohon sementara mereka yang berbahasa Inggris menyebutnya sugar palm. Tuak bagi orang Batak sama kedudukan sosial dan budayanya dengan sake bagi orang Jepang. Atau barangkali mirip jamu bagi orang Jawa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuak didorguk atau ditenggak bukan saja di lapo-lapo. Sejak dahulu kala dia sudah menjadi bagian dari budaya Batak. Pada upacara manuan ompu-ompu, misalnya, tuak sering digunakan untuk menyiram beberapa jenis tanaman yang ditanam di atas tambak atau kuburan orangtua yang meninggalkan cucu. Bersama siraman tuak itu teriring harapan keturunan almarhum berumur panjang dan hidup makmur. Sementara dalam upacara manulangi, yaitu memberi makan kepada ompung atau orang tua, tuak juga tak ketinggalan ikut disajikan.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Dalam banyak hal, tuak bisa memberi orang kegembiraan. Lihat saja di lapo-lapo, orang-orang Batak berlisoi-lisoi dengan manorguk tuak. Mereka bernyanyi. Mereka tertawa. Tetapi, di balik kegembiraan itu ada air mata. Menurut legenda, tuak itu berasal dari air mata, tangisan dan ratapan seorang wanita. Nama wanita itu si Beru Sibou. Dialah yang menjelma menjadi pohon enau. Beginilah ceritanya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Dahulu kala di sebuah desa, di belahan Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami istri dengan dua orang anak mereka yang masih kecil. Yang pertama, anak lelaki bernama  si Tare Iluh, sedangkan yang kedua, anak perempuan, bernama si Beru Sibou. Keluarga ini berbahagia pada mulanya. Tapi, tak berlangsung lama. Suatu hari, begitulah konon, oleh karena serangan penyakit, sang suami meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian disusul pula oleh sang istri. Sehingga si Tare dan si Beru, pada saat masih kecil harus kehilangan kedua orangtuanya. Beruntung, mereka punya bibi yang baik hati. Dialah sebagai orangtua pengganti dan merawat mereka dengan kasih sayang.&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu. Si Tare kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda, sedangkan si Beru Sibou tumbuh menjadi seorang gadis. Sebagai seorang pemuda yang sudah berpikiran dewasa, si Tare tak ingin selamanya menjadi beban bagi bibinya. Karenanya, ia ingin pergi merantau. Dia harus mencari uang. Ia ingin mengubah nasib mereka menjadi lebih baik. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Demikianlah, dalam suatu kesempatan, niat itu pun ia sampaikan pada adiknya, si Beru, orang yang paling ia sayangi.&lt;br /&gt; “Begini Adikku. Abang kan sekarang sudah dewasa. Abang ingin mencari uang yang banyak, sehingga bibi tidak usah lagi bekerja keras mencari nafkah untuk kita. Karena itu, Abang akan segera pergi merantau,” kata si Tare pada adiknya. Mendengar itu si Beru tampak sangat terkejut. Lama dia terdiam. Ditatapnya abangnya berlama-lama, seperti tak percaya pada apa yang telah dia dengar.  &lt;br /&gt; “Tapi, bagaimana dengan Bibi, bagaimana dengan saya?” tanya sang adik dengan gundah. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa takut kehilangan abangnya, si Tare Iluh, yang selama ini menjaganya dengan penuh kasih sayang. Dialah saudara satu-satunya.&lt;br /&gt; “Adik harus tinggal untuk menemani bibi. Nanti, kalau Abang sudah berhasil mendapat uang yang banyak, Abang pasti akan segera kembali,” kata si Tare membujuk. Si Beru masih tampak keberatan.&lt;br /&gt; “Percayalah Adikku, Abang pasti akan kembali kepadamu. Bibi pun sudah merestui kepergian Abang. Tinggal restumu Adikku yang Abang tunggu,’ ujarnya lagi. Si Beru terpaku. Lama sekali. Akhirnya, dengan perasaan berat hati dia pun menganggukkan kepala.&lt;br /&gt; “Baiklah, jika bibi sudah merestui, Adik pun tak bisa menahan Abang. Adik akan merestu kepergian Abang. Namun, Abang jangan lupa kembali bila telah berhasil, secepatnya,” jawab si Beru yang kelihatan berusaha menahan perasaan sesak di dadanya. Tapi, tak tahan, tangisnya pun pecah. Si Tare lalu merangkulnya. Mereka bertangis-tangisan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah, keesokan harinya si Tare Iluh terlihat berjalan keluar dari desanya saat matahari baru terbit. Tujuannya: merantau ke negeri orang. Dia berjalan penuh semangat untuk mencari uang yang banyak. Sementara sepeninggal abangnya, si Beru Sibou tampak dirundung kesedihan dan kerinduan. Semakin hari kesedihan dan kerinduannya semakin mendalam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nanti punya nanti, rindu punya rindu, sudah beberapa tahun tak ada juga kabar berita mengenai abangnya. Ia tak tahu apa yang terjadi. Namun, dia punya firasat buruk. Sesungguhnya yang terjadi pada si Tare Iluh adalah sesuatu yang tak pernah dimimpikan sang adik. Di perantauan, dia bukannya mencari pekerjaan yang baik. Dia malah mencari tempat perjudian. Dia beranggapan dengan menang judi dia akan dapat uang banyak, tanpa harus bekerja keras. Maka berjudilah dia. Dan pertama kali dia mempertaruhkan nasib, dia memang menang. Ia senang. Dan ia beranggapan akan terus bisa menang. Ternyata, ia terus-menerus mengalami kekalahan. Uang yang sudah sempat terkumpul akhirnya habis. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena berharap bisa menang kembali dalam perjudian, dia pun meminjam uang kepada penduduk setempat untuk dipertaruhkannya di meja judi. Apa daya, dia kalah. Dia meminjam uang lebih besar lagi. Berjudi lagi. Dan kalah lagi. Tak terasa utangnya sudah sedemikian besar dan dia tak dapat membayarnya. Akibatnya, penduduk setempat marah. Mereka memasungnya. Dia ditawan dan diperlakukan seperti binatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu hari, kabar buruk yang menimpa kakaknya itu terdengar juga oleh si Beru Sibou dan bibinya. Mereka sangat terpukul mendengarnya. Berita itu juga yang membuat bibinya jatuh sakit. Semakin hari semakin parah. Dan, beberapa minggu kemudian bibinya meninggal. Si Beru Sibou meratapi nasibnya yang malang. Kini, dia hanya sebatang kara. Lalu diputuskannyalah pergi untuk mencari si Tare Iluh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan bekal secukupnya, dia pun berangkat mencari abangnya, sekalipun dia tak tahu di negeri mana sang abang berada.  Berhari-hari dia berjalan kaki, keluar masuk hutan belantara, melewati lembah dan menyeberangi sungai. Sampai suatu ketika dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang kakek tua. Dia menyapa, memperkenalkan diri, dan menguraikan masalahnya, serta bertanya: ”Kek, apakah Kakek pernah bertemu dengan bang saya?”&lt;br /&gt; “Siapa nama abangmu,” sahut si Kakek bersimpati.&lt;br /&gt; “Tare, si Tare Iluh, Kek.” &lt;br /&gt;“Oh, sepertinya Kakek pernah mendengar nama itu. Kalau tak salah, dia adalah pemuda yang gemar berjudi dan sekarang sedang dipasung penduduk setempat,” jawab si Kakek dengan nada prihatin.&lt;br /&gt;“Ya, begitulah kabar yang saya dengar, Kek. Tapi, apakah Kakek tahu di negeri mana dia?” si Beru menimpali. &lt;br /&gt;“Sungguh Kakek tidak tahu. Tapi, kalau boleh, Kakek ingin menyarankan sesuatu.”&lt;br /&gt;“ Apa saran Kakek itu?” tanya si Beru penuh minat.&lt;br /&gt; “Panjatlah sebatang pohon yang tinggi, naiklah sampai di puncaknya. Kemudian bersenandunglah sambil memanggil-manggil nama abangmu. Barangkali penduduk negeri itu, atau abangmu, akan mendengarnya. Angin akan membawa suaramu kepada mereka,” kata sang Kakek sebelum dia berlalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa berlama-lama, si Beru segera mencari pohon yang paling tinggi. Dia memanjatnya hingga ke puncaknya. Di situ, si Beru segera bernyanyi, bersenandung memanggil nama Tare Iluh sambil menangis. Dia juga memohon supaya penduduk negeri yang memasung abangnya agar sudi membebaskannya. Sudah berjam-jam dia bersenandung dan menangis di puncak pohon itu, namun tak seorang pun mendengarnya. Si Beru terus bersenandung dan meratap sampai suaranya parau. Dia bernyanyi sampai kehabisan tenaga dan putus asa. Akhirnya, dia lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada penguasa jagad raya.&lt;br /&gt; “Ini aku si Beru Sibou bersedia melunasi semua hutang abangku. Aku merelakan air mataku. Aku merelakan tubuhku ini untuk dimanfaatkan penduduk yang memasung abangku. Akulah ganti untuk kebebasannya,” ucap si Beru dengan syahdu, bersunguh-sungguh. &lt;br /&gt; Tak lama setelah permohonannya itu dia ucapkan, datanglah angin bertiup kencang. Langit segera mendung. Halilintar berpindar dan menggelegar. Sesaat kemudian, tubuh si Beru Sibou menjelma menjadi sebatang pohon enau. Air matanya yang terus mengalir itu lalu menjadi tuak. Minuman yang memberi penduduk negeri itu kegembiraan, terutama ketika mereka meminumnya sambil bersenandung. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentang nasib si Tare Iluh, di dalam legenda dikisahkan, setelah dibebaskan oleh penduduk negeri itu, dia mencoba mengetuk nasib yang lain, merantau ke lain negeri. ***&lt;br /&gt;                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* cerita ini juga telah dimuat di majalah TAPIAN, edisi Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-6477706591966254141?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/6477706591966254141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=6477706591966254141' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/6477706591966254141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/6477706591966254141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2009/03/blog-post.html' title='Tuak dari Ratapan si Beru Sibou'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SauA86kCInI/AAAAAAAAAGs/bvI5r3kaKJQ/s72-c/tuak,legenda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-8844177915850003180</id><published>2009-02-10T00:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T20:49:47.209-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legenda'/><title type='text'>Dari Tuba Jadilah Danau Toba</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SZE1SFjtb2I/AAAAAAAAAF0/6q-1gMytPDg/s1600-h/view+of+danau+toba.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301076821237657442" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 137px; height: 103px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SZE1SFjtb2I/AAAAAAAAAF0/6q-1gMytPDg/s320/view+of+danau+toba.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Didongengkan kembali oleh&lt;/span&gt; : &lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Sahala Napitupulu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman na robi, tersebutlah dalam turi-turian orang-orang tua Batak kisah tentang terjadinya Danau Toba. Adalah seorang dewi cantik yang tinggal di banua ginjang (dunia atas) yang melanggar adat para dewa, sehingga dia mendapat hukuman dari Mula Jadi Na Bolon, sang penciptanya. Mula Jadi Na Bolon mengubah dewi yang cantik itu menjadi seekor ikan, dan melemparkannya ke banua tonga (dunia tengah) tempat tinggalnya manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di bagian utara Sumatera, hiduplah seorang pemuda. Mata pencahariannya bertani dan mendurung ikan. Dia kesepian. Kedua orangtuanya telah lama meninggal. Tubuhnya kekar. Wajah tampan. Tetapi, ditengah kesepiannya yang teramat dalam, dia sering memanjatkan doa memohon supaya Mula Jadi Na Bolon memberinya seorang istri sebagai pendamping hidupnya. Mula Jadi Na Bolon kasihan mendengarkan doanya. Suatu malam, dalam mimpinya dia mendapat isyarat dari Mula Jadi Na Bolon bahwa dia akan mendapatkan seorang istri yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sudah berhari-hari mimpinya itu berlalu. Seperti biasa, sang pemuda pun pergi mendurung ikan. Namun, aneh, hari itu, dari pagi hingga sore, tak seekor ikan pun berhasil dia dapatkan. Dia bersiap-siap untuk pulang. Tiba-tiba matanya melihat seekor ikan besar berwarna kuning keemasan melntas di air sungai. Segera dia turun kembali ke dalam air dan menangkap ikan tersebut dengan jalanya. Ikan itu segera dia bawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumahnya, sang pemuda berlama-lama menatap ikan tersebut. Hatinya dilanda kebimbangan. Dia ingin memasak ikan itu sebagai lauknya malam itu karena dia sudah sangat lapar. Tapi, karena warna ikan itu sangat indah dipandang mata, maka ia merasa tak sampai hati untuk memasaknya. Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengurungkan niat untuk memasak ikan tersebut dean memasukkannya kedalam wadah besar untuk dipelihara. Dia pun berangkat tidur dengan menahan rasa lapar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari, dalam pesona keindahan saat matahari baru terbit, dia sudah berada di ladangnya. Dia menanam padi dan menyiram sayur-sayuran. Maka, seperti biasa, apabila tengah hari, dia pun pulang ke rumah untuk makan siang. Setiba di rumah, betapa dia terkejut, karena makanan lengkap dengan lauknya sudah tersedia. Dia melihat kesekeliling, tapi seorang pun tak. Dia melongok ke dalam wadah. Ikan itu pun masih berada dalam tempatnya. Dia tak habis pikir. Dan dalam sekejap saja makanan tadi habis dilahanya karena lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah berulang-ulang terjadi setiap hari. Manakala dia pulang tengah hari dari ladangnya, makanan telah tersedia. Tetapi, siapakah gerangan yang telah memasak makanan itu ? Dia tak pernah tahu. Didorong oleh rasa penasaran, suatu pagi sang pemuda pun keluar dari rumah. Dia berjalan seolah-olah seperti biasa menuju ke ladang. Namun, ditengah jalan, dia berbelok kembali ke rumah dan bersembunyi di balik rimbun pohon. Dari situ dia dapat melihat keadaan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lama sang pemuda mengamati, namun tak ada satu pun tanda-tanda ada orang didalam rumahnya. Dia terus menunggu dan mengamati. Dia mulai didera rasa bosan. Beberapa lama kemudian, tiba-tba tampak asap mengepul keluar dari dapur rumahnya. Dia cepat-cepat keluar dari persembunyiannya. Dia melangkah memasuki rumah. Tapi, dia hampir tak percaya melihat didalam rumahnya ada seorang wanita cantik.&lt;br /&gt;       “ Siapakah kamu sesungguhnya. Dan apa yang sedang kamu lakukan ? “ katanya setelah menangkap wanita tersebut. Wanita itu terkejut tapi diam seribu bahasa. Sang pemuda melihat kedalam wadah tapi ikannya tak ada disitu.&lt;br /&gt;       “ Kamu apakan ikan saya ? Mana ikan yang ada dalam wadah ini ? “ tanyanya. Beberapa saat, dia melihat wanita itu mulai menangis. Sang pemuda semakin heran.&lt;br /&gt;       “ Sayalah ikan itu, “ jawab wanita itu kemudian. Lalu, dia menceritakan asal-usulnya dan kutukan yang dia terima karena melangar adat para dewa di banua ginjang. Sang pemuda terdiam. Kini, dia mengerti bahwa ikan itu menjadi wanita cantik karena sudah terbebas dari kutukan.&lt;br /&gt;      “ Sekarang, maukah kamu menjadi istriku ? “ tanyanya beberapa saat kemudian. Wanita itu tetap diam membisu.&lt;br /&gt;      “ Mengapa engkau diam ? Jadilah engkau istriku, “ desak si pemuda lagi.&lt;br /&gt;      “ Baiklah jika itu kehendakmu. Tetapi, dengan satu syarat,” pintanya.&lt;br /&gt;      “ Apakah syarat yang engkau pinta ? “&lt;br /&gt;     “ Kelak, jika kita sudah memliki anak, maka jangan sekalipun engkau pernah berkata kepada anak kita bahwa dia berasal dari ikan “ ujarnya kepada sang pemuda. Pemuda itupun bersumpah akan memegang janjinya. Mereka pun menikah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun rumah tangga mereka tampak bahagia. Terlebih-lebih setelah mereka memiliki seorang bocah lelaki. Namun, sayangnya, anak ini semakin besar semakin menunjukkan kenakalan. Kerjanya banyak bermain dan pulang ke rumah ketika perutnya sudah lapar. Kedua orangtuanya sering menasehati, tetapi tak pernah dia perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu hari, demikian menurut turi-turian dalam homepage nainggolan.net, ibunya menyuruh anak itu mengantarkan makanan untuk ayahnya di ladang. Tapi, apa yang dilakukannya ? Anak ini menyembunyikan makanan tadi dan pergi bermain bersama teman-temannya. Puas bermain, anak ini pun merasa lapar. Dia mengambil makanan yang dia sembunyikan tadi. Dan melahap nasi bungkus untuk ayahnya itu. Setelah itu baru dia pergi ke ladang dan menyerahkan bungkusan kosong kepada ayahnya. Ketika sang ayah membuka bungkusan titipan istrinya itu, betapa dia terkejut karena hanya menemukan tulang ikan di dalam bungkusan.&lt;br /&gt;        “ Anakku, mengapa hanya tulang ikan isi bungkusan ini ? “&lt;br /&gt;        “ Tadi habis bermain bersama kawan-kawan, perutku terasa lapar Among (bapak), jadi aku memakannya, “ jawabnya ringan. Mendengar ucapan anaknya itu, emosi sang ayah mendidih. Dari pagi dia merasa lapar sehabis kerja keras mengolah ladang. Dan siang ini dia hanya mendapat tulang ikan saja. Maka, dengan nada marah, sang ayah pun berkata kepada anaknya “ Betulah kamu memang anak ikan ?!” bentaknya keras terhadap anaknya itu. Sang anak terkejut dan menangis. Segera dia berlari pulang ke rumah menemui ibunya.&lt;br /&gt;       “ Inong (ibu), tadi kata among bahwa aku ini anak ikan, betulkah ? “ tanyanya terisak. Ibunya terkejut. Sekejap air matanya pun mengalir menyesali perbuatan suaminya.&lt;br /&gt;       “ Suamiku, engkau telah melanggar sumpahmu, “ katanya sedih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seketika langit menjadi gelap. Petir dan angin gemuruh menderu-deru. Hujan dan badai pun sambar menyambar. Sang ibu dan anak itu tiba-tiba raib. Tapi, dari bekas telapak kaki mereka kemudian muncul mata air. Airnya keluar dengan sangat keras dan lama kelamaan membentuk sebuah danau. Pada mulanya, orang menyebutnya Danau Tuba (artinya danau tak tahu berbelas kasih). Tetapi, karena lidah orang Batak susah menyebut Tuba, maka Tuba berubah menjadi Toba. Dan, jadilah Danau Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cerita legenda ini telah dimuat sebelumnya di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi Juli 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-8844177915850003180?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/8844177915850003180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=8844177915850003180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8844177915850003180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8844177915850003180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2009/02/dari-tuba-jadilah-danau-toba.html' title='Dari Tuba Jadilah Danau Toba'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SZE1SFjtb2I/AAAAAAAAAF0/6q-1gMytPDg/s72-c/view+of+danau+toba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-7430827566186012012</id><published>2008-12-17T17:05:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T17:23:30.797-08:00</updated><title type='text'>Viky Sianipar, Pemuja Batak setengah mati !</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmksq3gaNI/AAAAAAAAAFs/y9G7TVRFil4/s1600-h/vicky+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280933125396916434" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 246px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmksq3gaNI/AAAAAAAAAFs/y9G7TVRFil4/s320/vicky+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmjaxpZ-II/AAAAAAAAAFk/2swTWnOm_0w/s1600-h/vicky+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280931718467549314" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 178px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmjaxpZ-II/AAAAAAAAAFk/2swTWnOm_0w/s320/vicky+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;By Sahala Napitupulu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkenalkan, namaku Viky Sianipar. Ya, Sianipar ! Aku memang Batak. Tak terbayangkan sepuluh tahun yang lampau yang punya nama begitu percaya diri untuk memperkenalkan diri seperti itu. Dan dengan bangga pula menyebutkan marganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Viky lahir dan dibesarkan di perkampungan orang Betawi. Didalam gang sempit dengan rumah kecil-kecil dan saling berdempetan di wilayah Manggarai, Jakarta. Bahasa pengantar sehari-hari yang berlaku di rumahnya adalah bahasa Indonesia. Ibunya orang Sunda, tetapi pandai sekali marhata Batak dalam bahasa Batak. Ayah dan ibunya berbahasa Batak kalau ada hal yang ingin mereka rahasiakan, tak ingin diketahui anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Karena keterbatasan dana orangtua pada waktu itu, aku disekolahkan di satu sekolah dasar dekat rumah, yang mayoritas murid-muridnya penduduk sekitar. Tidak ada orang Bataknya sama sekali, “ kata Viky. Teman-temannya sering mengejek Viky kecil sebagai orang Batak dengan konotasi negatif. Awalnya dia cuek saja. Tapi, lama-lama dia jengkel juga, namun tak tahu harus berbuat apa. Sementara pengetahuannya tentang Batak amat terbatas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Yang kutahu tentang Batak cuma pesta Bona Taon yang lama dan membosankan. Cara bicara saudara-saudara dari tanah Batak yang keras dan kasar. Pesta adat perkawinan yang penataan makanannya jorok, membuatku mual setiap kali menghadirinya. Jadi apa yang dapat kubanggakan dari Batak untuk bikin teman-temanku iri ? “ tanya musikus muda itu, dan dia jawab sendiri, “ Enggak ada..!”  Karena itu, dia sempat membenci takdirnya terlahir sebagai Batak, sehingga masa itu dia sengaja tidak mau mencantumkan marga Sianipar dibelakang namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Viky sejak kecil telah bersentuhan dengan dunia musik. Dia mulai belajar musik klasik tahun 1982 di Yayasan Pendidikan Musik, yang terletak sekitar satu kilo dari rumahnya. Malang, oleh guru-gurunya dia dianggap tidak becus dan kemudian harus drop out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, baginya belajar musik klasik sangat membosankan. Dia tergila-gila dengan The Beatles, kelompok dari Inggris yang menggoyang dengan musik-musik pop yang merebut hati anak-anak muda di seluruh dunia. Sudah tak cocok dengan musik klasik, Viky juga tidak kepingin mendengar lagu-lagu Indonesia. Apalagi musik nenek moyangnya, Batak. Dia penggemar fanatik The Beatles, yang lain seakan tiada. “ Kayaknya haram dengar musik yang lain kecuali The Beatles, “ katanya mengenang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Enggak tahu kenapa, aku enggak senang lagu Indonesia. Buat aku kampungan, gitu lho. Apalagi lagu-lagu Batak. Makanya, artis-artis Indonesia tahun 90-an ke belakang banyak yang tidak aku kenal, “ sambungnya pula. Selain The Beatles, dia juga kesengsem pada kelompok musik Queen, Police, Duran Duran, David Foster, Toto hingga Genesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Mencari Roh yang Hilang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan formalnya dia tempuh di SD Budi Asih tahun 1988. Melanjut ke SMP St.Theresia, selesai tahun 1991. Lulus Sekolah Menengah Atas St.Theresia tahun 1995, setelah satu kali tinggal kelas. Setelah lulus sekolah menengah atas, Viky masih malu mengaku Batak. Pernah dia mengeker seorang cewek, tapi begitu tahu cewek itu boru Batak, dia pasang kuda-kuda. Langsung mundur. Viky adalah anak Batak yang sedang terlepas dari akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan waktu, sebagai seorang pengusaha, orangtuanya sukses. Kesempatan pun terbuka buat Viky untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Dia studi bahasa Inggris di Berkeley, sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Sambil belajar bahasa, dia kursus memetik gitar elektrik pada George Cole, salah seorang murid terpenting Joe Satriani, gitaris tersohor Amerika keturunan Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik balik jalan hidup Viky jatuh di tahun 2001. Dari seorang pembenci dia berbalik menjadi pemuja setengah mati. Ceritanya, waktu itu MS Production perusahaan rekaman milik ayahnya, dimana Viky duduk sebagai musik director-nya, menggelar konser musik “ Save Lake Toba “, bekerja sama dengan Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba. Konsep konser ini menyuguhkan lagu-lagu Batak yang bisa merangkul kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, kecintaannya terhadap Batak mulai tumbuh, meski dia merasa belum menemukan “ roh “ kebatakannya. Baru pada bulan Mei 2007, Viky merasa “ dilahirkan kembali sebagai putera Batak “ ketika dia berkunjung ke Sianjur Mula-Mula dan naik ke Pusuk Buhit, mendaki bukit sakral itu seperti mau mencari roh yang hilang. Di dalam legenda, Pusuk Buhit dilukiskan sebagai singgasana si Raja Batak diturunkan dari langit oleh Ompu Mula Jadi na Bolon ( Allah Pencipta Alam Semesta ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanann ziarah ke Pusuk Buhit itu agaknya dirasakannya sentimental, namun benar-benar merubah Viky dalam melihat Batak dan budayanya. Dia menjadi sangat “ bangga terlahir sebagai orang Batak. “ Dengan teguh dia katakana : “ Ternyata Batak itu merupakan salah satu suku bangsa yang mempunyai peradaban paling tinggi di dunia. Kekayaan peradaban itu bisa kita lihat dari seni budayanya. Bangsa yang memiliki peradaban tinggi tidak hanya memikirkan soal perut saja, tapi juga seni, filosofi dan ilmu-ilmu lainnya. Dan itulah Batak ! “ katanya meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Agama Masalah Pribadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Batak, katanya, orang bisa menyaksikan seni ukir gorga, seni ulos. Dan jangan lupa, Batak mempunyai aksara sendiri. “ Tetapi, yang luar biasa lagi buat saya adalah sistem kekerabatan Dalihan na Tolu. Nenek moyang kita dahulu sudah bisa membuat rumusan bagaimana harus bersikap dari yang satu kepada yang lain dengan mengacu pada Dalihan na Tolu, “ Viky menguraikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunjukkan kebijakannya, Viky mengemukakan bahwa orang Batak dalam lingkup modernisasi seharusnya tidak kehilangan  jati diri. Namun, kenyataan, katanya, banyak orang Batak tercerabut dari akar budaya. Dan sebagian yang lain keliru menafsirkan modernisasi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Mereka menganggap modernisasi itu adalah westernisasi. Itu yang pertama. Yang kedua, mereka melihat budaya Batak itu hanya sebatas pesta adat. Dalihan na Tolu itu seakan-akan hanya berlaku disitu, di mana letak Hula-Hula, Boru dan dongan Tubu baru terlihat disitu. Sehingga banyak anak muda sekarang tidak tertarik untuk belajar budaya Batak, karena yang dinformasikan kepada mereka budaya Batak itu ya sebatas itu saja, “ katanya menyayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Viky, penyumbang terbesar sehingga terjadinya degradasi budaya Batak adalah masuknya agama Kristen maupun Islam. Bukan masuknya para misionaris ke tanah Batak yang menjadi soal, tetapi penerapan agama itu yang terlalu berlebihan, sehingga banyak budaya Batak yang harus hilang, terperangkap ke dalam dogma-dogma agama tersebut. Viky memberi contoh bentuk bangunan gereja yang semua harus sama dengan yang ada di Barat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;     “ Tidak boleh ada gorga, pengiring ibadah harus organ, tidak boleh ada taganing, tidak boleh ada sarune dan lain-lain. Kontributor kedua terbesar bagi degradasi budaya Batak adalah imbas budaya Barat. Saya lebih setuju kalau soal beragama itu sebagai masalah pribadi dan tidak disangkut pautkan dengan budaya lokal, “ katanya coba memberikan pandangan yang terdengar agak filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Viky Sianipar, yang lahir 26 Juli 1976, menikah dengah Deasy Puspitasari tahun 2004. Pernikahan itu menganugerahinya Metasha Inspira Sianipar, 3 ½ tahun dan Mattheuw Putra Sianipar, 2 ½ tahun. Yang berbahagia bukan hanya mereka berdua, tetapi juga ompung kedua anak mereka yang manis itu ; Monang Sianipar dan Elly Rosalina Kusuma boru Harianja. Juga ketiga saudara Viky ; Sahat Sianipar, Bismark Sianipar dan tria sianipar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah budaya Batak, &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi Juli 2008.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-7430827566186012012?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/7430827566186012012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=7430827566186012012' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/7430827566186012012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/7430827566186012012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/viky-sianipar-pemuja-batak-setengah.html' title='Viky Sianipar, Pemuja Batak setengah mati !'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmksq3gaNI/AAAAAAAAAFs/y9G7TVRFil4/s72-c/vicky+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-3078729446219534544</id><published>2008-12-17T15:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T15:27:34.395-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selebritis'/><title type='text'>Tamara Geraldine Bicara Ulos Batak</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmJIBfJ8PI/AAAAAAAAAFc/ZSU_j4KYU0s/s1600-h/tamara+geraldin.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280902808999686386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 290px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmJIBfJ8PI/AAAAAAAAAFc/ZSU_j4KYU0s/s320/tamara+geraldin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;By Sahala Napitupulu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal menarik keluar dari celotehnya ketika diajak bicara tentang ulos Batak, meskipun kadang dengan gaya yang disampaikannya lewat canda. Itulah Tamara Geraldine, salah satu selebritis Batak kelahiran Jakarta, anak kedua dari pasangan ayah L.M.Tambunan dan ibu Y.boru Sibarani. Wajah cantik dengan senyumannya yang manis dahulu kerap kita temui di beberapa acara stasiun televisi swasta sebagai presenter. Seperti dalam acara sepakbola Liga Calcio di RCTI dan kuis hiburan Go Show di TPI, selain banyak menjadi model dan bintang iklan. Belakangan dia membuat kejutan sebagai penulis dengan menerbitkan kumpulan cerita pendeknya dalam judul lumayan panjang, “ Kamu Sadar Saya Punya Alasan Untuk Selingkuh kan Sayang “ dan buku keduanya tentang biografi penyanyi Yuni Sahara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemui di rumahnya dalam sebuah wawancara dengan Tapian (20/10), Tamara bertutur tentang seleranya terhadap ulos Batak. “ Saya enggak suka ulos yang terlalu colourfull, yang manik-maniknya terlalu banyak seperti jenis ulos Sadum. Saya suka dengan warna ulos yang redup karena mudah dikombinasikan. Menurut ompung saya, warna budaya Batak ini hanya ada tiga, yaitu merah, hitam dan putih. Saya suka ulos dengan tiga unsur warna itu saja paling dominan. Kalau sudah ada warna ungu dan segala macam warna, saya malas memajangnya, “ ujar Tamara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di rumahnya dia memajang sejumlah ulos Batak, terutama ulos-ulos yang punya nilai historis dalam hidupnya. Diantara koleksinya ada ulos yang sudah berusia seratus tahun lebih yang dia dapat dari warisan ompungnya. Dia menata ruang rumahnya dengan keseimbangan antara unsue Oriental dan unsur Batak sehubungan dengan suaminya sendiri berasal dari Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tien Thinh Pham, pengusaha asal Vietnam yang telah mempersuntingnya 7 tahun silam, oleh keluarga Tamara telah dirajaon bermarga Nainggolan Parhusip. Perkawinan antar suku bangsa ini oleh keluarga Tamara tidaklah terlalu bermasalah sejauh mereka mau diadati dengan adat Batak Toba.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Kalau kalian enggak diadatin, kalau suaminya enggak ada marganya, nanti kalau kalian diundang di pesta-pesta adat, kalian akan bingung mau duduk dimana, di paranak atau di parboru, “ujar Tamara menjelaskan alasan tuntutan keluarganya. Menurut Tamara, suaminya tidaklah terlalu sulit beradaptasi dengan adat budaya Batak, karena di negeri suaminya di Vietnam pun mengenal konsep Dalihan na Tolu seperti di Batak. Boleh jadi benar, karena memang ada teori mengatakan orang Sumatera Utara, khususnya orang Batak, cikal bakalnya datang dari Phunam dan Phunam itu dari Indocina. Dengan dirajaon menjadi Nainggolan Parhusip, kata Tamara lagi, suaminya jadi merasa punya keluarga besar disini terutama karena pertalian Dalihan na Tolu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Cuma suamiku bilang orang Batak ini agak aneh. Orang Batak kalau bicara di pesta-pesta adat maupun acara penghiburan selalu dibuka dengan kata Jadi dan ditutup dengan kata Botima. Selalu begitu, diawali dengan kata Jadi lalu ditutup dengan Botima. Ada apa dengan 2 kata itu ? “ cerita Tamara tentang pengamatan suaminya terhadap gaya bicara orang Batak. Dia dan suami, sejauh waktu memungkinkan, kerap juga menghadiri undangan pesta-pesta Batak, bahkan pernah mangulosi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Tapi itu dia, pernah ketika kami mau memberi ulos kepada mempelai, saya manortor, suami saya malah tari cha-cha, “ kata Tamara sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya pengalaman paling emosional yang pernah dia alami berhubungan dengan  ulos, Tamara menyebut tiga peristiwa. “ Pertama, pada saat menikah, saya dan suami diulosi. Kedua, pada saat anak saya Tjazkayaa Loedwigee Poetry tardidi, kami sekeluarga diulosi. Dan ketiga, pada waktu ompung meninggal, tradisinya kami harus rebutan ulos ompung, “ katanya sambil mengingat-ingat kembali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Hanya saya enggak yakin, apa itu karena ulosnya atau karena momentnya, “ ujarnya menambahkan. Bagi Tamara, ulos Batak itu hanya sebuah identitas etnik saja. Identitas dari mana dia berasal. Tidak lebih. Karena itu dia tidak pernah memberhalakan. Hal ini menyinggung adanya sebagian sikap orang Batak yang sangat mengkultuskan ulos pemberian hula-hula, orangtua, ompung atau tulang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Ompung dan orangtuaku memang paradat, tapi waktu mangulosi kami, mereka selalu bilang ulos ini hanya simbol saja. Tapi tetap kalian berjalan supaya diiringi Tuhan Yesus. Jadi jangan lihat ini sebagai benda yang mengikat atas kuasa yang lain, selain kasih Tuhan itu sendiri, “ kata Tamara menjelaskan sikap yang ditanamkan keluarganya dalam memandang ulos. Karena itu dia tidak pernah mau beli ulos yang dikerjakan dengan perhitungan hari-hari tertentu sehingga terkesan mistik dan berhala. Dia pun tak pernah berburu ulos secara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan Tapian tentang filosofi ulos baginya, Tamara merujuk apa yang pernah dia dengar. “ Ompung memetaforkan ulos itu sebagai selimut. Arti selimut, dia bisa kasih kehangatan kalau kita dingin, dia bisa menaungi kita dari hujan. Itu yang aku tahu, “ ujarnya. Dia mengakui tidak banyak mempelajari tentang sejarah dan filosofi ulos. Namun dimatanya ada keunikan orang Batak dalam memakai ulos. Misalnya ketika orang pergi ke tempat duka cita, ulos yang dikenakan berbeda dan berbeda lagi ketika mereka pergi ke tempat pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Tamara juga melihat ‘ keanehan’ para wanita Batak dalam berbusana ke pesta adat perkawinan. “ Lihat saja, dimana-mana pesta perkawinan para wanita Batak justru kebanyakan pake kebaya dan Songket Palembang. Datangnya ke pesta adat Batak tapi pakenya Songket Palembang, “ ujar Tamara menyayangkan. Menurut Tamara hal ini disebabkan belum ada perancang busana Batak yang dianggap betul-betul serius dan berhasil dalam menangani ulos sebagai produk fashion. Tamara kemudian membandingkannya dengan kain Batik Jawa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “ Lihat Batik Jawa. Batik bisa dijadikan baju sehari-hari tapi juga bisa tampil glamour, tentu karena ada perancang busana yang serius mengerjakannya, “ ujar Tamara mengkritisi kalahnya pamor ulos dalam mode dan produk fashion. Demikian Tamara berbagi pandangannya kepada Tapian.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; * Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah budaya Batak, &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi perdana November 2007. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-3078729446219534544?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/3078729446219534544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=3078729446219534544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/3078729446219534544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/3078729446219534544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/tamara-geraldine-bicara-ulos-batak.html' title='Tamara Geraldine Bicara Ulos Batak'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUmJIBfJ8PI/AAAAAAAAAFc/ZSU_j4KYU0s/s72-c/tamara+geraldin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-5410132692054702041</id><published>2008-12-11T19:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T20:47:55.228-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legenda'/><title type='text'>Kolam Sampuraga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUHko0LKttI/AAAAAAAAAFU/E4ZOg1ABOI4/s1600-h/ilustrasi+sampuraga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUHko0LKttI/AAAAAAAAAFU/E4ZOg1ABOI4/s320/ilustrasi+sampuraga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278751628106315474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Didongengkan kembali oleh : &lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Sahala Napitupulu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;      Dahulu kala di daerah&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Padang Bolak&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tapanuli Selatan&lt;/span&gt;, hiduplah seorang janda tua dan miskin bersama anak satu-satunya bernama &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Sampuraga&lt;/span&gt;. Dia pemuda rupawan, pekerja keras dan jujur. Pekerjaannya setiap hari menggarap sawah orang lain dan mencari kayu bakar di hutan. Namun, dia punya impian. Ia seringkali membayangkan dirinya sebagai pemuda yang kaya dan kelak punya istri yang cantik. Dia ingin mengubah hidupnya, menata masa depan dengan kehidupan yang cerah bahagia. Hari-hari berlalu dan impiannya itu semakin merasuk kedalam jiwanya. Sampuraga ingin segera menikmati mimpinya itu sebagai satu kenyataan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Demikianlah, pada suatu kesempatan di siang hari, Sampuraga bersama majikannya tengah beristirahat dibawah sebuah pohon rindang. Sang majikan senang dengan pekerjaan Sampuraga. Dia pun sudah menganggap Sampuraga seperti keponakannya, sementara Sampuraga pun memanggilnya &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Paman&lt;/span&gt;. Mereka baru selesai menuai padi. Panen telah selesai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Sampuraga, “ ujar sang Paman padanya ketika mereka sedang makan siang. “ Saya lihat usiamu masih muda dan perjalanan hidupmu masih panjang. Demi masa depanmu, sebaiknya kamu pergi merantau. Keluarlah dari kampung ini, “ katanya seraya menatap Sampuraga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Kemana saya akan pergi, Paman ? “ sahut Sampuraga bersemangat. Matanya berbinar. Keinginan itu telah lama ia pendam, sesungguhnya. Diam sejenak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Pergilah ke sebuah negeri bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mandailng&lt;/span&gt;. Itu adalah negeri yang sangat subur dan penduduknya hidup makmur. Di situ orang sangat mudah mendapat uang, karena tanahnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;memiliki kandungan emas&lt;/span&gt;. Penduduk Mandailing hidup makmur dengan cara mendulang emas di sungai, “ jelas sang Paman kemudian. Mata Sampuraga semakin berbinar-binar. Apa yang baru saja dia dengar semakin melambungkan impiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Saya sudah lama bercita-cita untuk merantau,Paman. Sudah lama ingin mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;ibu&lt;/span&gt;, suatu hari nanti, “ jawab Sampuraga sungguh-sunguh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Sungguh cita-citamu mulia. Kamu ingin berbakti pada ibumu, ingin membahagiaan ibumu, Allah pasti meluruskan jalanmu, “ puji sang Paman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Malam itu bulan purnama menghias langit. Di sebuah gubuk tua dan reyot, tampak Sampuraga bersama ibunya tengah berbincang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Bu, Sampuraga ingin merantau ke Mandailing untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, “ kata Sampuraga mengutarakan niatnya pada sang Ibu. Orangtua itu terperanjat mendengar. Tapi, hanya sesaat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Kemanakah gerangan anakku akan pergi merantau ? “ sambung sang Ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Ke negeri Mandailing, Bu. Paman lah yang memberi tahu Sampuraga, negeri Mandailing itu sangat makmur, “ jelas Sampuraga kepada Ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Baiklah, anakku. Pergilah. Meskipun ibu sangat khawatir karena usia Ibumu yang sudah semakin renta. Ibu khawatir kalau Ibu nanti tidak bisa melihatmu lagi. Tapi, Ibu tak bisa melarangmu, karena itu demi masa depanmu. Maafkan Ibu, karena selama ini Ibu tak pernah membahagiakan hidupmu, anakku, “ kata Ibunya dengan suara lirih. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; keharuan teramat dalam diantara keduanya, meski tak terkatakan. Lalu, keduanya berangkulan dengan penuh kasih sayang beriring derail air mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Terimakasih, Bu. Sampuraga berjanji, jika sudah berhasil dan Sampuraga menjadi kaya, saya akan menjemput Ibu. Doakanlah Sampuraga, Bu, “ ujarnya dalam pelukan sang Ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Pasti, anakku. Pasti Ibu akan doakan supaya Allah memberkati niatmu, “ jawab sang Ibu perlahan. Setelah mendapat restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan bekal perjalanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Saat itu matahari pagi bersinar cerah. Kicau burung dari pohon-pohon terdengar riuh. Sampuraga telah meninggalkan Padang Bolak. Ibunya melepaskan kepergian Sampuraga dengan tetesan air mata diantara doa-doanya kepada Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Setelah beberapa hari perjalanan, Sampuraga tiba di kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia terpesona melihat negeri itu. Penduduk disitu ramah-ramah. Mereka masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah, beratapkan ijuk. Sebuah istana tampak berdiri megah di tengah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Semua itu menandakan Mandailing memang sebuah negeri yang makmur dan sejahtera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Sampuraga segera melamar pekerjaan. Ia diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya raya. Sampuraga selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia pun jujur dalam hal keuangan. Sudah berkali-kali sang majikan menguji kejujurannya, dan terbukti ia memang pemuda yang bisa dpercaya. Karena itulah, pada suatu hari, majikannya memberinya modal untuk membuka usaha sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Hari-hari selanjutnya, Sampuraga mulai mandiri dalam mengelola usaha dagangnya. Dan Tuhan tidak mengabaikan doa-doa yang dipanjatkan oleh Ibunya dari Padang Bolak. Tuhan memberkahi usahanya. Sehingga dalam waktu yang singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang dia peroleh, tidaklah ia habiskan, melainkan ia tambahkan untuk modal usahanya. Sehingga dagangan Sampuraga kian berkembang. Namanya pun mulai dikenal sebagai pengusaha muda yang kaya raya. Sang majikan sangat senang dengan keberhasilan Sampuraga. Tidak hanya itu. Ia berkeinginan untuk menikahkan Sampuraga denga putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Sampuraga, engkau memang pemuda yang jujur. Dan sekarang engkau telah menjadi pemuda yang kaya raya karena usahamu sangat berkembang. Maukah engkau menjadi menantuku ? “ tanya sang majikan dalam sebuah percakapan dari hati ke hati. Sampuraga tentu tak menampik, karena ia pun telah lama jatuh hati pada putri majikannya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Dengan rasa hormatku, hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu. Sebab sesungguhnya hamba pun telah lama menaruh hati padanya, “ sambut Sampuraga dengan hati berbunga-bunga. Mereka kemudian saling diam. Beberapa saat saling memandang. Saling tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Lalu pernikahan akan dilaksanakan sesuai dengan rencana. Dilangsungkan selama tujuh hari. Pesta digelar secara besar-besaran sejalan dengan adat Mandailing. Puluhan ekor kerbau dan kambing akan disembelih untuk jamuan makan. Gordang Sambilan akan ditabuh selama hari pesta untuk menghibur para undangan dan mengajak mereka manortor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Berita tentang rencana pernikahan Sampuraga yang meriah itu tersiar juga ke Padang Bolak. Ibu Sampuraga, perempuan tua renta itu, hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar. Mengapa Sampuraga tak datang kepadanya dan memberi kabar ? Sudah lupakah ia pada Ibunya ? Wanita tua itu terpana dalam kesendirianya. Airmatanya berderai. Ia menangis karena kerinduannya melihat Sampuraga telah lama ia pendam. Ia rindu untuk bertemu dengan Sampuraga. Ia ingin melihat wajah anaknya, yang tiap malam ia bayangkan dalam doa-doanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Setelah mempersiapkan perbekalan, esok harinya berangkatlah sang Ibu ke negeri Mandailing untuk menyaksikan pernikahan Sampuraga dengan berjalan kaki. Dengan beban kerinduan yang teramat sangat, ia menyusuri hutan-hutan Tapanuli Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Beberapa hari kemudian, ia tiba di kerajaan Pidoli. Tampak kemeriahan tengah berlangsung. Gordang Sambilan ditabuh bertalu-talu. Di pelaminan tampak Sampuraga bersanding dengan putri yang cantik jelita. Semua bersuka cita. Tapi, tidak jauh dari situ, seorang perempuan tua terus menatapnya. Ia ingin memastikan. Dan kini ia percaya, bahwa yang duduk di pelaminan itu adalah Sampuraga, anak kandungnya. Oleh rasa rindunya yang sangat mendalam, perempuan tua itu segera berteriak memanggil nama anaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Sampuraga, anakku, “ dia berseru. Semua menoleh kepada sumber suara itu. Sampuraga terkejut. Undangan terperanjat. Sampuraga mengenal suara itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Tidak mungkin itu suara Ibuku, “ katanya dalam hati. Perempuan itu bergegas mendekatinya. Ia ingin memeluknya. Tapi, Sampuraga menahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Siapa engkau perempuan tua ? “ Tanya Sampuraga dengan wajah memerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Aku Ibumu, Sampuraga. Peluklah Ibumu ini, nak. Ibu sudah sangat rindu padamu, “ perempuan tua itu mengulurkan tangannya sekali lagi untuk memeluk Sampuraga. Wajah Sampuraga merah membara. Ia akan sangat malu pada para undangan yang hadir jika mereka tahu Sampuraga punya Ibu yang demikian buruk dan tua renta. Karena itu ia menolaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Tidak. Kamu bukan Ibuku. Ibuku telah lama mati dan wajah Ibuku pun tidak seperti kamu jeleknya, “ ketus Sampuraga menampik. Tidak hanya itu. Sampuraga kemudian memanggil penjaga keamanan pesta dan menyuruh mereka supaya mengusir perempuan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;“ Sampuraga, anakku. Kenapa engkau melupakan Ibumu ? Akulah yang melahirkanmu, “ ujar sang Ibu dengan derai air mata. Betapa ia kecewa, karena Sampuraga, anaknya, telah menolaknya. Bahkan mengusirnya. Semua undangan yang menyaksikan ikut terharu. Namun, tak seorangpun berani menengahi, karena tak seorang pun bisa memastikan kebenaran pengakuan perempuan tua itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Ibu yang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;malang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kemudian diseret keluar meninggalkan tempat pesta itu. Dengan derai air mata dan luka hati yang menganga, sang Ibu kemudian berdoa. “ Ya, Tuhan, jika benar dia adalah anakku Sampuraga, berilah ia kutukan, karena ia telah mengingkari Ibu kandungnya sendiri. Tapi, jika ia bukan Sampuraga, anakku, maka selamatlah ia, “ doanya kepada Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;Tak lama, langit tiba-tiba gelap. Petir menggelegar. Lalu hujan deras tertumpah. Seluruh yang hadir dalam pesta berhamburan, berlari menyelamatkan diri. Sedangkan tempat pesta itu kemudian tenggelam, berubah menjadi &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;kolam air panas&lt;/span&gt;. Kolam penanda pendurhakaan itu kemudian bernama Sampuraga. Hingga hari ini, kolam itu menjadi salah satu tempat pariwisata di daerah Mandailing, Tapanuli Selatan. Agaknya, dia juga menjadi tempat merenung untuk tidak mengulang tabiat buruk si Sampuraga, tempat memuja kemuliaan bagi semua perempuan yang menjadi Ibu kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;* Tulisa ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;; color: rgb(21, 34, 43);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-5410132692054702041?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/5410132692054702041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=5410132692054702041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/5410132692054702041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/5410132692054702041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/kolam-sampuraga.html' title='Kolam Sampuraga'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUHko0LKttI/AAAAAAAAAFU/E4ZOg1ABOI4/s72-c/ilustrasi+sampuraga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-6335472394894546931</id><published>2008-12-11T15:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T16:42:24.210-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legenda'/><title type='text'>Si Gale-Gale, Pelipur Lara Siapa Saja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUGro9MUa_I/AAAAAAAAAFM/SI71mSss1Xs/s1600-h/ilustrasi+sigale-gale.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 234px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUGro9MUa_I/AAAAAAAAAFM/SI71mSss1Xs/s320/ilustrasi+sigale-gale.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278688958364281842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Didongengkan kembali oleh &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;: Sahala Napitupulu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pada zaman dahulu kala, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;daerah Uluan&lt;/span&gt; di tanah Batak dipimpin oleh &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;raja Rahat&lt;/span&gt;. Istrinya telah lama tiada. Dia raja bijaksana dan mempunyai seorang putra satu-satunya, bernama &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Manggale&lt;/span&gt;. Rakyat yang dipimpinnya hidup dengan tentram dan makmur. Sedangkan Manggale, selaku putra mahkota, dihormati karena ketangkasannya dalam berperang. Menjunjung tinggi kebenaran dan mencintai rakyat Uluan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Namun, suatu hari terdengar kabar bahwa dihutan perbatasan Uluan telah berkumpul pasukan dari seberang. Mereka hendak menyerang dan menjarah harta kekayaan Uluan. Rakyat tampak gelisah menunggu apa yang akan terjadi. Menunggu apa yang akan diputuskan oleh raja mereka. Segera sang raja mengumpulkan penasehatnya, para tua-tua kampung, para datu, termasuk Manggale sebagai panglima perang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;“ Pasukan musuh telah masuk ke wilayah Uluan. Rakyat sudah gelisah. Rakyat Uluan menunggu keputusan saya. Berikanlah nasehat kalian, “ tutur raja setelah menjelaskan keadaan yang tengah terjadi. Mereka saling memandang. Wajah mereka diliputi ketegangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;“ Apa pendapatmu &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;datu Mangatas&lt;/span&gt; ? “ Tanya sang raja kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sang datu diam sesaat. Ia penaseha tertua dan pertimbangannya sangat didengarkan oleh raja. Ia berpikir keras. Setelah menghela nafas panjang, sang datu menjawab. “ Musuh yang akan kita hadapi sudah terkenal tangkas dalam berperang, tangkas dalam berkuda dan ganas dalam menghunus pedang. Tapi jangan takut, karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pasukan Uluan yang dipimpin Manggale akan menang melawan mereka, “ ujar datu Mangatas dengan suara berwibawa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Raja Rahat melayangkan pandangan kepada tua-tua kampung. Tak ada bantahan. Kemudian raja menatap putranya, Manggale. Sang putra pun tampak setuju dengan pendapat sang datu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Baiklah. Dengan ini saya raja Rahat, raja Uluan menyatakan akan mengirimkan pasukan kita untuk segera berangkat melawan musuh di hutan perbatasan. Anakku Manggale akan memimpin pasukan Uluan. Kiranya berkat &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Debata Mulajadi Nabolon&lt;/span&gt; menyertai engkau dan pasukanmu, anakku, “ kata sang raja memutuskan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Enam bulan sudah berlalu. Manggale dan pasukannya masih dihutan perbatasan berperang menghadapi pasukan musuh. Raja Rahat dan rakyat Uluan menungggu-nunggu. Tak ada yang berani masuk hutan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hari-hari dilalui sang raja dengan gelisah. Tapi, malam sebelumnya ia punya mimpi buruk. Ia melihat seekor burung yang sedang terbang tiba-tiba jatuh ke halaman rumahnya terkena panah seorang pemburu. Adakah ini sebuah isyarat dari Debata Mulajadi Nabolon ?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanya sang raja memikirkan arti mimpinya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sore itu langit kelam. Raja Rahat sedang merindukan kedatangan Manggale, putranya. Tak tahan hatinya dilanda rasa rindu pada putranya itu. Tapi, tak ada kabar berita tentang keadaan sebenarnya. Apakah pasukan Uluan menang atau kalah, tak ada kepastian beritanya. Sedangkah mimpi terpanahnya seekor burung, ia tafsirkan sebagai pertanda buruk. Mungkin anakku Manggale telah tewas di hutan, pikir raja mengenai nasib putranya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sejak datangnya mimpi itu, sang raja jadi tampak termenung berlama-lama. Ia lebih suka mengurung diri di kamarnya berhari-hari. Kadang sang raja tak menyentuh makanan dan minuman. Bahkan sering tak membasuh muka atau mandi untuk menyegarkan tubuh. Rakyat Uluan cemas kalau-kalau sang raja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jatuh sakit.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sore itu langit Uluan berkabut gelap. Tua-tua kampung dengan datu Mangatas telah bersepakat untuk melihat keadaan raja mereka. Sesaat setelah mereka masuk kedalam rumah raja, betapa hati mereka bersedih. Sang raja mereka temukan dalam keadaan terbaring mengenaskan. Ia tak bisa berbicara. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya kurus dan ringkih. Tatapan matanya kosong.&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sang datu menjamah tubuh sang raja. Memeriksanya sedemikian rupa. “ Tak ada penyakit padanya. Raja kita sakit karena memikirkan Manggale, “ ujarnya. Lalu ia mengajak mereka semua keluar dari kamar sang raja untuk merundingkan cara pengobatannya. Mereka pun berunding, memikirkan bagaimana supaya raja bisa sembuh. Menghadirkan Manggale kepada sang raja, rasanya tak mungkin.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mereka tak tahu dimana sekarang Manggale dan pasukannya. Mungkin masih hidup, mungkin juga tidak. Masing-masing sibuk dengan jalan pikiran bagaimana menolong sang raja yang mereka cintai itu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Datu Mangatas beberapa saat kemudian memberi isyarat untuk bicara. Dia menemukan ide untuk mengobati rasa rindu raja pada anaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Kita akan membuat patung yang menyerupai Manggale. Dengan melihat patung Manggale, semoga kerinduan hati raja kita akan terobati, “ ujarnya menawarkan idenya itu. Semua terdiam. Semua larut memikirkan tentang ide membuat patung Manggale. Akhirnya mereka setuju.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Tapi siapa yang aka mengerjakan patungnya dan dimana akan dikerjakan ? “ tanya seorang tetua yang dipanggil &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;ompung Binsar&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Saya tahu di kampung Lumbanjulu Nihuta ada orang yang pintar membuat patung manusia. Dialah yang aka mengerjakan patung Manggale. Dan nanti, bila patung itu telah selesai, supaya tampak hidup kita aka mengundang roh Manggale untuk masuk kedalam patung itu, “ tanggap datu Mangatas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Bangaimana caranya supaya roh Manggale mau datang ? “ Tanya ompung Binsar.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Tiup Sordam dan tabuh Gondang Sabangunan. Saya akan manortor untuk memanggil roh Manggale, “ jawab sang datu. Perundingan mereka pun rampung.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tiga bulan kemudian. Sesuai dengan petunjuk datu Mangatas, upacara memanggil roh Manggale dilakukan saat bulan purnama.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam itu bulan purnama tampak seperti tersaput kabut magis. Asap dupa bertebaran disekeliling tempat upacara. Penduduk telah berkumpul. Patung Manggale ditaruh ditengah halaman. Ukuran dan tinggi patung itu tampak sama persis dengan Manggale. Mereka duduk melingkari patung Manggale. Semua hening. Mereka sedang menunggu kedatangan raja untuk masuk bersama sang datu yang akan memimpin upacara. Tak lama kemudian raja pun tiba di lokasi. Demi melihat patung Mangggale, raja segera menangis. Lama ia menatap patung itu seperti tak percaya pada penglihatannnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Manggale, anakku..” desahnya lirih, nyaris tak terdengar. Semua terharu. Beberapa saat berlalu. Datu Mangatas kemudian memberikan isyarat kepada pargonci supaya musik gondang segera ditabuh.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mula-mula dimulai dengan tiupan Sordam. Menyusul tabuhan gondang. Sang datu mengambil tali tiga warna : merah, putih dan hitam. Mengikatkannya dikepalanya. Lalu mengenakan ulosnya. Dia masuk ketengah lingkaran. Merapal mantra memanggil roh Manggale. Dan sesaat kemudian ia pun manortor mengkuti tabuhan gondang. Semua mata menatap padanya dengan saksama. Sambil terus manortor, dia mengitari patung Manggale tujuh putaran. Dan, tiba-tiba patung itu mulai bergerak. Tidak hanya bergerak, tetapi manortor. Patung itu manortor bersama sang datu. Kemudian raja dijemput oleh sang datu dan Manggale untuk ikut manortor. Raja bangkit berdiri. Dan ia pun ikut manortor.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pargonci terus menabuh gondang bersama peniup sordam. Rakyat Uluan, demi melihat raja telah manortor bersama patung Manggale, pun ikut bangkit berdiri. Lalu mereka manortor bersama. Mereka bergembira. Semua manortor bersama patung Mannggale hingga fajar menyingsing. Namun, “ pesta “ itu harus berhenti. Karena begitulah perjanjiannya, sebelum ayam hutan berkokok, roh Manggale harus dikembalikan ke alamnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sesaat kemudian ayam hutan memang terdengar berkokok. Roh Manggale lantas terbang meninggalkan mereka. Dan patung dirinya itu pun tak dapat lagi bergerak. Rakyat Uluan lalu menyimpan kembali patung Manggale. Demikianlah raja Rahat sejenak terhibur. Dia telah bertemu dengan “ putra”nya Manggale. Sejak itu, apabila sang raja merindukan anaknya, maka upacara pemanggilan roh Manggale dilakukan kembali. Zaman silih berganti dan patung itu kemudian disebut Si Gale-gale.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekarang yang bisa memanggilnya tidak mesti seorang raja. Siapa saja yang berkunjung ke Tomok, di Samosir, boleh mampir ke patung Si Gale-gale dan memberikan saweran kepada penjaga patung itu. Dan manortorlah si patung.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;*&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi November 2008.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-6335472394894546931?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/6335472394894546931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=6335472394894546931' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/6335472394894546931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/6335472394894546931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/si-gale-gale-pelipur-lara-siapa-saja.html' title='Si Gale-Gale, Pelipur Lara Siapa Saja'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SUGro9MUa_I/AAAAAAAAAFM/SI71mSss1Xs/s72-c/ilustrasi+sigale-gale.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-8818445695116727911</id><published>2008-12-08T23:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T23:46:32.733-08:00</updated><title type='text'>Dalihan na Tolu, Dimata Mereka</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/ST4d4nmmLfI/AAAAAAAAAFE/7v1K0C_VWqY/s1600-h/charles.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277688671865548274" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 238px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/ST4d4nmmLfI/AAAAAAAAAFE/7v1K0C_VWqY/s400/charles.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/ST4db0pH_-I/AAAAAAAAAE8/IEoLHFJNG5s/s1600-h/gibson+sihombing.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277688177149607906" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 244px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/ST4db0pH_-I/AAAAAAAAAE8/IEoLHFJNG5s/s400/gibson+sihombing.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;By.Sahala Napitupulu&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kiri : &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Gibson Sihombing&lt;/span&gt;, 40 tahun, Kandidat Doktor ekonomi Universitas Persada Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kanan :&lt;span style="color:#cc0000;"&gt; Charles BonarSirait&lt;/span&gt;, 37 tahun, Pembawa Acara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;_________________&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Majalah budaya Batak,Tapian,  pada edisi September 2008, dalam rubrik Sudut Pandang mengetengahkan tentang dinamika Dalihan na Tolu, khususnya dimata kaum muda Batak di perantauan, dalam judul Ada Perubahan Tapi Esensi Dalihan na Tolu Tak Tergoyahkan. Diantara nara sumber yang ditampilkan Tapian ada Charles Bonar Sirait dan Gibson Sihombing. Dibawah ini petikan komentar mereka.)&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Gibson Sihombing&lt;/span&gt; :  &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;                Dalam tradisi Batak, Dalihan na Tolu merupakan sumber hukum adat yang mengatur kehidupan budaya masyarakat Batak, yaitu somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboro. Falsafah ini dipakai sebagai pedoman dalam kehidupan sosial dan tatanan adat Batak sejak orang lahir sampai meninggal dunia. Pemahaman tentang Dalihan na Tolu saya peroleh tidak hanya melalui bacaan Saya aktif dalam punguan marga, kini saya wakil sekretaris punguan pomparan Op.Mangambittua Nababan se-Jabodetabek. Sehingga saya banyak terlibat dalam menghadiri acara-acara adat Batak.&lt;br /&gt;            Didalam Tungku nan Tiga itu juga ada mengandung azas keadilan. Karena setiap orang Batak dapat menempati posisi sebagai hula-hula, bisa sebagai dongan tubu maupun sebagai boru. Sebuah contoh sederhananya seperti ini. Katakanlah, disebuah pesta adat perkawinan yang saya hadiri pada hari Jumat, kedudukan saya disitu sebagai pihak hula-hula. Tetapi, di hari Sabtu, di pesta adat yang lain saya hadir sebagai pihak dongan tubu. Dan di hari Minggu, dalam pesta yang lain lagi, saya hadir dalam kedudukan sebagai pihak boru. Jadi, tidak ada posisi yang permanen dalam Dalihan na Tolu. Hari ini saya bisa hula-hula, besok bisa sebagai dongan tubu dan lusa sebagai boru.&lt;br /&gt;            Selain itu, Dalihan na Tolu mendorong orang Batak supaya hidup bergotong- royong. Berdasarkan Dalihan na Tolu, tak ada pesta yang tidak dikerjakan secara bergotong royong. Baik pihak hula-hula, dongan tubu maupun boru, punya peran dan tanggung jawab kerja masing-masing. Pihak hula-hula (dan juga tulang) diperlakukan dengan hormat oleh pihak pelaksana adat, mulai dari posisi duduk, cara penyampaian tutur kata sampai pada hidangan makanan dan minuman. Lain lagi pihak parboru. Mereka akan mengambil posisi sebagai “pembantu” yang mengurusi urusan dapur. Sedangkan pihak dongan tubu akan menunjukkan sikap gotong-royong dengan mengumpulkan tumpak(sumbangan) untuk dipergunakan oleh pelaksana pesta adat. Itulah nilai positif yang membuat Dalihan na Tolu bisa eksis hingga kini ditengah gempuran budaya modern.&lt;br /&gt;            Namun, menurut pengamatan saya, dalam pelaksanaannya sekarang, hubungan hula-hula-boru mulai bergeser. Artinya, tidak sesakral pada mulanya. Kini pihak boru tidak lagi menganggap pihak hula-hula sebagai sumber berkat. Seperti pandangan para leluhur kita dahul;u, berkat itu datang melalui perantara hula-hula. Tapi, kini tidak lagi. Hal ini dipengaruhi, terutama, oleh faktor menguatnya pengajaran agama Kristen ditengah masyarakat Batak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Charles Bonar Sirait&lt;/span&gt; :&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;            Walau modernitas telah membawa orang sangat maju (individualistis), namun manusia tetap merupakan mahluk sosial yang memiliki kebutuhan akan berkomunikasi. Dalihan na Tolu pada konteks ini merupakan falsafah yang tepat untuk dapat membuat manusia tetap akrab dan memiliki hubungan batin.&lt;br /&gt;            Dalihan na Tolu ditengah gempuran budaya modern ternyata masih tetap terpelihara. Pesta-pesta adat Batak masih terselenggara oleh halak hita di perantauan. Ditengah gempuran budaya modern, dia tetap bertahan, karena adanya kekuatan nilai didalamnya. Nilai-nilai itu antara lain kekerabatan, hagabeon, hamoraon,uhum dan ugari, pangayoman dan marsisarian.&lt;br /&gt;            Nilai hagabeon itu bermakna harapan panjang umur dan beranak cucu yang banyak. Nilai hamoraon (kehormatan) terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan materi pada diri seseorang. Nilai uhum (hukum) dan ugari (kebiasaan) tercermin dalam penerapan dalam menegakkan keadilan dan kesetiaan pada janji. Nilai pangayoman bermakna perlindungan. Sedang marsisarian artinya saling mengerti, saling membantu.&lt;br /&gt;            Dari semua nilai itu, nilai kekerabatanlah ditempat paling utama. Nilai-nilai luhur dari budaya Batak tidak luntur, walau zaman berubah dengan cepat. Karena ada aspek ketertautan antar manusia yang tidak dapat tergantikan. Memang, sesuai dengan perkembangan zaman, penerapan Dalihan na Tolu dalam pesta-pesta adat sudah perlu disederhanakan,agar waktu lebih efisien. Seperti diketahui, karena soal waktu yang tidak efisien, banyak pasangan muda Batak malas menghadiri pesta-pesta adat Batak.&lt;br /&gt;            Yang penting bagaimana nilai-nilai luhur dari Dalihan na Tolu itu lebih disosialisasikan dan dapat berperan nyata dalam perkembangan mental generasi muda.&lt;br /&gt;            Dalam bahasa Batak hanya anak lelaki yang disebut anak, sedangkan anak perempuan disebut boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya. Dalam adat Batak, sesuai dengan Dalihan na Tolu, marga memegang peran utama. Istilah kekerabatan, seperti dongan sabutuha atau dongan tobu, pihak uhula-hula maupun pihak boru didasarkan pada hubungan marga-marga. Karena itu Dalihan na Tolu itu bisa menembus sekat-sekat agama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-8818445695116727911?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/8818445695116727911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=8818445695116727911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8818445695116727911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8818445695116727911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/dalihan-na-tolu-dimata-mereka.html' title='Dalihan na Tolu, Dimata Mereka'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/ST4d4nmmLfI/AAAAAAAAAFE/7v1K0C_VWqY/s72-c/charles.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-4396699970377302425</id><published>2008-12-04T21:40:00.001-08:00</published><updated>2008-12-04T21:48:08.454-08:00</updated><title type='text'>Melancong Menemui Si Raja Batak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STi_MEQ5DtI/AAAAAAAAAEs/5IoOM73LpCE/s1600-h/simanindo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 143px; height: 95px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STi_MEQ5DtI/AAAAAAAAAEs/5IoOM73LpCE/s400/simanindo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276177177488461522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;By Sahala Napitupulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Berbaur dengan orang-orang yang datang menyaksikan Danau Toba kalau tak menyeberang ke Pulau samosir, rasanya kurang syor. Anda bisa pilih Tuk-Tuk atau Tomok, dua desa paling dekat dengan Parapat yang menjadi pusat pesta. Terletak 1000 meter diatas permukaan laut, pulau Samosir, dengan luas 250.000 ha itu, diperkirakan telah ada sejak ribuan tahun silam, yang muncul sebagai akibat dari letusan supervulcano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah letusan maha dahsyat tersebut terbentuklah kaldera yang luas dan diisi oleh air. Tekanan magma yang tidak menemukan jalan keluar menyebabkan munculnya daratan ditengah kaldera yang sudah tergenang air. Begitulah konon lahirnya pulau Samosir. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penyair, pemusik dan pelukis berulang-ulang coba mengabadikan pesona keindahan Danau Toba dan Samosir, namun tak pernah menyamai kecantikannya yang nyata terhampar di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah mendarat di Samosir, akan terasa keunikan Danau Toba yang mungkin tak ditemukan dibelahan dunia lain. Di Samosir terdapat dua danau kecil, Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang, dan muncullah julukan " danau diatas danau ". Kedua danau cilik itu berada di dua kecamatan yang berbeda. Sidihoni sejauh delapan KM dari Pangururan, sedangkan Aek Natonang dekat dengan Simanindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa singgah ke " Aek Hangat " di kawah Pusuk Buhit, di Kecamatan Sianjur Mula-mula. Air suam-suam kuku disitu dipercaya mujarab untuk mengobati penyakit kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusuk Buhit diyakini sebagai tempat asal-muasal orang Batak. Pusuk Buhit merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian lebih dari 18oo meter dari permukaan Danau Toba. Menurut legenda, si Raja Batak, diturunkan dari langit dan direbahkan di Pusuk Buhit oleh Ompu Mula Jadi Na Bolon (Allah pencipta semesta). Tetapi, ada pula yang mempercayai teori yang mengatakan bahwa si Raja Batak itu berasal dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang datang melalui Semenanjung Malaya dan tiba di Sianjur Mula-mula. Teori yang lain menyebutkan si Raja Batak itu berasal dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, merembes melalui daerah Barus atau Alas Gayo dan sampai di Danau Toba. Entahlah, terserah Anda yang mana yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, sebagai tujuan wisata, Samosir sudah lama dikenal dan dikagumi para turis. Panorama alam, wisata spiritual dan budaya hingga wisata air menunggu Anda dengan tangan terbuka lebar. Untuk mencapai Samosir memang cukup makan waktu. Kalau dari &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt; penerbangan ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Medan&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; memakan waktu dua jam. Dilanjutkan dengan perjalanan darat hampir 200 KM dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Medan&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ke Parapat yang memakan waktu empat jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Membuka Peti Pusaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Parapat ke Samosir, Anda dapat menumpang ferry dari dermaga Ajibata atau Tigaraja. Tuk-Tuk bisa dicapai sekitar 30 menit. Di desa ini, penginapan dan homestay tampak seperti bertengger di tebing Danau. Sedangkan desa Tomok 45 menit jauhnya. Selama pelayaran di air Danau yang tenang tampak perbukitan yang membentang di daratan Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Samosir juga dapat dicapai melalui jalan darat. Lewat Tano Ponggol yang menghubungkan pulau Samosir dan Pulau Sumatera melalui wilayah yang bernama Tele. Sebelum turun ke Pangururan, singgahlah dulu di kecamatan Sianjur Mula-mula. Disitu sedang menunggu Batu Obon dan Aek Sipitu Dai (air dengan tujuh rasa yang berbeda) serta rumah tradisional Batak. Di dalam Batu Obon inilah, kata orang, tersimpan harta pusaka Saribu Raja. Ini tempat memukau juga. Karena hingga kini tak ada yang bisa membuka peti pusaka yang terbuat dari batu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomok adalah konsentrasi turis. Dengan berjalan kaki, berangkatlah ke desa Tuk-tuk Siadong. Disitu terdapat pemakaman raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu zaman pra-sejarah atau sering disebut Sarcophagus. Makam yang terbuat dari batu itu utuh tanpa ada persambungan sama sekali, yang dipahat sebagai tempat untuk meletakkan mayat raja Sidabutar, penguasa Tomok pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perjalanan bisa dilanjutkan menuju ke desa Siallagan. Disini menanti perkampungan orang Batak, dengan kursi-kursi batu tempat persidangan, dan tempat eksekusi bagi yang akan menjalani hukuman mati. Tak pula jauh dari situ desa Simanindo. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; lokasi perkampungan Batak, dimana pengunjung bisa menonton wayang Batak si Gale-gale. Di seberang jalan ada museum yang memajang benda-benda kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kepercayaan tentang manusia Batak pertama yang turun di pucuk bukit dan alam Danau Toba yang mempesona, ada yang mengatakan wisata ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; adalah menikmati perpaduan mistik dan kemolekan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi Juli 2008.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-4396699970377302425?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/4396699970377302425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=4396699970377302425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/4396699970377302425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/4396699970377302425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/melancong-menemui-si-raja-batak_04.html' title='Melancong Menemui Si Raja Batak'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STi_MEQ5DtI/AAAAAAAAAEs/5IoOM73LpCE/s72-c/simanindo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-8991035116461292470</id><published>2008-12-04T18:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T18:54:19.981-08:00</updated><title type='text'>Menikmati Danau Toba Dari Berbagai Tempat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STiUWVND_AI/AAAAAAAAAEQ/ZdLneMwQaKM/s1600-h/danau+toba+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STiUWVND_AI/AAAAAAAAAEQ/ZdLneMwQaKM/s400/danau+toba+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276130074834500610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STiTTRVkZkI/AAAAAAAAAEI/oXvvZZYHHFk/s1600-h/danau+toba+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 113px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STiTTRVkZkI/AAAAAAAAAEI/oXvvZZYHHFk/s320/danau+toba+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276128922745202242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;By Sahala Napitupulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran luas 100kmx 30km dan kedalaman maksimum mencapai 505 meter. Ditengah danau ini terdapat sebuah pulau bernama Samosir. Diperkirakan Danau Toba terjadi akibat letusan gunung berapi sekitar 3000 tahun lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super). &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Bill Rose dan Craig&lt;/span&gt; Chesner dari&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt; Michigan Technological University&lt;/span&gt; memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2800 km3, dengan 800 km3 batuan ignimbrit dan 2000km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke Barat selama 2 minggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setelah letusan tersebut, terbentuklah kaldera yang kemudian terisi oleh air yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Sedangkan tekanan keatas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pulau Samosir&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Karena begitu luas, secara kasat mata Danau Toba ini lebih mirip lautan dibandingkan danau. Danau ini juga merupakan danau terbesar serta terdalam di Asia Tenggara. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Danau Toba Na Uli&lt;/span&gt;. Itulah ungkapan yang sering terdengar dari mulut orang Batak. Artinya Danau Toba nan penuh pesona. Siapapun yang datang kesana akan berdecak kagum menatapnya. Airnya terlihat tenang dan membiru. Dilingkupi udaranya yang segar menambah kenyamanan lokasi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Untuk sampai ke Danau Toba dari &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;Medan&lt;/st1:city&gt;, biasanya orang akan menuju ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Parapat terlebih dulu. Jika menggunakan mobil, waktu tempuh antar kedua &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang jaraknya kurang lebih 185 kilometer ini ialah sekitar 4 jam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Pemandangan Danau Toba dari sisi Parapat rasanya sudah umum diketahui orang. Tetapi keindahan danau ini bisa pula dinikmati dari berbagai sisi. Untuk itu Anda perlu mengubah arah perjalanan Anda saat menuju danau Toba ini. Dan hasilnya, Anda akan bisa menikmati wajah Danau Toba melalaui beberapa desa dari 7 kabupaten yang bersinggungan dengan Danau Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAO SILALAHI&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Batak, tao berarti danau. Tao silalahi merupakan bagian dari Danau Toba. Tao Silalahi secara administratif masuk ke wilayah Desa Silalahi, kecamatan Silalahi Sabungan, Kabupaten Dairi. Berjarak sekitar 128 km dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Bagi Anda yang baru pertama kali melihat Tao Silalahi pasti akan berdecak kagum menatap panoramanya. Betapa tidak, Tao Silalahi ini memiliki hamparan pantai yang sangat indah sepanjang 28 km. Meskipun dalam fasilitas pariwisata masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Parapat atau Tuk-Tuk Samosir, namun Tao Silalahi memiliki potensi alam untuk dikembangkan sebagai wisata air dan olah raga pantai. Jika Anda menyusuri desa Silalahi Anda pun akan menemukan bangunan bersejarah berupa 42 rumah adat berusia sekitar 250 tahun. Dahulu, desa Silalahi merupakan sebuah kerajaan yang dibangun oleh raja Silalahi Sabungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Karena letaknya dibibir danau Toba, tidak heran warga desa Silalahi banyak membudi dayakan ikan dengan membuat keramba-keramba ikan, terutama ikan mas dan mujair sebagai mata pencaharian penduduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Jika Anda ingin datang ke Tao Silalahi, bisa ditempuh lewat dua jalur darat. Pertama, melewati jalur lintas Medan-Sidikalang, ibu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Kabupaten Dairi, kemudian diteruskan melalui jalur Merek-Raya. Kedua, melalui jalur lintas Medan-Pematang siantar yang juga harus diteruskan melewati jalur Merek-Raya. Jalur Merek-Raya meruapakan jalur penghubung &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Pematangsiantar dengan kabupaten Dairi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;BAKARA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terkenal dengan hamparan lembahnya yang dipagari deretan perbukitan. Bentangan lembah datar seluas ratusan hektar dari Kabupaten Humbang Hasundutan ini menawarkan keindahan alam penuh pesona. Bakara, sebuah perkampungan di tano Batak di tepi Danau Toba. Dahulu, Bakara merupakan pusat pemerintahan &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sisingamangaraja&lt;/span&gt; I hingga XII, persisnya di desa Lumbanraja. Disini terdapat istana raja si Singamangaraja yang baru dipugar tahun 1992.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Jika Anda berjalan menyusuri desa Bakara, Anda akan merasakan suhu udara disini yang sejuk dan dingin. Dan sehabis berjalan, untuk melepas dahaga, Anda bisa minum air dari berbagai mata air yang ada. Airnya jernih dan sehat. Di Bakara ada banyak mata air, tetapi mata air utama yang terbesar adalah &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Aek Sitio-tio&lt;/span&gt;. Selain itu, Anda akan menemui beberapa air terjun. Namun yang paling dikenal sebagai obyek wisata adalah &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Aek Sipangolu&lt;/span&gt;. Bahkan oleh penduduk sekitar Aek Sipangolu dipercaya sebagai “ air suci “ yang bisa menjadi obat untuk berbagai penyakit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Lembah Bakara cukup subur dan memberikan hasil panen yang baik untuk tanaman padi, bawang dan palawija. Sejak dulu lembah Bakara sudah dikenal sebagai lembah eksotis yang menyimpan muatan sejarah dan budaya Batak. Pusat dinasti si Singamangaraja ada disini. Karena itu, mengunjungi Bakara sesungguhnya bukan saja menikmati keindahan alam Danau Toba, tetapi juga melihat situs sejarah penting kerajaan Batak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Letak Bakara hanya belasan kilometer dari Dolok Sanggul, ibu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Kabupaten Humbang Hasundutan. Jika Anda datang dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sebaiknya memilih jalur dari Kaban Jahe terus ke Dairi menuju Dolok Sanggul. Selain waktu tempuhnya lebih singkat, sekitar 5 jam, Anda pun bisa menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TONGGING.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti Bakara, Tongging minim obyek sejarah dan budaya yang dapat menjadi pendukung nilai pariwisata. Selain itu, penginapannya masih biasa saja. Begitu juga dengan kafe dan restoran serta fasilitas hiburan lain yang belum banyak tersedia. Tapi tak perlu khawatir dengan keterbatasan itu. Sebab lingkungan alam Tongging mampu menyediakan suasana teduh dan tenang. Sesuatu yang mungkin tak Anda dapatkan ditempat lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Menatap Tongging mata serasa tak pernah puas. Desa kecil yang terletak ditepian Danau Toba ini selain dikaruniai tanah yang subur, juga dianugerahi panorama alam mempesona. Ya, jejeran perbukitan hijau disekitar Tongging sungguh menarik minat orang untuk berlama-lama menatapnya. Tongging merupakan salah satu obyek wisata andalan dari Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Selain itu, Tongging berada tepat ditengah-tengah daerah yang didiami tiga sub-etnis suku Batak, yakni Batak Toba, Pak-Pak dan Karo yang bercampur baur menjadi satu. Maka jika Anda berkunjung ke Tongging, jangan heran jika Anda akan melihat penduduk disitu lazim menguasai tiga bahasa sub-etnis itu sekaligus mampu menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Hingga kini Tongging hanya dapat ditempuh melalui jalan darat saja. Sebetulnya, perjalanan menuju Tongging akan lebih nikmat dan mudah dicapai seandainya tersedia kapal-kapal penumpang, seperti halnya dari Parapat ke Samosir atau daerah lain yang bertepian dengan Danau Toba&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dari &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, perjalanan Anda menuju Tongging melalui tanah Karo akan memakan waktu sekitar 3 jam. Dari Medan, Anda perlu menuju simpang tiga Kecamatan Merek untuk kemudian tiba di Sipiso-piso hingga akhirnya menuruni jalanan beraspal menuruni perbukitan Gunung Sipiso-piso.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Secara umum Tongging dikenal sebagai produsen ikan emas, nila dan mujahir. Selain itu, kegiatan pertanian yang menghasilkan sayur-mayur berupa cabai, tomat, bawang dan aneka sayuran lainnya juga menjadi mata pencaharian utama penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;MUARA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda hendak menikmati keindahan Danau Toba melalui Kabupaten Tapanuli Utara, Muara bisa menjadi pilihan tempatnya. Muara tidaklah sesibuk dan sebising Parapat, Balige atau Porsea. Muara jauh lebih tenang dan nyaman. Boleh jadi itulah salah satu daya tarik tersendiri yang dimiliki Muara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Hamparan pantainya, dengan panorama langsung ke arah Danau Toba sangat mempesona. Sementara diujung lepas pantainya, terhampar sebuah pulau lain yang juga ada di Danau Toba. Itulah pulau Sibandang. Jaraknya sangat dekat. Hanya 900 meter dari tepi pantai Muara. Untuk mencapainya ada angkutan kapal reguler atau langsung menyewa perahu nelayan disitu. Pulau Sibandang ini dihuni sekitar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ratusan kepala keluarga selama 18 generasi. Karena banyak tertutup oleh pohon mangga, tempat ini juga dikenal sebagai Pulau Mangga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dari dahulu Muara memang terkenal sebagai penghasil buah mangga. Sekalipun bentuknya kecil, kira-kira segenggaman tangan, tetapi mangga Muara rasanya sangat manis. Sejak dulu pula, Muara memasok mangga untuk wilayah Toba dan sekitarnya. Tetapi orang terlanjur mengenalnya mangga Parapat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Untuk Anda yang akan berkunjung kesana, ada dua alternatif darat yang bisa ditempuh. Rute pertama melewati Bakara dan rute kedua melalui Balige. Jarak dari Bakara ke Muara kira-kira 12 km. Jika Anda berangkat dari Medan, rute pertama bisa Anda capai melalui Medan-Berastagi-Merek-Bakara dan kemudian langsung ke Muara. Rute darat kedua bisa dicapai dari Medan-Parapat-Porsea-Balige. Kemudian melewati pertigaan simpang Muara di ruas jalan Balige-Siborong-borong. Dari pertigaan simpang Muara menuju ke Muara sekitar 21 km.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setelah Anda tiba di Muara dan menikmati keindahan panorama Danau Toba, Anda bisa menyusuri sebuah &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;gua&lt;/span&gt; bernama &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Liang Siraja Manghumi&lt;/span&gt;. Ini adalah sebuah gua yang sangat dalam dan panjang yang terletak di pegunungan yang membentengi Muara. Konon, gua ini punya tiga arah jalan ke luar. Satu menuju Bakara, satu ke Tarutung dan satunya lagi masih belum terpetakan. Menurut kisah warga setempat, didalam gua itu terdapat beberapa jeram bawah tanah. Jika Anda ingin melongok gua tersebut, Anda perlu menuju ke desa Piarung terlebih dulu lalu dari situ berjalan kaki menuju arah perbukitan. Tapi jangan lupa untuk mengajak pemandu yang benar-benar handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;HARANGGAOL.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Haranggaol terletak di sebelah barat Danau Toba. Tempat ini adalah bagian dari wilayah Kabupaten Simalungun. Penduduk disini adalah Batak Simalungun. Harang menurut bahasa Simalungun berarti tempat atau sangkar, sedangkan kata gaol berarti pisang. Pada masa lalu, haranggaol adalah penghasil pisang yang terkenal di Danau Toba dan sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Haranggaol juga terletak tepat di tepi Danau Toba. Pantainya indah dengan panorama alam yang memukau. Berkat pesona alam tersebut Haranggaol sering dijadikan daerah transit sebelum atau sesudah orang melancong ke Tomok di pulau Samosir dari Parapat. Selain untuk wisata pantai, Haranggaol sering dijadikan sebagai tempat olah raga terbang laying atau gantole. Dan bila liburan sekolah tiba, banyak pelajar memanfaatkan tempat ini untuk berkemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Letak Haranggaol cukup strategis. Jika Anda tertarik datang ke Haranggaol, Anda dapat mencapainya dengan angkutan darat dan angkutan danau di sekeliling Danau Toba. Haranggaol berjarak 71 km dari ibu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabupaten Simalungun, Pematangsiantar. Dapat ditempuh dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; melalui dua jalur yakni Medan-Berastagi-Saribudolok-Haranggaol. Atau melalui jalur Medan-Pematang siantar dan kemudian Haranggaol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Haranggaol dikenal sebagai penghasil bawang merah dan bawang putih. Tak sedikit pula warga setempat yang memanfaatkan bibir pantai untuk budidaya ikan. Sehingga tidak heran bila disepanjang pantai Haranggaol Anda menjumpai banyak bertebaran keramba apung untuk ikan emas, mujahir dan nila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;BALIGE.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Balige merupakan ibu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Kabupaten Tobasa. Tempat ini memiliki panorama pantai yang indah. Jika Anda datang ke bibir pantainya, untuk menunggu saat matahari terbenam, Anda bisa bersantap ikan emas panggang atau natinombur dengan bumbu andaliman. Salah satu hidangan khas Batak ini bisa Anda jumpai khususnya dibeberapa desa tepi pantai. Mulai dari desa Lumban Silintong, Tara Bunga hingga ke Meat. Dari pusat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Balige, Anda hanya butuh beberapa puluh menit naik kendaraan untuk mencapai desa-desa tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Balige juga terkenal dengan pasar rakyat “ Onan raja “. Pasar Balige ini ramai didatangi saudagar-saudagar dari hampir seluruh desa yang ada di desa Tobasa, bahkan dari Kabupaten samosir, Tapanuli Utara dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Balige, Anda juga bisa mengunjungi rumah budaya Jangga Dolok. Inilah daerah pemukiman rumah Batak dengan ornamen Batak tradisional. Jaraknya 38 kilometer dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Balige. &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Rumah budaya Jangga Dolok&lt;/span&gt; telah berumur sekitar 200 tahun dan telah dihuni hingga 8 generasi sampai sekarang. Disini pula Anda akan mendapatkan bermacam corak dan warna ulos adat buatan tangan. Anda pun dapat melihat langsung bagaimana penduduk setempat membuat ulos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kecamatan Lumban Julu adalah tempat lain yang bisa Anda kunjungi dari Balige. Sekitar setengah jam perjalanan dari Balige. Dikecamatan itu terdapat lokasi wisata yang disebut &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Taman Eden 100&lt;/span&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Taman&lt;/st1:place&gt; ini mempunyai 100 jenis pohon buah-buahan yang bisa dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TOMOK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini masuk kedalam wilayah Kabupatren samosir. Hingga kini kabupaten ini masih merupakan tempat favorit untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Serbagai tujuan pariwisita pulau ini telah lama dikenal dan dikagumi para turis. Pasalnya, di pulau samosir terdapat banyak pilihan daerah pariwisata. Baik yang mengandalkan panorama alam, keunikan spiritual dan budaya serta peninggalan sejarah hingga wisata air Danau Toba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tomok adalah pintu utama dan pusat konsentrsasi turis di pulau Samosirt. Tidak jauh dari situ, didesa Tuk-Tuk, terdapat pemakaman raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu jaman pra-sejarah atau sering disebut Sarcophagus. Perjalanan bisa Anda teruskan ke obyek-obyek wisata lainnya seperti desa Siallagan, Simanindo dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Untuk mencapai pulau samosir, Anda dapat menggunakan kapal penumpang atau ferry dari Parapat. Sarana transportasi air tersedia di dermaga Ajibata maupun Tigaraja. Sekitar 45 menit perjalanan Anda akan tiba di Tomok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sebagai alternatif lain menuju pulau Samosir Anda pun bisa melalui jalan darat. Menempuh jalur ini Anda akan melewati &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Tano Ponggol&lt;/span&gt; melalui Tele. Tano Ponggol adalah jalan yang menghubungkan pulau Samosir dengan pulau Sumatera. Jalannya sangat curam dan sempit. Sehingga bila dua mobil berpapasan, maka mobil yang akan turun harus mengalah dan berhenti sampai mobil yang dari bawah lewat. Namun sebelum Anda turun menuju Pangururan, ibukota kabupaten ini, Anda sebaiknya menikmati dulu pesona alam dan keindahan Danau Toba melalui &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Menara Pandang Tele&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;* tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;edisi April 2008, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-8991035116461292470?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/8991035116461292470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=8991035116461292470' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8991035116461292470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8991035116461292470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/menikmati-danau-toba-dari-berbagai.html' title='Menikmati Danau Toba Dari Berbagai Tempat'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STiUWVND_AI/AAAAAAAAAEQ/ZdLneMwQaKM/s72-c/danau+toba+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-5045769647232709766</id><published>2008-12-04T15:47:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T16:26:59.572-08:00</updated><title type='text'>Edward Pesta Sirait, Mimpi Ulos Inang Dalam Seluloid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThuP6L0tJI/AAAAAAAAAEA/Swkfr1uIpKo/s1600-h/07.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 221px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThuP6L0tJI/AAAAAAAAAEA/Swkfr1uIpKo/s320/07.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276088183060477074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThtxB6Z6uI/AAAAAAAAAD4/CfUygGNxjuc/s1600-h/edward+sirait.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 204px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThtxB6Z6uI/AAAAAAAAAD4/CfUygGNxjuc/s320/edward+sirait.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276087652558957282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;Kiri : Sosok Edo sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;Kanan : Ketika mengarahkan Nurul Arifin dan  Deddy Mizwar dalam fim 2 dari 3 Laki-Laki,1989.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By.Sahala Napitupulu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Kecintaanya pada seni menghantarkannya ke dunia teater dan film. Dan dunia film kemudian melambungkan namanya. Dia senang dengan cerita drama dan kecenderungannya adalah realisme. Dia telah membuat 16 judul film layar lebar dan para pemainnya sering masuk nominasi dalam festival film. Ita Mustafa yang tampil dalam Gadis Penakluk, film yang disutradarainya, merebut piala Citra sebagai Aktris Terbaik tahun 1980. Uniknya, dalam sejarah Festival Film &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, tak satupun piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik yang pernah diberikan kepadanya. Itulah Edward Pesta Sirait atau akrab dipanggil Bung Edo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Meski sekarang usia tak lagi muda, namun ia amat bersemangat bila diajak berbicara soal film. Dalam usia senjanya, ia masih punya mimpi ingin memfilmkan skenario yang telah lama dia tulis. Sebuah skenario yang bercerita tentang perjalanan ulos dari hasil tenunan sang ibu di bonapasogit untuk kelak diselimutkan pada sang cucu laki-laki pertama. “ Cerita itu saya tulis mengambil inspirasi dari pengalaman masa kecilku. Ibuku dahulu adalah seorang penenun ulos yang trampil, “ ujar &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt;. Ia sangat memuji karya tenun ulos ibunya. Menurutnya, ulos tenunan ibunya sudah sering dipesan orang ketika masih dalam tahap pengerjaan. “ Boleh jadi, darah kesenimananku turun darinya. Ibuku itu seniman, “ katanya mengenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dilahirkan di Porsea, Tapanuli Utara pada &lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;7 Agustus 1941&lt;/span&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; merupakan anak ke 7 dari 9 bersaudara dari orangtua &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Hendrik Raja Sirait&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Marta br.Situmorang&lt;/span&gt;. Pengalaman masa kecilnya dahulu, katanya, sangat menyenangkan. &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; kecil adalah anak yang senang bermain. “ Ketika kanak-kanak, saya dan teman-teman senang bermain perang-perangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya yang selalu memimpin permainan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Enggak tahu kenapa, dimata teman-teman saya selalu ditokohkan “ katanya mengurai masa lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Salah satu permainan yang dia suka waktu itu ialah membuat film kartun dalam bentuknya paling sederhana. Caranya, ia membuat orang-orangan dari kertas kartun. Orang-orangan tersebut lalu dikaitkan ke benang yang melintang dan bisa dia putar maju dan mundur melalui dua gulungan benang. Kesannya orang-orangan tersebut dapat bergerak maju atau mundur ketika gulungan benang tersebut diputar-putar. Orang-orangan itu kemudian dia proyeksikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke kain layar atau didinding memanfaatkan cahaya lilin atau lampu teplok. Hasil proyeksi itulah yang ditonton oleh teman-temannya sebagai film animasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah film animasi yang sederhana. “&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itulah yang dulu sering saya lakukan dan teman-temanku menonton film kartun buatanku itu, “ &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; menambahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Lubang Khusus&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beranjak remaja, minatnya pada film terus berlanjut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kala itu ia sudah mulai keranjingan nonton film bioskop. “ Waktu saya sekolah SMP di Balige. Saya dan teman-teman dulu sering nonton film di bioskop. Film Tarzan dan Flash Gordon, beberapa yang masih saya ingat. Saya dan teman-teman menontonnya sering dengan ngintip melalui lubang khusus, kalau kami tak punya uang untuk membeli tiket atau kalau film yang diputar kebetulan untuk17 tahun keatas, “. Dari keseringan menonton itulah, ia pun mulai melihat film bukan hanya sebagai hiburan, tapi sebagai media ekspresi jiwa yang amat menarik untuk dia pelajari di kemudian hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seperti sebuah film, dia memutar kenangannya. Masa itu tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1961. Keluarganya membawa Edo ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Sebelumnya ia pernah tinggal beberapa waktu di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Di Jakarta Edo tinggal dirumah abangnya. Dia disekolahkan di SMA 9 Bulungan. Tapi, &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; mengaku, sebagai murid ia tidaklah terlalu bodoh tapi juga tidak terlalu pintar. Hingga tahun 1963, pendidikan SMA itu bisa dia selesaikan dengan prestasi biasa-biasa saja. Tetapi, setelah tamat kemana dia akan melanjutkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;? Ia tak begitu pasti, pada mulanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Suatu hari, menurut kisahnya, ia melihat iklan penerimaan mahasiswa baru U.I.Extension Hukum. &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; pun mendaftar. Setelah lulus tes, ia mulai bersiap-siap untuk mengikuti perpeloncoan. Tetapi, tiba-tiba ia melihat sebuah iklan lain, penerimaan mahasiswa baru &lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Akademi Teater Film Indonesia (ATFI)&lt;/span&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; tertarik. Ia mendaftarkan diri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;UI ditinggalkannya dan masuk ke ATFI. Namun, setelah kuliah berjalan setahun ternyata dia tak mendapatkan apa-apa. Ia kecewa.“ Yang dipelajari kebanyakan hanya ideologi negara dan bahasa Inggris, “ katanya. &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; pun ogah-ogahan kuliah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dikemudian hari, ia tahu ada tempat kuliah kesenian yang lain, yaitu &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)&lt;/span&gt;. “ Saya melihat jajaran dosennya kayaknya meyakinkan. Saya lihat disitu ada &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Usmar Ismail&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Asrul Sani&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Wahyu Sihombing&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Tatiek Malyati&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Pramana Pmd&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;D.Djaya Kusuma&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Sitor Situmorang&lt;/span&gt;, “ ujarnya melanjutkan cerita. Ia tertarik untuk belajar pada dosen-dosen tersebut. Segera ATFI ia tinggalkan dan masuk ke ATNI. Disini, katanya, dia baru menemukan apa yang telah lama dia cari. Kala itu tahun 1964. “ Di ATNI lah, saya belajar banyak tentang teater dan sejarahnya, tentang film dan sejarahnya hingga ke cara pembuatan film. Apalagi kala itu, sebagian dosen-dosen ATNI baru selesai belajar dari luar negeri. Sehingga semangat mereka mengajar luar biasa untuk mentransfer pengetahuan kepada mahasiswanya, “ katanya tentang pendidikannya di ATNI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Waktu di ATNI, ada beberapa karya drama harus dia pentaskan sebagai praktek kuliahnya. Salah satunya, yang pernah dia pentaskan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Hilang Tanpa Bekas&lt;/span&gt;, karya drama &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Jean Paul Sartre&lt;/span&gt;. “ Waktu itu kami mahasiswa seringkali harus melakukan semuanya. Ya,sebagai pemain, pembuat dekor, kostum, make-up hingga keurusan produksinya, “ &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; menambahkan. Dua tahun lamanya, &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; berkutat belajar teater dan film secara akademis di ATNI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Piala Akhnaton di MEsir&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dari ATNI ia kemudian masuk kedalam dunia industri film. Dia memulainya sebagai pembantu sutradara Wahyu Sihombing di tahun 1966, untuk film dokumenter. Namanya saja asisten sutradara, karena prakteknya hampir semua bagian dia disuruh Wahyu Sihombing. Mulai dari mengerjakan urusan konsumsi hingga kebagian penyambungan film alias Editing. Tetapi, dari keadaan seperti itu justru ia banyak belajar. &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; kemudian hari terlibat dalam pembuatan beberapa film cerita, sebagai asisten sutradara Asrul Sani, Djaya Kusuma, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Nyak&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Abbas Acub&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Wim Umboh&lt;/span&gt; dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“ Saya juga pernah bekerja sebagai karyawan, ketika baru menikah tahun 1967. Saya pernah menjadi asisten manager pertunjukan di Sarinah dan bekerja di Miraca Sky Club. Kemudian tahun 1970-1971 saya pernah bekerja di Taman Ismail Marzuki bagain stage management. “&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia mempersunting &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Gontina boru.Tambunan&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Meski dia telah banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terlibat sebagai asisten sutaradara untuk film layar lebar, tapi &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; secara mental ternyata belum siap untuk menyutradarai film sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa tawaran produser pernah dia tolak karena merasa belum siap. Sebagai uji coba, tahun 1975, &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; lalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memilih untuk membuat film iklan melalui perusahaan Ariza Jaya Film. iklan-iklan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;produk seperti susu, sabun, shampoo dan lain-lain, waktu itu banyak dia kerjakan. “ Waktu itu film iklan saya sering diputar di TVRI, “ katanya. Itu adalah masa belajarnya sebagai sutradara. Setahun menjadi sutradara film iklan dia rasa sudah cukup. Maka pada tahun 1977, ketika datang tawaran padanya untuk menyutradarai film layar lebar, jenis film anak-anak, segera ia terima dengan antusias. Film itu berjudul &lt;i&gt;Chica&lt;/i&gt;. Pengalaman dan ilmu penyutradaraan yang telah dia dapat dari beberapa sutradara film, kini ia tumpahkan kedalam karya film pertamanya ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam beberapa bulan syuting film Chicha pun rampung. Film perdananya ini kemudian disertakan oleh Departemen Penerangan pada Festival Film di Mesir. Hasilnya, film Chicha menyabet piala &lt;i&gt;Akhnaton&lt;/i&gt; (1977) di Kairo untuk kategori Film Terbaik Anak-Anak. Diputar di biskop-bioskop di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, film Chica banyak mendapat pujian, selain meraih sukses komersil. Sesudah itu, ia menyutradarai lagi film anak-anak &lt;i&gt;Ira Maya Si Anak Tiri&lt;/i&gt;. Lagi-lagi sukses secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;komersil. Sedangkan untuk kategori film dewasa, yang paling banyak mendatangkan penonton adalah film &lt;i&gt;Buah Terlarang&lt;/i&gt; (1979) dan &lt;i&gt;Bila Saatnya Tiba&lt;/i&gt; (1985).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“ Khusus dalam pembuatan film Bila Saatnya Tiba ada kepuasan tersendiri. Karena ego saya sebagai sineas film banyak terlampiaskan disitu. Sebab skenario film dan penyutradaraannya saya yang kerjakan, “ kataya. Tapi, tak semua film &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; berhasil meraih banyak penonton. Film Sang Guru, meski sarat dengan kritik sosial, ternyata tak diminati publik. Film layar lebar terakhir yang disutradarai &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; berjudul &lt;i&gt;Joshua Oh Joshua&lt;/i&gt; (2001). Sayang, film terakhirnya ini tak terlalu menggembirakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dunia film &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; kemudian mengalami mati suri. Yang menjadi tren sejak awal tahun 2000-an adalah film serial untuk televisi. Banyak sutradara film layar lebar terserap kedalam tren ini, termasuk &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; sempat membuat film serial televisi, antara lain &lt;i&gt;Misteri Gunung Merapi&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Karmala Ramayana&lt;/i&gt; yang ditayangkan Indosiar sampai ratusan episode. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sekitar 4 tahun &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyutradarai film serial televisi yang dikerjakan dengan semangat kejar tayang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi, ia tak menemukan kepuasan batin disitu, karena semata-mata untuk cari uang. “ Akhirnya, saya bosan karena tidak ada lagi sentuhan artistik disitu. Dan saya tak lagi memperpanjang kontrak saya untuk fim serial TV, “ jelas &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; tentang kerja kerasnya berjuang diantara kepentingan seni dan komersialisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“ Sesungguhnya saya lebih cenderung memilih fungsi film itu sebagai media pendidikan, setelah sekolah sebagai media pendidikan formal. Tapi, itu yang kurang diperhatikan baik pemerintah maupun swasta. Sehingga dari dulu sampai sekarang fungsi film yang terlalu ditonjolkan adalah segi komersialnya. Yang kemudian berujung pada pembodohan terhadap masyarakat. Banyak film TV atau sinetron sekarang yang dibuat tidak nalar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ katanya melontarkan kritik diiringi suaranya yang meninggi dan ia tampak emosional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Empat puluh tahun lebih, &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; telah mengabdikan hidupnya pada dunia film. Umurnya kini 67 tahun sudah. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Namun&lt;/st1:City&gt;,  &lt;st1:state st="on"&gt;Ia&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; belum merasa perlu untuk pensiun dari dunia film. “ Ini yang saya minta pada Tuhan. Jika saya memang diberi kesehatan, mati sampai umur 70 tahun, maka umur itu akan saya abdikan untuk berkarya dan memberi makna bagi keluarga, bagi masyarakat maupun bagi negara, “ katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ayah dari 4 orang anak ini masih punya mimpi yang belum kesampaian dan semangatnya masih membara untuk membuat film berdasarkan skenario yang telah ia tulis. Dengan sesuloid, &lt;st1:place st="on"&gt;Edo&lt;/st1:place&gt; ingin berkisah tentang perjalanan ulos yang ditenun oleh seorang perempuan yang sangat dia kenal dan cintai, ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;**************&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana;"&gt;Filmografi Edward Pesta Sirait&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Chicha&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;      (1976) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chicha_Koeswoyo" title="Chicha Koeswoyo"&gt;Chicha      Koeswoyo&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rae_Sita" title="Rae Sita"&gt;Rae Sita&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Duo_Kribo" title="Duo Kribo"&gt;Duo      Kribo&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1977) dibintangi      oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Achmad_Albar" title="Achmad Albar"&gt;Achmad Albar&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ucok_Harahap&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Ucok Harahap (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Ucok      Harahap&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Buah_Terlarang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Buah Terlarang (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Buah      Terlarang&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1979)      dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rano_Karno" title="Rano Karno"&gt;Rano Karno&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yessy_Gusman" title="Yessy Gusman"&gt;Yessy      Gusman&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ira_Maya_Si_Anak_Tiri&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Ira Maya Si Anak Tiri (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Ira      Maya Si Anak Tiri&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;      (1979) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ira_Maya_Sopha" title="Ira Maya Sopha"&gt;Ira      Maya Sopha&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ria_Irawan" title="Ria Irawan"&gt;Ria Irawan&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gadis_Penakluk&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gadis Penakluk (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Gadis      Penakluk&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1980)      dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ita_Mustafa" title="Ita Mustafa"&gt;Ita Mustafa&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adi_Kurdi" title="Adi Kurdi"&gt;Adi Kurdi&lt;/a&gt;      &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Manis-Manis_Sombong-Sombong&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Manis-Manis Sombong-Sombong (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Manis-Manis Sombong-Sombong&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1980) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lydia_Kandou" title="Lydia Kandou"&gt;Lydia      Kandou&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Monos&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Monos (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Monos&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bukan_Istri_Pilihan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Bukan Istri Pilihan (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Bukan      Istri Pilihan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;      (1981) dibintangi oleh &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Ita Mustafa&lt;/span&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adi_Kurdi" title="Adi Kurdi"&gt;Adi Kurdi&lt;/a&gt;      &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sang_Guru&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sang Guru (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Sang Guru&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1981) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/S._Bagio" title="S. Bagio"&gt;S. Bagio&lt;/a&gt;      dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Maruli_Sitompul" title="Maruli Sitompul"&gt;Maruli Sitompul&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hidung_Belang_Kena_Batunya&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Hidung Belang Kena Batunya (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Hidung      Belang Kena Batunya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;      (1982) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lia_Waroka" title="Lia Waroka"&gt;Lia Waroka&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Budi_S.R&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Budi S.R (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Budi S.R&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;      &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Remaja_Kedua&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Remaja Kedua (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Remaja      Kedua&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1984)      dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lia_Waroka" title="Lia Waroka"&gt;Lia Waroka&lt;/a&gt; dan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Budi S.R&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bila_Saatnya_Tiba&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Bila Saatnya Tiba (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Bila      Saatnya Tiba&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;      (1985) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Christine_Hakim" title="Christine Hakim"&gt;Christine      Hakim&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Deddy_Mizwar" title="Deddy Mizwar"&gt;Deddy Mizwar&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tinggal_Sesaat_Lagi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Tinggal Sesaat Lagi (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;Tinggal      Sesaat Lagi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1986)      dibintangi oleh &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Ita Mustafa &lt;/span&gt;dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Roy_Marten" title="Roy Marten"&gt;Roy      Marten&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=2_Dari_3_Laki_-_laki&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="2 Dari 3 Laki - laki (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 34, 0);"&gt;2      Dari 3 Laki - laki&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;      (1989) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nurul_Arifin" title="Nurul Arifin"&gt;Nurul Arifin&lt;/a&gt; dan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Deddy Mizwar&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Blok_M" title="Blok M"&gt;Blok      M&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1990) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paramitha_Rusady" title="Paramitha Rusady"&gt;Paramitha Rusady&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Desy_Ratnasari" title="Desy Ratnasari"&gt;Desy      Ratnasari&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pesta" title="Pesta"&gt;Pesta&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (1991) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ari_Wibowo" title="Ari Wibowo"&gt;Ari      Wibowo&lt;/a&gt; dan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Desy Ratnasari&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Joshua_oh_Joshua" title="Joshua oh Joshua"&gt;Joshua oh Joshua&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; (2001) dibintangi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Joshua_Suherman" title="Joshua Suherman"&gt;Joshua      Suherman&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anjasmara" title="Anjasmara"&gt;Anjasmara&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana;"&gt;Nominasi di Festival Film Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Film "Gadis Penkluk" (1981) dinominasikan sebagai film      terbaik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ria_Irawan" title="Ria Irawan"&gt;Ria      Irawan&lt;/a&gt; dalam film "Bila Saatnya Tiba" (1986) (nominasi) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dhalia" title="Dhalia"&gt;Dhalia&lt;/a&gt; dalam      film "Bukan Istri Pilihan" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paramitha_Rusady" title="Paramitha Rusady"&gt;Paramitha Rusady&lt;/a&gt; dalam film "Blok      M" (Nominasi) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tutie_Kirana" title="Tutie Kirana"&gt;Tutie      Kirana&lt;/a&gt; dalam film "Buah Terlarang" (nominasi) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Remy_Silado" title="Remy Silado"&gt;Remy      Silado&lt;/a&gt; – Frans Haryadi dalam film Tinggal Sesaat Lagi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ira_Maya_Sopha" title="Ira Maya Sopha"&gt;Ira      Maya Sopha&lt;/a&gt; –dalam film Ira Maya Si Anak Tiri &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;* tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi November 2008.&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-5045769647232709766?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/5045769647232709766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=5045769647232709766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/5045769647232709766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/5045769647232709766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/edward-pesta-sirait-mimpi-ulos-inang.html' title='Edward Pesta Sirait, Mimpi Ulos Inang Dalam Seluloid'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThuP6L0tJI/AAAAAAAAAEA/Swkfr1uIpKo/s72-c/07.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-8819876724245683525</id><published>2008-12-04T14:51:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T15:10:11.989-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesohor'/><title type='text'>Tarida, Rinduku Padamu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThg_q95DFI/AAAAAAAAADg/J3SkH9vryJM/s1600-h/DSC_0619.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 206px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThg_q95DFI/AAAAAAAAADg/J3SkH9vryJM/s320/DSC_0619.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276073610446441554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;By Sahala Napitupulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lama tak terdengar suaranya. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Tarida Hutauruk&lt;/span&gt; ternyata masih punya banyak kesibukan. Tentu saja masih diseputar dunia musik. Yang agak berbeda kini adalah sikap hidup dan cara pandangnya. Kini, Tarida banyak memberi waktunya untuk melayani Tuhan. Pencipta lagu&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Dirimu Satu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, yang sangat kondang pada era 80-an itu, semakin merasakan indahnya hidup didalam Tuhan Yesus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Melalui musik, katanya, dia bisa melayani Tuhan. Misalnya, dalam ibadah Minggu di gereja GKI, Panglima Polim, dialah yang memainkan piano untuk mengiringi nyanyian jemaat. “ Tapi, saya juga sering ke luar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; diundang untuk menyanyi dalam acara Kebaktian Kebangunan Rohani atau diundang untuk menjadi juri lomba lagu, “ katanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ditemui dalam syukuran ulang tahun Ompu Singal Napitupulu br Siahaan (90) di hotel Nikko Jakarta, akhir Agustus lalu, Tarida tampak sibuk mengatur sejumlah artis Batak pengisi acara. Rupanya, hari itu, Tarida bersama Yan Berlin Panjaitan dipercaya sebagai pemandu acara. Tarida masih tampak cantik, meskipun usianya telah 57 tahun.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Buatlah hatimu bergembira senantiasa. Karena Alkitab juga mengatakan hati yang gembira itu adalah obat, sedangkan semangat yang patah mengeringkan tulang&lt;/span&gt;, “ katanya menjawab apa rahasia awet mudanya itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tarida pernah sangat sukses menata musik dan acara bernuansa Batak. Itu acara musik Horas yang disiarkan Indosiar sampai 50 episode beberapa tahun lalu. Dalam acara itu, musik Batak yang dilantunkan artis Batak, oleh Tarida ditata dalam aransemen musik yang baru, yang lebih kaya dalam musikalitasnya. Setelah lama berhenti, muncul O tano Batak sebagai penggantinya yang disiarkan Indosiar setahun lalu, tapi tanpa kehadiran Tarida.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun setelah beberapa kali tayang, O Tano Batak ternyata tak sebagus Horas terdahulu. Padahal, artis-artis yang tampil sebagian sengaja didatangkan dari artis non-Batak, maksudnya supaya lebih meng-Indonesia. Jadinya malah tak pas di telinga mendengar artis-artis non-Batak itu menyanyikan lagu-lagu Batak. Aransemen musiknya pun tak sebagus dibanding dengan Horas. Alhasil, banyak orang Batak di bonapasogit maupun di perantauan merindukan kembalinya Tarida.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ Banyak orang memang mengharapkan saya kembali menangani acara musik bernuansa Batak itu. Tapi, jika saya nanti menanganinya mesti saya tata dengan baik. Bahkan sampai pada konsep penonton di studionya. Kita bikin aransemen musiknya yang bagus, dengan kemasan yang bagus, tidak sembarangan. Namanya saja lagu Batak, namanya saja musik Batak, kaidah musiknya harus secara baik dan benar. Sehingga orang akan bilang musik Batak itu keren banget. Itu maunya, “ katanya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang berminat ?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;* tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi November 2008&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-8819876724245683525?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/8819876724245683525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=8819876724245683525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8819876724245683525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/8819876724245683525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/tarida-rinduku-padamu.html' title='Tarida, Rinduku Padamu'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SThg_q95DFI/AAAAAAAAADg/J3SkH9vryJM/s72-c/DSC_0619.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-1058319493088930778</id><published>2008-12-03T22:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T23:27:41.821-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosok'/><title type='text'>Adelaide Simbolon, Hidup Bersama Piano</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STd_WCht_7I/AAAAAAAAADY/_kwVhVQOwA4/s1600-h/Photo+Ade+Simbolon+MedRes.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STd_WCht_7I/AAAAAAAAADY/_kwVhVQOwA4/s320/Photo+Ade+Simbolon+MedRes.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275825505099972530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;By Sahala Napitupulu&lt;/span&gt;.  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adelaide Simanjuntak boru Simbolon, belakangan ini menjadi perhatian para penikmat musik kontemporer. Ia adalah pianis wanita yang punya obsesi untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam bermusik. “ Lam matua iba lam godang obsesi, “ katanya sambil tertawa dalam sebuah perbincangan dengan Tapian. Ia akrab dipanggil Ade. Lahir dari pasangan &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;T.A.H. Simbolon&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Saulina boru Sihombing&lt;/span&gt;. Banyak tempat mencatat penampilannya sebagai pianis musik kontemporer. Sebutlah misalnya pada Oktober 2007 yang baru lalu. Dalam rangka perayaan 120 tahun Museum Nasional Singapore. Selama dua hari pementasan, melalui dentingan pianonya, dia menghidupkan nada-nada musik kontemporer karya &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Tony Prabowo&lt;/span&gt; untuk publik disana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya, tahun 2006 di Taman Ismail &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Marzuki Jakarta&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; juga pernah memainkan karya Tony Prabowo. Ia tampil waktu itu dalam peringatan mengenang kepergian penyair saut Sitompul. Lebih kebelakang lagi, tepatnya Februari 2003. Untuk menyemarakan Pekan Kebudayaan Indonesia di Portugal, Ade bersama dengan soprano &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Binu D.Sukaman&lt;/span&gt; tampil menjadi duta seni &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Keduanya tampil di tiga kesempatan. Pertama pada pembukaan pameran foto di Centro Cultural Cascais. Lalu yang kedua, mereka berkolaborasi bersama penyanyi tenor Portugal Jose Laurenco de Sousa di Centro Cultural de Balem. Yang terakhir, mereka tampil di &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Lagos&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Algarve&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selain untuk merajut hubungan Indonesia-Portugal, dalam konser itu mereka juga hendak memperlihatkan pada khalayak &lt;st1:country-region st="on"&gt;Portugal&lt;/st1:country-region&gt; bahwa seniman musik &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; masih memiliki perhatian dan wawasan musik dunia dan tetap bangga dengan karya cipta bangsanya sendiri. Itulah sebab selama konser musik disana, mereka tidak hanya memainkan karya &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Claude Debussy&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Maurice Ravel&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Manuel de Falla&lt;/span&gt; dan lain-lain. Karya komponis &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; seperti &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Mochtar Embut&lt;/span&gt; serta sebuah komposisi musik untuk vocal dan piano karya Tony Prabowo (Kuatrin Tentang Sebuah Poci) juga mereka pagelarkan disana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tentang hubungan kreatifnya dengan karya komponis &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; kontemporer, di Portugal itulah untuk pertama kali Ade memainkan karya musik Tony Prabowo. “ Di Portugal, ketika kami main ternyata enggak semua penonton bisa menerima musik kontemporer. Mungkin karena lagu yang dinyanyikan Binu dalam bahasa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Dan saya pun memainkan karya Tony waktu itu belum begitu menjiwai, “ kata Ade menjelaskan. Namun sejak itu kerja sama mereka berlanjut. Di Jakarta tahun 2005, Ade bersama soprano Binu Sukaman dengan pemain violin &lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Stephanie Griffin&lt;/span&gt; (Kanada) tampil membawakan karya Tony Prabowo dalam konser berjudul A Prayer for Refuge (Sebuah Doa Persembunyian). Konser mereka terbilang sukses. Dan kini Ade sepertinya menjadi pianis pilihan Tony Prabowo untuk membawakan karya-karyanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;b&gt;Masa kanak-Kanak &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kepekaan Ade terhadap musik telah tertanam sejak masa kanak-kanak. Bermula dari sebuah piano tua yang baru dibeli oleh orangtuanya. Bagi bocah cilik &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tahun, bernama lengkap &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Adelaide Giok Bie Christofora Simbolon&lt;/span&gt;, alat musik itu menarik perhatiannya. Piano tua itu hampir setiap hari dia mainkan. Hasilnya bunyi tanpa irama memang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun bagi pak Simbolon, kegemaran putrinya itu menandakan mengalirnya bakat musik yang kuat dalam diri putrinya. Kala itu tahun 60-an, pakSimbolon, selain dikenal sebagai seorang kepala sekolah SMAN 2 Jakarta, pun piawai dalam memainkan organ. Di gereja HKBP Jalan Jambu, Menteng, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dalam ibadah setiap Minggu organ gereja itu selalu mengalun merdu mengiringi nyanyian jemaat melalui jari jemarinya. Dan hebatya, pak Simbolon pun bisa memainkan biola dan semua itu dia pelajari secara otodidak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun tentunya tak banyak yang bisa dilakukan putrinya jika tanpa pengetahuan. Itulah sebab pak Simbolon, yang juga bisa memainkan alat musik biola, kemudian mencarikannya seorang guru piano. Pak Simbolon lalu meminta &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Flora Khow&lt;/span&gt;, seorang guru piano untuk membimbing Ade. Hasilnya, setelah beberapa bulan berjalan, pianio yang dia mainkan mulai mengeluarkan bunyi-bunyi berirama. Meskipun sebatas perbendaharaan lagu kanak-kanak. Sementara di tiap hari Minggu, pak Simbolon secara sengaja meminta putrinya untuk duduk disampingnya manakala ia memainkan organ untuk lagu-lagu gereja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di tahun 1972, pemerintah menugaskana Pak Simbolon ke Rusia untuk menjabat sebagai Kepala Sekolah Indonesia Moskow (SIM). Pak Simbolon lalu memboyong keluarganya kesana. Selama tinggal di Moskow, Ade melanjutkan les pianonya dengan guru Rusia, &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Edmon Euhin&lt;/span&gt;. Tak hanya piano yang dia pelajari dari gurunya itu. “ Saya juga diajarkan Edmon Euhin bagaimana memainkan alat musik akordion, “ kata Ade bertutur tentang masa kecilnya di Rusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masa itu masih membekas kuat dalam ingatannya hingga kini. Ia banyak mendapat kesempatan menonton konser musik klasik, kadang balet dan opera, di gedung pertunjukan Kremlin atau di Bolshoi Teater. Di Moskow, Ade pun berteman dengan &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Chandra Darusman&lt;/span&gt; (musisi jazz Indonsia kini tinggal di Swiss) dan &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Dian HP&lt;/span&gt; (kini salah satu musisi pop &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;). Waktu itu yang menjadi Duta Besar &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ayah Chandra Darusman yaitu pak &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Suryono Darusman&lt;/span&gt;. “ Maka kalau ada acara-acara di Kedutaan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, biasanya saya atau Dian atau Chandra yang bergantian memainkan piano, “ kata Ade mengurai kenangannya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1976, selesai tugasnya, pak Simbolon dan keluarganya kembali ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Ade melanjutkan sekolah di SMAN 2, tempat dulu orangtuanya menjabat Kepala Sekolah. Sementara pendidikan musiknya dia lanjutkan di &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Yayasan Pendidikan Musik&lt;/span&gt; (YPM) berlokasi di Manggarai Utara. “ Di YPM, saya mendapat bimbingan piano dari &lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Laura Himawan&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Oerip S.Santoso&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Iravati M.Sudiarso&lt;/span&gt;. Dan sempat juga belajar cello dengan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Zulkifli Arifin&lt;/span&gt; meski sebentar, “ jelas anak kedua dari 6 bersaudara yang lahir di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Beasiswa Ke Amerika&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Tahun 1979, Ade sempat kuliah di Universitas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;,&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;Fakultas Psikologi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Tapi bidang itu ternyata tak menarik minatnya. Setahun kemudian dia pindah ke &lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;Fakultas Sastra&lt;/span&gt;, Jurusan Sastra Jerman. Tak lama kemudian Ade menamatkan pendidikan piano tingkat terakhir di YPM. Ia pun limbung, memilih melanjutkan pendidikan musik secara profesional, yang baginya berarti belajar di luar negeri, atau menuntaskan studinya di Fakultas Sastra terlebih dulu. Saat Ade menyampaikan niatnya untuk belajar musik di luar negeri, kedua orangtuanya keberatan. Selain kendala biaya kuliah, orangtuanya pun khawatir tentang masa depannya sebagai seorang pianis. Namun tekadnya sudah begitu kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mulailah Ade mencari-cari informasi dan mengajukan lamaran belajar musik ke luar negeri. Lalu lamarannya pada Wisconsin Conservatory of Music diterima. Lembaga pendidikan itu juga memberinya beasiswa penuh. Kuliah di Universitas &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; segera ia tinggalkan untuk berangkat ke Amerika. Selama di Wiswconsin Conservatory of Music, Ade belajar piano dibawah bimbingan &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Carolyn Mc.Craken-Forough&lt;/span&gt;. Tetapi setahun kemudian, Ade dipindahkan ke Universitas &lt;st1:place st="on"&gt;Wisconsin&lt;/st1:place&gt; dan belajar dibawah bimbingan &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Jeffrey Peterson&lt;/span&gt;. Selama pendidikan di Universitas ini, Ade banyak terlibat dalam Chamber Music (Musik Kamar) dan belajar dari Fine Art Quartet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian selama musim panas 1985 dan 1986, dia menerima beasiswa untuk belajar dalam “Summer Camp” di Adamant Music School, &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Vermont&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;. Disini Ade dibimbing oleh &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Prof.William Chaison&lt;/span&gt;. Dan tahun 1987, Ade meraih gelar sarjana musiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pengalaman yang mengesankan selama kuliah, Ade punya cerita. Waktu itu seorang teman &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Wayne Cranell&lt;/span&gt; akan maju ujian untuk meraih gelar master dalam bidang vokal. Ia seorang penyanyi tenor. Ade ditunjuk untuk mengirigi sahabatnya itu saat ujian nanti. Berbulan-bulan mereka berlatih bersama. Beberapa hari menjelang ujian Ade bermain Squash, sejenis tenis tapi dimainkan dalam kamar tertutup, di kampus. Saat itu, tiba-tiba tangan kanannya keseleo parah. “ Besok paginya saat saya bangun saya enggak bisa menggerakkan tangan kanan ini dan sudah biru semua. Saya bawa ke dokter, dan dokter bilang ada jaringan tangan yang robek dan saya diharuskan untuk digips hingga 6 bulan kedepan, “ tutur Ade. Maka ketika hal itu dia sampaikan pada temannya &lt;st1:city st="on"&gt;Wayne&lt;/st1:City&gt; untuk mencari pianis pengganti, dia melihat betapa &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Wayne&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; putus asa. Hatinya pun merasa iba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade lalu memutuskan untuk tetap mendampingi sahabatnya itu maju ujian vokal. Meski ia tahu hal itu berisiko tinggi bagi tangannya. “ Saya coba pegang piano ketika di belakang panggung. Sakitnya luar biasa, seperti ada pisau menusuk jari kanan saya. Tapi show must go on. Tiba waktunya kami tampil. Main lagu pertama keringat dingin saya sudah mengucur karena menahan sakitnya. Saya berdoa supaya Tuhan menjamah tanganku, “ lanjut Ade mengurai pengalamannya itu. Dan beberapa waktu berselang dia sudah bisa memainkan pianonya selama satu jam tanpa henti mengiringi sahabatnya itu. Hasilnya, sahabatnya lulus dan meraih gelar master dalam bidang vokal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Dari Sebastian Bach Hingga Musik Kamar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Setelah banyak bergaul dengan karya musisi dunia, Ade mengakui ada periode-periode tertentu ia mengagumi seorang komponis. Suatu periode dia mengagumi &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Frederic Chopin&lt;/span&gt; (komponis Polandia, era Romantik). Ade menyebut Chopin sebagai “penyairnya” piano dan banyak menjadi kiblatnya para pianis. Bahkan menurutnya, kalau pianis belum memainkan komposisi Chopin, rasanya belum sah disebut pianis. Umumnya karya Chopin dipakai dalam kompetisi-kompetisi piano. Dalam suatu periode yang lain dia pernah mengagumi&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt; Wolfgang Amadeus Mozart&lt;/span&gt; (komponis &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Austria&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, era Klasik). Dan kini dia dalam tahap mengagumi &lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Johan Sebastian Bach&lt;/span&gt; (komponis Jerman, era Baroq). Ade terkagum-kagum karena dia melihat begitu banyak ide dan inovasi yang dilakukan oleh Bach. Terutama melalui suara Polyphonicnya. “ Pengaruh Bach kepada komposer-komposer periode berikutnya begitu kuat sampai masa kini, “ jelas Ade. Bahkan menurutnya, untuk memainkan Bach kadang-kadang butuh intelektual tertentu. kalau diam (silent) harus dimainkan. Jadi otak dengan tangan harus sinkron, tapi tidak melupakan estetika musik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun diluar komponis, siapakah pianis dunia yang ia kagumi selain menjadi sumber inspirasi baginya ?” Untuk pianis wanita, Ade menyebutkan nama Martha Argerich (Jerman) dan Alicia de Larocha (Spanyol). Mereka pianis wanita tapi mainnya seperti laki-laki. “ Dan kalau mereka main, bila kita tutup mata maka kita enggak akan tahu bahwa itu pemain wanita. Itu luar biasa. Tidak hanya tekniknya saja. Interpretasinya juga. Enggak ada yang bisa maen seperti mereka. Kalau orang mau maen lagu-lagu Spanyol kiblatnya pasti ke Alicia de Larocha, “ tegas Ade. Untuk pianis pria dia menyebut nama Horowitz, selain Rubinstein dan Radu Lupu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tetap bermusik, sejak tahun 2003 Ade menjadi pengajar senior di &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Jakarta Concervatory of Music&lt;/span&gt; (Konservatori Musik Jakarta). Dalam menjalankan perannya sebagai guru, keinginan Ade tampaknya sederhana saja. Yakni mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bermain piano secara benar. Bagi Ade mengajar itu berbagi ilmu. Kadang mengasyikkan tapi kadang kala bisa juga membuatnya frustrasi. Misalnya ketika ia harus mengajar seorang murid yang tidak berbakat namun orangtuanya ambisius supaya anaknya bisa bermain piano. Kasus seperti ini lumayan sering dia hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Konservatori Musik Jakarta setiap orang boleh belajar musik klasik tanpa mengenal batasan umur. Sehingga di sekolah musik ini, Ade memiliki murid baik yang berusia tua maupun kaum muda remaja. Di sekolah musik ini belajar musik klasik bukan lagi dominasi kaum menengah ke atas. Artinya, biaya sekolah musik disini masih relatif terjangkau oleh orang kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui sekolah musik ini pula Ade sering tampil dalam berbagai formasi Chamber Music Series (Musik Kamar). Ia merasa kinilah saatnya mewujudkan sesuatu yang menjadi obsesinya sejak dulu. Menjadi bagian dari formasi Musik Kamar. “ Orang bilang kalao jadi pemain chamber music itu second class. Pada hal enggak. Sama susahnya. Hanya bedanya, kalo solo semua berada di kita. Soal materi sama sulitnya. Cuma yang solo itu &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; memang dianggap lebih ya. Jadi saya mau juga bilang ‘ ayo chamber music ‘, sama saja menyenangkannya dan gengsinya sama juga. Malah kau bisa sharing, kamu bisa mengalahkjan ego kamu bermain dengan orang lain. Kalau kita maen sendiri &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; everything is about me, “ tutur Ade.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Masih Sering Berbahasa Batak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Meskipun dia lahir di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dengan pergaulan internasional, Ade tetap mengingat jati dirinya sebagai orang Batak. Ia masih bisa berbahasa Batak. Ade belajar bahasa Batak dari orangtuanya sendiri, karena mereka dulu kerap berbicara dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan dalam bahasa Batak. Kemudian sedikit demi sedikit dia tahu arti kata-katanya. Dengan teman-teman Batak atau dengan pihak keluarga ibunya hingga kini Ade masih sering berkomunikasi dalam bahasa Batak. Untuk menambah pemahamannya terhadap budaya Batak, dia dan suaminya &lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Piet Agustinus Parulian Simanjuntak&lt;/span&gt; masih sering hadir dalam pesta-pesta adat. Tapi sebagai pemusik dia belum pernah bersinggungan secara khusus dengan musik Batak. “ Saya sering menyaksikan musik uning-uningan dan sering berpikir untuk mempelajari salah satu alat musik Batak, tetapi waktunya sekarang ini belum tepat, “ tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Ade cukup senang melihat makin bertumbuhnya group musik Batak tradisional. “ Menurut saya itu baik sekali, sangat membanggakan dan harus dipelihara serta ditampilkan dalam berbagai kesempatan, “ demikian Ade, wanita Batak yang telah memilih jalan hidupnya sebagai pemusik ****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; * Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah budaya &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TAPIAN&lt;/span&gt;, edisi April 2008.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-1058319493088930778?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/1058319493088930778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=1058319493088930778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/1058319493088930778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/1058319493088930778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/adelaide-simbolon-hidup-bersama-piano_03.html' title='Adelaide Simbolon, Hidup Bersama Piano'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STd_WCht_7I/AAAAAAAAADY/_kwVhVQOwA4/s72-c/Photo+Ade+Simbolon+MedRes.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-3834820592075320678</id><published>2008-12-03T00:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T00:38:57.023-08:00</updated><title type='text'>Riris K.Toha Sarumpaet, Hatinya Untuk Anak Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STZDYJyR2II/AAAAAAAAAC0/Ou8k8PJWMR8/s1600-h/riris+sarumpaet.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STZDYJyR2II/AAAAAAAAAC0/Ou8k8PJWMR8/s320/riris+sarumpaet.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275478095733840002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;By.Sahala Napitupulu&lt;/span&gt;    &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dia mendedikasikan hidupnya untuk membangun masa depan anak-anak &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Dia sadar, masa kanak-kanak adalah saat paling penting untuk menciptakan masa depan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Masa depan yang berkualitas tentunya. Karenanya, untuk sampai pada tujuan tersebut anak-anak perlu dididik banyak membaca. Tapi bukan sembarang bacaan, melainkan bacaan-bacaan bermutu. Itulah perhatian besar &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Prof. Riris K.Toha Sarumpaet, Guru Besar Universitas &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="color: rgb(255, 102, 0);" st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, penulis buku, drama, cerita pendek, serta pembicara seminar dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riris tak hanya pakar dalam bidangnya. Suaranya enak didengar. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kesadaran dramatik dalam cara bicaranya, yaitu dengan memainkan tempo dan tinggi rendahnya nada dalam berbicara. Hasilnya akan memikat siapapun yang mendengar. Dalam wawancara yang berlangsung dirumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, dia berbicara banyak hal tentang dunia anak. Terutama pustaka kelana yang dia kelola bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saya ini ahli sastra anak-anak dan banyak menulis untuk anak-anak, di Koran, di majalah dan lain-lain. Curahan hati saya memang untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya masa kanak-kanak. Kita &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; selalu melihat ke depan, “ ujarnya memulai pembicaraan. Berbicara soal buku, ia selalu tampak antusias. Bagi Riris, buku tidak hanya sekedar memuat informasi. Buku pun tidak hanya sekedar jendela menatap dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bagi saya buku itu adalah kehidupan. Jadi bagaimana cara kita bergumul, menghadapi dan memenangkan kehidupan, mau tak mau kita harus masuk kedalam dunia buku, “ katanya ketika menjabarkan arti buku baginya. Namun sayangnya, katanya, tak semua anak-anak &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; bisa memiliki akses membaca buku, apalagi buku-buku bermutu. Jumlah perpustakaan yang ada pun jauh dari memadai serta sepi pula dikunjungi oleh anak-anak. Anak dan remaja lebih suka jalan-jalan ke mall dari pada pergi ke perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Cobalah Anda pergi melihat ke perpustakaan. Buku anak-anak banyak, tapi tidak disentuh dan tidak dibaca. Kertas bukunya masih bagus-bagus, rapi-rapi dan masih mengkilat. Pada hal buku yang terbaca, apalagi sering dibaca, justru akan tampak jadi kumal, lecek dan hampir rusak. Kapan kita bisa melihat anak-anak itu datang berduyun-duyun ke perpustakaan dan melihat mereka bergembira karena tahu bahwa di perpustakaan itu banyak ilmu pengetahuan, “ katanya lebih lanjut. “ Itulah yang membuat saya dan kawan-kawan terpikir untuk membuat suatu perpustakaan yang dekat pada anak-anak dan remaja. Tetapi ,tentunya kami mempertimbangkan anak-anak itu tetap sebagai anak-anak, “ ujar wanita &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;kelahiran Tarutung 24 Pebruari 1950&lt;/span&gt; silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curahan hatinya pada anak-anak &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; banyak dia ungkapkan lewat karya tulis. Karya tulisnya antara lain, Apresiasi Puisi Remaja, Sastra Masuk sekolah, nanda (drama), Perrempuan Di Rumah Tuhan, cairan Perempuan (monolog) dan lain-lain. Bahkan skripsi yang dia tulis untuk mengambil gelar sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, tahun 1975 silam, berbicara tentang bacaan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;Pustaka Keliling Dan Kotak Kelana :&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menumbuhkan agar minat baca anak dan remaja berkembang, salah satu caranya ialah memberikan akses yang mudah bagi mereka untuk membaca buku. Itulah gagasan awal berdirinya perpustakaan Kelana. Waktu itu tahun 1995. Pada awalnya Nasti Reksodiputro, salah seorang pensiunan dosen UI, bersama Riris Sarumpaet, Grace Wiradisastra dan Olvia Beauthauville sepakat untuk mendirikan sebuah yayasan bernama Pustaka Kelana. Kegiatan yayasan ini untuk menyelenggarakan perpustakaan keliling diseputar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; dengan menggunakan sejumlah mobil. Mobil perpustakaan ini akan mendatangi pelosok-pelosok &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dan menggelar buku bacaan bagi anak dan remaja. Selain itu, mereka menyediakan sebuah rumah berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, sebagai rumah pustaka yang diberi nama Pustaka Mangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1996 Pustaka Kelana diresmikan beroperasi oleh Menteri Pendidikan Nasional, kala itu dijabat oleh Prof.Dr.wardiman Djojonegoro. Kendaraan mobil pertama diperoleh dari sumbangan persatuan alumni Jerman, dan mobil kedua dari Citibank Peka (Peduli dan Berkarya). Sedangkan koleksi buku Pustaka Kelana berasal, selain dari sumbangan beberapa pribadi, beberapa penerbit dan bantuan dari Coca-Cola Foundation &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Buku-buku perpustakaan dalam edisi bahasa Inggris antara lain kontribusi dari British Council, Women’s International Club, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:PlaceType&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Canberra&lt;/st1:PlaceName&gt;&lt;/st1:place&gt;, lembaga dari Jepang dan lain-lain. Kerjasama dengan sejumlah lembaga itu murni untuk membangun kesadaran membaca dan memberikan akses yang mudah bagi anak &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk mendapatkan bacaan. Namun, mereka tetap selektif terhadap buku yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Buku-buku Pustaka Kelana memang kita pilih. Saya harus melihat lebih dulu bagaimana moral buku tersebut dan visi apa yang hendak diberikan pada anak yang akan membacanya. Misalnya buku biografi seseorang. Dalam tampilannya bisa saja super lux, tebal dan bagus, tetapi bila saya tahu orang itu koruptor, maka buku itu tak akan masuk ke perpustakaan kami. Atau buku-buku yang bersifat rasialis, pelecehan seksual dan merendahkan martabat manusia, itu juga akan ditolak oleh pustaka Kelana. Kami harus memberi inspirasi positif kepada anak dan remaja melalui apa yang mereka baca, “ jelas Riris. Koleksi pustaka itu kini lebih dari 9000 buku dengan tiga buah mobil Kelana yang menjelajah kampung-kampung dan sekolah-sekolah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“ Bila mobil pustaka Kelana telah tiba dilokasi, biasanya anak-anak pada riuh dan senang. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pekerja pustaka kami, lalu menggelar tikar dan mereka kemudian melayani anak dan remaja yang ingin membaca disitu. Tiap mobil pustaka Kelana bisa melayani 11 tempat dalam setiap minggunya, “ ujarnya lagi memaparkan pelayanan mobil Kelana. Tapi, tidak hanya itu. Di pustaka Kelana anak-anak itu dididik bagaimana cara membaca yang benar. Kadang mereka diajak untuk membuat abstraksi. Kadang diajak bertukar pikiran. Kadang diajak mendongeng. Kadang mereka diajak dalam suatu kegiatan lomba. Lain lagi di pustaka Mangkal. Anak yang datang bisa membaca buku disitu, tetapi juga tersedia ruang untuk nonton. Anak-anak yang nonton akan didampingi dan kadang diajak diskusi tentang film yang telah mereka tonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jadi pendekatan kami sebetulnya lebih kekeluargaan, tapi punya disiplin pendidikan. Anak-anak anggota pustaka Kelana dididik untuk berpikir kritis, tetapi juga diajar supaya punya keperdulian pada teman-temannya, “ ujar penerima penghargaan Satyalencana Karya Satya 20 tahun dan Dosen Teladan I, Fakultas Sastra UI tahun 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; lagi yang disebut layanan Kotak Kelana. Kotak Kelana ini sering mereka kirim ke sekolah-sekolah SD dan SMP di Jakarta untuk mendapat pinjaman buku dari mereka. Setiap Kotak Kelana berisi antara 50 hingga 75 buku, baik berupa buku fiksi maupun ilmu pengetahuan, dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Menurut Riris, Kotak Kelana ini bahkan sudah melayani lintas pulau, menjangkau wilayah-wilayah nusantara, antara lain Aceh, &lt;st1:place st="on"&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt; dan daerah-daerah pulau Jawa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Waktu masa-masa banjir dulu dan gempa meluluh lantakkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; Yogya, kami mengirimkan banyak Kotak Kelana, serta memasang tenda-tenda untuk membantu anak-anak supaya tetap bisa belajar. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; relawan kami kirim untuk membantu anak-anak supaya tetap bisa belajar, “ katanya mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Kotak Kelana ini juga bisa dipesan. Misalnya disuatu daerah, ada seseorang minta dikirimi Kotak Kelana, maka sipemesan hanya membayar satu kali untuk jumlah buku yang ada didalamnya. Untuk bulan-bulan selanjutnya, buku-buku yang telah habis dibaca, bisa ditukarkan dengan buku lainnya tanpa harus membayar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Mobil Kelana dan Layanan Kotak Kelana, kata alumni University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat ini, dalam keseharian dijalankan oleh tiga orang karyawan, dan selebihnya dibantu oleh para relawan. Biaya operasional mereka sekitar 20 juta per bulan. Dana bantuan yang mereka dapat dari sumbangan pribadi maupun kerjasama dengan lembaga atau perusahaan yang memiliki kepeduliaan terhadap anak-anak &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, itulah yang mereka kelola. “ Tapi, setiap dana yang kami terima kami buat laporannya. Tak jarang kami, anggota yayasan, harus menutup kekurangan dana operasional dari kantong sendiri, “ ujarnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari Riris mengajar di Universitas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; untuk mata kuliah pengkajian drama, pengkajian cerita anak dan metode penelitian sastra. Kini, sebagai dosen luar biasa untuk program pasca sarjana UI, dia antara lain mengajar sastra kontemporer dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;Bangga Sebagai Perempuan Batak&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Riris mengaku bangga terlahir sebagai wanita Batak. Katanya, sifat berterus terang, tegas dan kritis serta peduli pada sesama yang jadi bagian dari integritas dirinya itu, diturunkan dari orangtuanya. Riris, anak kelima dari sembilan bersaudara, lahir dari pasangan Saladin Sarumpaet dan Yulia Hutabarat. Orangtuanya, Saladin Sarumpaet, dahulu dikenal sebagai pendiri Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan pernah menjadi Menteri Pertanian dan Perburuhan dalam masa pemerintahan revolusioner buatan PRRI/Permesta. Menjelang akhir hidupnya, Saladin Sarumpaet pernah mengajar di Sekolah Tinggi Theologia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, selain memberi andil mendirikan gereja HKBP Rawamangun. Juga pernah sebagai pejabat aktif di Dewan Gereja &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; (DGI). Ibunya, Yulia Hutabarat, dahulu dikenal sahabat dekat Mohammad Hatta dan pernah menjabat Ketua Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Sumatera Timur serta anggota Konstituante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergaulannya dalam lintas budaya dan disiplin ilmu mempertemukannya dengan seorang pria Sunda, Ir.Franciscus Toha, pengajar di Departemen Teknik Sipil, ITB. Mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah pada 8 Desember 1979 di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Wisconsin&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;, Amerika Serikat. “ Dia bangga dan senang dapat wanita Batak, “ kata Riris ketika menyinggung sekitar perjalanan rumah tangganya. Suaminya pun telah lama dirajahon, diberi marga Manulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut suaminya, perempuan Batak itu memiliki karakter kuat dan bertanggung jawab. Dari buah perkawinan mereka, Tuhan telah mengaruniakan pada mereka tiga orang putri yaitu Risa, Astrid dan Thalia Toha. Biduk rumah tangga yang telah mereka dayung selama hampir tiga puluh tahun, hanya dimungkinkan karena adanya saling pengertian antara mereka. “ Makin hari rumah tangga kami makin baik, makin harmonis, seiring dengan umur kami yang semakin tua. Karena apa ? Karena dialah yang paling mengenal diri saya dan sayalah yang paling mengenal pribadi suami saya, “ simpulnya seraya tersenyum bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah Tapian, edisi September 2008.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-3834820592075320678?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/3834820592075320678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=3834820592075320678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/3834820592075320678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/3834820592075320678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/12/riris-ktoha-sarumpaet-hatinya-untuk.html' title='Riris K.Toha Sarumpaet, Hatinya Untuk Anak Indonesia'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/STZDYJyR2II/AAAAAAAAAC0/Ou8k8PJWMR8/s72-c/riris+sarumpaet.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-7932700589867471047</id><published>2008-08-26T23:45:00.000-07:00</published><updated>2008-08-26T23:49:57.737-07:00</updated><title type='text'>Tamara Geraldine Boru Tambunan</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;By Sahala Napitupulu&lt;/span&gt;    &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; banyak hal yang menarik keluar dari celotehnya ketika diajak berbicara tentang ulos Batak, meskipun kadang dengan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang disampaikannya lewat canda. Itulah Tamara Geraldine, salah satu selebritis Batak kelahiran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, anak kedua dari pasangan ayah L.M.Tambunan dan ibu Y.boru Sibarani. Wajah cantik dengan senyumannya yang manis dahulu kerap kita temui dibeberapa acara stasiun televisi swasta sebagai presenter. Seperti dalam acaa sepakbola Liga Calcio di RCTI dan kuis hiburan Go Show di TPI, selain banyak menjadi model dan bintang iklan. Belakangan dia membuat kejutan sebagai penulis dengan menerbitkan kumpulan cerita pendeknya dalam judul lumayan panjang, “ Kamu Sadar Saya Punya Alasan Untuk Selingkuhkan Sayang “ dan buku keduanya tentang biografi penyanyi Yuni Sahara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ditemui dirumahnya dalam sebuah wawancara dengan Tapian (20/10), Tamara bertutur tentang seleranya terhadap ulos Batak. “ Saya enggak suka ulos yang terlalu colourfull, yang manik-maniknya terlalu banyak seperti jenis ulos Sadum. Saya suka dengan warna ulos yang redup karena mudah dikombinasikan. Menurut ompung saya, warna budaya Batak ini hanya ada tiga, yaitu merah, hitam dan putih. Saya suka ulos dengan tiga unsur warna itu saja paling dominan. Kalau sudah ada warna ungu dan segala macam warna, saya malas memajangnya, “ ujar Tamara. Dirumahnya dia memajang sejumlah ulos Batak, terutama ulos-ulos yang punya nilai historis dalam hidupnya. Diantara koleksinya ada ulos yang sudah berusia seratus tahun lebih yang dia dapat dari warisan ompungnya. Dia menata ruang rumahnya dengan keseimbangan antara unsur Oriental dan unsur Batak sehubungan dengann suaminya sendiri berasal dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tien Thinh Pham, pengusaha asal &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang telah mempersuntingnya 7 tahun silam, oleh keluarga Tamara telah dirajaon bermarga Nainggolan Parhusip. Perkawinan antar suku bangsa ini oleh keluraga Tamara tidaklah terlalu bermasalah sejauh mereka mau diadati dengan adat Batak Toba. “ Kalau kalian enggak diadatin, kalau suaminya enggak ada marganya, nanti kalau kalian diundang di pesta-pesta adat, kalian akan bingung mau duduk dimana, di paranak atau di parboru ? “ ujar Tamara menjelaskan alasan tuntutan keluarganya. Menurut Tamara suaminya tidakla terlalu sulit beradaptasi dengan adat budaya Batak, karena di negeri suaminya di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pun mengenal konsep Dalihan na tolu seperti di Batak. Boleh jadi benar, karena memang ada teori mengatakan orang Sumatera Utara, khususnya orang Batak, cikal bakalnya datang dari Phunam dan Phunam itu dari Indocina. Dengan dirajaon menjadi Nainggolan Parhusip, kata Tamara lagi, suaminya jadi merasa punya keluarga besar disini terutama karena pertalian Dalihan na tolu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“ Cuma suamiku bilang orang Batak ini agak aneh. Orang Batak kalau bicara di pesta-pesta adat maupun acara penghiburan selalu dibuka dengan kata Jadi dan ditutup dengan kata Botima. Selalu begitu, diawali dengan kata Jadi lalu ditutup denga Botima. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; apa dengan 2 kata itu ? “ cerita Tamara tentang pengamatan suaminya terhadap &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bicara orang Batak. Dia dan suami, sejauh waktu memungkinkan, kerap juga menghadiri undangan pesta-pesta Batak, bahkan pernah mangulosi. “ Tapi itu dia, pernah ketika kami mau memberi ulos kepada mempelai, saya manortor, suami saya malah tari Cha Cha, “ kata Tamara sambil tertawa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saat ditanya pengalaman paling emosional yang pernah dia alami berhubungan dengan ulos, Tamara menyebut tiga peristiwa. “ Pertama, pada saa menikah, saya dan suami diulosi. Kedua, pada saat anak saya Tjazkaya Loedwige Poetry tardidi, kami sekeluarga diulosi. Dan ketiga, pada waktu ompung meninggal, tradisinya kami harus rebutan ulos ompung, “ katanya sambil mengingat-ingat kembali. “ Hanya saya enggak yakin, apa itu karena ulosnya atau karena momentnya, “ ujarnya menambahkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bagi Tamara, ulos Batak itu hanya sebuah identitas etnik saja. Identitas dari mana dia berasal. Tidak lebih. Karena itu dia tidak pernah memberhalakan. Hal ini menyinggung adanya sebagian sikap orang Batak yang sangat mengkultuskan ulos pemberian hula-hula, orangtua, ompung atau tulang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“ Ompung dan orangtuaku memang paradat, tapi waktu mengulosi kami, mereka selalu bilang ulos ini hanya simbol saja. Tapi tetap kalian berjalan supaya diiring Tuhan Yesus. Jadi jangan lihat ini sebagai benda yang mengikat atas kuasa yang lain, selain dari kasih Tuhan itu sendiri, “ kata Tamara menjelaskan sikap yang ditanamkan keluarganya dalam memandang ulos. Karena itu dia tak pernah mau membeli ulos yang dikerjakan dengan perhitungan hari-hari tertentu sehingga terkesan mistik dan berhala. Dia pun tak pernah berburu ulos secara khusus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Menjawab pertanyaan Tapian tentang filosofi ulos baginya, Tamara merujuk apa yang pernah ia dengar. “ Ompung memetaforkan ulos itu sebagai selimut. Arti selimut, dia bisa kasih kehangatan kalau kita dingin, dia bisa menaungi kita dari hujan. Itu yang aku tahu, “ ujarnya. Dia mengakui tidak banyak mempelajari tentang sejarah dan filosofi ulos. Namun dimatanya ada keunikan orang Batak dalam memakai ulos. Misalnya ketika orang pergi ketempat duka cita, ulos yang dikenakan berbeda dan berbeda lagi ketika mereka pergi ketempat pesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tetapi Tamara juga melihat ‘keanehan’ para waknita Batak dalam berbusana ke pesta adat perkawinan. “ Lihat saja dimana-mana pesta perkawinan para wanita Batak justru kebanyakan pake kebaya dan Songket Palembang. Datangnya ke pesta adat Batak tapi pakenya Songket Palembang, “ ujar Tamara menyayangkan. Menurut Tamara hal ini disebabkan belum ada perancang busana Batak yang dia anggap betul-betul serius dan berhasil dalam menangani ulos sebagai produk fashion. Tamara kemudian membandingkannya denga kain Batik Jawa. “ Lihat Batik Jawa. Batik bisa dijadikan baju sehari-hari tapi juga bisa tampil glamour, tentu karena ada perancang busana yang serius mengerjakannya, “ ujar Tamara mengkritisi kalahnya pamor ulos dalam mode dan produk fashion. Demikian Tamara berbagi pandangannya kepada Tapian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;* tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya pada majalah Tapian, edisi November 2007.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-7932700589867471047?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/7932700589867471047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=7932700589867471047' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/7932700589867471047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/7932700589867471047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/08/tamara-geraldine-boru-tambunan.html' title='Tamara Geraldine Boru Tambunan'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4534216001108093517.post-322075419540436898</id><published>2008-08-08T01:02:00.000-07:00</published><updated>2008-08-08T01:21:09.859-07:00</updated><title type='text'>Parmalim Antara Agama Dan Budaya Batak</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);"&gt;By Sahala Napitupulu.&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Keberadaan agama Parmalim hampir saja berlalu dari ingatan sejarah. Tak banyak lagi orang mengenal atau pernah mendengar agama Parmalim, terutama kaum muda sekarang. Kalau saja saya tidak membaca laporan tulisan sdr.Ahmad Arif di harian Kompas tentang ritual kaum Parmalim di Laguboti, maka saya pun sudah lama melupakannya bahwa agama Parmalim pernah menjadi bagian dari sejarah di tanah Batak. Berdasarkan laporan tulisan sdr.Ahmad Arif, disebutkan pada pertengahan bulan Juli 2005, di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, ternyata masih ada ribuan pengikut Parmalim. Mereka datang dari berbagai belahan nusantara. Mereka berkumpul di bale Partonggoan atau balai peribadatan dan melakukan upacara ritual mereka dibawah pimpinan raja Marnakok Naipospos ( cucu raja Mulia Naipospos ), sang pemimin spiritual umat Parmalim saat ini (Kompas 19/9-2005).&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebagaimana saya sebutkan diatas, dengan laporan tulisan Kompas tersebut ingatan saya kembali merasa disegarkan dengan tanah Batak. Karena bagaimanapun, dahulu kala, Parmalim dalam sejarahnya, selain mengandung muatan teologia, agama Parmalim juga mengandung muatan lokal budaya Batak. Bahkan ia pun pernah menjadi suatu gerakan politik seperti gerakan Parhudamdam untuk melawan pemerintah kolonial Belanda. Parmalim hingga hari ini masih ada pengikutnya, meskipun sampai kini pemerintah belum mengakuinya sebagai agama resmi di Indonesia. Karenanya, tulisan saya ini tidak dalam posisi dukung-mendukung, kecuali hanya sebagai wacana dari sebuah ingatan sejarah. Jika pemerintah tidak mengakuinya sebagai agama resmi di Indonesia tentunya punya alasan kuat, sebagaimana mereka pun punya alasan mengapa sampai hari ini menjadi penganut Parmalim. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Tiga Tokoh Utama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tanah Batak sebelum masa pendudukan kolonial Belanda, sebetulnya telah lebih dulu dimasuki para misionaris Eropa, terutama melalui zending Jerman Rheinesche Mission Gesselschaft (RMG) dengan tokoh utamanya Nommensen. Kedatangan para misionaris Eropa pada masa itu didorong oleh suatu semangat untuk memberitakan injil Yesus, mengembangkan agama Kristen, sehingga tanah Batak terbebas dari belengggu kegelapan rohani.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun kehadiran para misionaris itu kemudia menimbulkan pergesekan dan konflik dengan raja-raja Batak. Misalnya pengusiran yang pernah terjadi sekitar tahun 1824 atas Richard Burton, Nathanie Ward dan Evan Brookers yang berasal dari Baptis Mission Society di Inggris. Mereka mendapat perlawanan oleh raja-raja Batak ketika mencoba mengembangkan agama Kristen. Alasan penolakan oleh para raja Batak, karena mereka tak dapat meninggalkan budaya dan kepercayaan para leluhur Batak yang telah hidup sebelumnya. Bahakan konflik berlanjut menjadi tindakan pembunuhan, seperti yang terjadi pada tahun 1834 atas penginjil Samuel Munson dan Henry Lyman ( dari misi Kristen Amerika dan Boston ) di huta Sisangkak, Lobupining, dimana raja Panggalamei dan hulu balangnya diduga sebagai pelakunya.&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Agaknya dalam lingkupan masuknya para misionaris Eropa itulah berkembangnya sekte Parmalim. Tetapi sebelum kedatangan para misionaris itu, tentu sudah ada agama kepercayaan para leluhur yang sudah hidup ditanah Batak, seperti nampak dalam ritual pesta Bius. Pesta Bius ini mempunyai sifat religius tetapi juga sekuler. Adalah Parbaringin yang bertindak selaku imam menyelenggarakan ritual dan upacara korban (fungsi religiusnya) tetapi kehadiran raja na-opat (raja berempat) sebagai wakil pemerintahan raja si Singamangaraja adalah fungsi sekulernya. Pesta Bius terjadi umpamanya untuk memohon turunnya hujan, menghentikan penyakit cacar, kolera atau wabah penyakit lainnya, atau untuk pesta tahunan yang bersifat kurban agricultural (sehabis panen). Umumnya orang berpendapat pesta Bius diselenggarakan adalah menurut pesan dari raja si Singamangaraja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dahulu kala, dalam kehidupan rakyat di tanah Batak, dinasti si Singamangaraja bukan hanya merupakan raja-imam (priesterkoning), tetapi juga dianggap sebagai primus inter pares atau maha raja.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak jelas betul siapa sebenarnya pendiri sekte Parmalim ini, meski ada tiga tokoh yang sering disebut-sebut sebagai tokoh utamanya, yaitu si Singamangaraja, Guru Somalaing Pardede dan raja Mulia Naipospos. Beberapa sarjana Barat seperti Karl Helbig dan Pedersen berpendapat bahwa munculnya agama ini dalam rangka usaha si Singamangaraja, sekitar tahun 1870, untuk menjaga agar agama Batak kuno tetap terbina dalam menghadapi agama Kristen, Islam dan penjajah Belanda. Mengingat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guru Somalaing dan raja Mulia Naipospos adalah bekas panglima perang si Singamangaraja, besar kemungkinan kedua tokoh inilah yang paling berperan dalam mengajarkan dan memperkembangkan agama Parmalim kepada rakyat di tanah Batak. Raja Mulia Naipospos konon pernah mendapat surat secara langsung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari si Singamangaraja untuk mengurus agama ini dan keberadaan surat itu masih dapat dilihat hingga kini di Huta Tinggi, Laguboti.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akan halnya Guru Somalaing Pardede berasal dari Hauma Bange dekat Balige. Dia dikenal sebagai datu bolon (dukun besar). Masa itu kelompok datu harus dilihat sebagai kaum elit dan intelektuanlnya orang Batak. Merekalah yang menguasai ilmu gaib, penyembuhan, astrologi, sastra dan mengerti pustaha Batak. Selain sebagai datu bolon, Guru Somalaing pernah melakukan banyak perjalanan bersama Elio Modigliani menelusuri daerah-daerah di tanah Batak (1889-1891). Dialah pemandu perjalanan sekaligus penterjemah Elio Modigliani, ahli ilmu botani berkebangsaan Italia.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dengan melakukan banyak perjalanan bersama Modigliani, Guru Somalaing dapat menyerap berbagai aliran keagamaan yang hidup di masyarakat waktu itu dan kemudian mencoba “ meramunya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“ dalam konteks agama dan budaya Batak. Hal ini bisa dilihat dari adanya berbagai muatan agama dan budaya didalam agama Parmalim seperti Islam, Kristen dan agama kepercayaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para leluhur Batak. Guru Somaling yang memberi penafsiran tentang Trinitas menjadi terdiri dari Yehowa, Yesus dan Bunda Maria (masuknya unsurnya Katolik ini jelas melalui pengaruh Modigliani). Hanya dalam perkembangan selanjutnya, Guru Somalaing lebih menyebar luaskan ajarannya kepada gerakan politis dari pada teologis. Menyebar luaskan unsur kebencian terhadap orang kulit putih terutama kolonial Belanda nengakibatkan dia ditangkap. Guru Somalaing kemudian dibuang ke Kalimantan sekitar 1896.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Ritual Parmalim&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam ibadah kaum Parmalim ini, kemenyan (dupa) dan gondang digunakan. Gondang sebagai musik tabuh Batak justru dilarang misionaris Kristen. Juga air jeruk dalam ritus membersihkan diri. Babi dan darah tidak dimakan. Rambut dan kuku sedapat mungkin tidak digunting, serta poligami tidak dilarang. Dalam ritual kaum Parmalim, mereka juga mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama. Tetapi mereka juga percaya dapat memanggil roh para leluhur seperti si Singamangaraja, raja Hatorusan dan Ompu raja Uti (tokoh mitologi Batak), Sideak Parujar dan Naga Padoha (dewa-dewa Batak), juga raja Rum dan raja Stambul (barangkali maksudnya Paus dan Sultan Turki).&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebagaimana tulisan sdr.Ahmad Arif dalam Kisah Para Malim Tanah Batak, dijelaskan bahwa kata Parmalim sendiri bisa dipisahkan dalam dua kata, yaitu Par dan Malim. Par dalam bahasa Batak Toba berarti orang yang mengerjakan atau menganut sesuatu. Malim sendiri berasal dari bahasa masyarakat di pesisir pantai, baik Melayu maupun Minangkabau yang beragama Islam, yang artinya pemuka agama atau pintar dalam pengetahuan agama yang luas.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun patut dipertimbangkan dalam ucapan Batak kuno, si Singamangaraja biasanya disebut selaku orang yang 7 hali malim dan 7 hali solam. Pengertian malim disini ialah pengertian Batak kuno yang merujuk kepada imamat (keimaman). Artinya keimaman si Singamangaraja lebih tinggi dari imam-imam para pemimpin Batak yang lain seperti Parbaringin. Jadi makna perkataan malim disini tidak berhubungan dengan perkataan “alim” dalam bahasa Arab (Islam). Sedangkan Solam disini menekankan kemurnian dan kesucian, juga tidak ada hubungannya dengan salam atau salama dalam bahasa Arab. Menurut keyakinan si Singamangaraja I dan seterusnya, selaku raja-imam mereka harus mempertahankan kemurnian dan kesucian hidup, seperti holy man orang Hindu, supaya dapat berhubungan langsung dengan Mula Jadi Na Bolon atau Batara Guru.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rumusan 7 kali malim dan 7 kali solam konon diambil dari permulaan doa orang Batak kuno yang ditujukan kepada si Singamangaraja : “ Hupio, hutonggo, hupangalu-alui sahala ni rajanta si Singamangaraja sian Toba Bakara, sian Bakara Dolok namardindingkon dolok na marhire-hireon ombun na 7 hali malim na 7 hali solam, sinolamhon ni omputa Mula Jadi Na Bolon..(Kuserukan, kudoakan, kusampaikan keluih kesahku kepada roh raja kita si Singamangaraja dari Toba Bakara, dari Bakara yang tinggi bertembokkan bukit, yang bertiraikan embun, yang 7 kali suci dan 7 kali putih bersih, yang diputih bersihkan oleh eyang kita Mula Jadi Na Bolon) “&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan bandingkan disini dengan gelar si Singamangaraja XII pada tahun 1875, dalam rumusan doanya nampak dialamatkan pertama-tama kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ompung Mula Jadi Na Bolon, lalu kepada Debata Guru dan serangkaian dewa-dewa Batak yang menunjukkan adanya pengaruh agama Hindu, lalu kepada manusia seperti raja Rum dan lain-lain, seperti kutipan doanya dibawah ini : “ Ya Ompung Mula Jadi Na Bolon, Engkaulah yang menjadika segala yang ada, Engkaulah yang menjadikan telinga agar dapat mendengar, Engkaulah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadikan mulut agar adapat berbicara, Engkaulah yang membulatkan jantung, yang mengembangkan loh hati, Engkaulah yang menjadikan kesepuluh jari agar dapat memohon. Kupanjatkan juga kepada Daompung Debata Guru, Naguru Doli, Na Guru panantanan dan Daompung Sorimangalabulan. Kemudian kusampaikan juga doaku kepada Daompung martua raja Uti, Uti yang tak kunjung mati. Kuserukan juga doaku kepada Daompung Tuan Soripada Aceh, Daompung martua raja Rum, kupohonkan juga doaku kepada namboru siboru Deak Parujar, yang banyak ujarnya, yang banyak pengetahuannya, yang berpakaian nan indah, yang cukup tingginya dan pantas rendahnya. Sudah jadi kupanjatkan doaku kepadamu sekalian. “&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam agama Batak kuno dipercaya sang pencipta segala sesuatu ialah Mula Jadi Na Bolon. Debata Guru adalah putra Mula Jadi Na Bolon yang paling terkemuka selain Soripada (yang mungkin berasal dari bahasa Sanskerta Sripada = jejak kaki yang suci) dan Mangalabulan. Mirip dengan Trimurti dalam Hinduisme.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dahulu kala pengikut Parmalaim ini tersebar diseluruh wilayah Batak Toba, bahkan sampai ke daerah Lobutua, Barus. Mereka menganggap bahwa Huta Tinggi, Laguboti yang sekarang sebagai pusat kegiatan agama Parmalim sekarang ini. Disanalah raja Sutan Mulia Naipospos pernah mendirikan bale partonggoan atau bale peribadatan kaum Parmalim yang mirip dengan yang ada di daerah Bakara, pusat dinasti si Singamangaraja.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;* tulisan ini telah dimuat sebelumnya di majalah budaya Batak, Bona Ni Pinasa, edisi Februari 2006.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4534216001108093517-322075419540436898?l=sahalana7o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sahalana7o.blogspot.com/feeds/322075419540436898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4534216001108093517&amp;postID=322075419540436898' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/322075419540436898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4534216001108093517/posts/default/322075419540436898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sahalana7o.blogspot.com/2008/08/parmalim-antara-agama-dan-budaya-batak.html' title='Parmalim Antara Agama Dan Budaya Batak'/><author><name>sahala napitupulu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03962066688328082818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0g5IOoeuCY0/SSO6usdKMvI/AAAAAAAAACU/Q_dNgalWIjU/S220/New+Image.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
