Selasa, 10 Februari 2009

Dari Tuba Jadilah Danau Toba



Didongengkan kembali oleh : Sahala Napitupulu

Di jaman na robi, tersebutlah dalam turi-turian orang-orang tua Batak kisah tentang terjadinya Danau Toba. Adalah seorang dewi cantik yang tinggal di banua ginjang (dunia atas) yang melanggar adat para dewa, sehingga dia mendapat hukuman dari Mula Jadi Na Bolon, sang penciptanya. Mula Jadi Na Bolon mengubah dewi yang cantik itu menjadi seekor ikan, dan melemparkannya ke banua tonga (dunia tengah) tempat tinggalnya manusia.

Di bagian utara Sumatera, hiduplah seorang pemuda. Mata pencahariannya bertani dan mendurung ikan. Dia kesepian. Kedua orangtuanya telah lama meninggal. Tubuhnya kekar. Wajah tampan. Tetapi, ditengah kesepiannya yang teramat dalam, dia sering memanjatkan doa memohon supaya Mula Jadi Na Bolon memberinya seorang istri sebagai pendamping hidupnya. Mula Jadi Na Bolon kasihan mendengarkan doanya. Suatu malam, dalam mimpinya dia mendapat isyarat dari Mula Jadi Na Bolon bahwa dia akan mendapatkan seorang istri yang cantik.

Sudah berhari-hari mimpinya itu berlalu. Seperti biasa, sang pemuda pun pergi mendurung ikan. Namun, aneh, hari itu, dari pagi hingga sore, tak seekor ikan pun berhasil dia dapatkan. Dia bersiap-siap untuk pulang. Tiba-tiba matanya melihat seekor ikan besar berwarna kuning keemasan melntas di air sungai. Segera dia turun kembali ke dalam air dan menangkap ikan tersebut dengan jalanya. Ikan itu segera dia bawa pulang.

Di rumahnya, sang pemuda berlama-lama menatap ikan tersebut. Hatinya dilanda kebimbangan. Dia ingin memasak ikan itu sebagai lauknya malam itu karena dia sudah sangat lapar. Tapi, karena warna ikan itu sangat indah dipandang mata, maka ia merasa tak sampai hati untuk memasaknya. Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengurungkan niat untuk memasak ikan tersebut dean memasukkannya kedalam wadah besar untuk dipelihara. Dia pun berangkat tidur dengan menahan rasa lapar.

Pagi hari, dalam pesona keindahan saat matahari baru terbit, dia sudah berada di ladangnya. Dia menanam padi dan menyiram sayur-sayuran. Maka, seperti biasa, apabila tengah hari, dia pun pulang ke rumah untuk makan siang. Setiba di rumah, betapa dia terkejut, karena makanan lengkap dengan lauknya sudah tersedia. Dia melihat kesekeliling, tapi seorang pun tak. Dia melongok ke dalam wadah. Ikan itu pun masih berada dalam tempatnya. Dia tak habis pikir. Dan dalam sekejap saja makanan tadi habis dilahanya karena lapar.

Demikianlah berulang-ulang terjadi setiap hari. Manakala dia pulang tengah hari dari ladangnya, makanan telah tersedia. Tetapi, siapakah gerangan yang telah memasak makanan itu ? Dia tak pernah tahu. Didorong oleh rasa penasaran, suatu pagi sang pemuda pun keluar dari rumah. Dia berjalan seolah-olah seperti biasa menuju ke ladang. Namun, ditengah jalan, dia berbelok kembali ke rumah dan bersembunyi di balik rimbun pohon. Dari situ dia dapat melihat keadaan rumahnya.

Lama sang pemuda mengamati, namun tak ada satu pun tanda-tanda ada orang didalam rumahnya. Dia terus menunggu dan mengamati. Dia mulai didera rasa bosan. Beberapa lama kemudian, tiba-tba tampak asap mengepul keluar dari dapur rumahnya. Dia cepat-cepat keluar dari persembunyiannya. Dia melangkah memasuki rumah. Tapi, dia hampir tak percaya melihat didalam rumahnya ada seorang wanita cantik.
“ Siapakah kamu sesungguhnya. Dan apa yang sedang kamu lakukan ? “ katanya setelah menangkap wanita tersebut. Wanita itu terkejut tapi diam seribu bahasa. Sang pemuda melihat kedalam wadah tapi ikannya tak ada disitu.
“ Kamu apakan ikan saya ? Mana ikan yang ada dalam wadah ini ? “ tanyanya. Beberapa saat, dia melihat wanita itu mulai menangis. Sang pemuda semakin heran.
“ Sayalah ikan itu, “ jawab wanita itu kemudian. Lalu, dia menceritakan asal-usulnya dan kutukan yang dia terima karena melangar adat para dewa di banua ginjang. Sang pemuda terdiam. Kini, dia mengerti bahwa ikan itu menjadi wanita cantik karena sudah terbebas dari kutukan.
“ Sekarang, maukah kamu menjadi istriku ? “ tanyanya beberapa saat kemudian. Wanita itu tetap diam membisu.
“ Mengapa engkau diam ? Jadilah engkau istriku, “ desak si pemuda lagi.
“ Baiklah jika itu kehendakmu. Tetapi, dengan satu syarat,” pintanya.
“ Apakah syarat yang engkau pinta ? “
“ Kelak, jika kita sudah memliki anak, maka jangan sekalipun engkau pernah berkata kepada anak kita bahwa dia berasal dari ikan “ ujarnya kepada sang pemuda. Pemuda itupun bersumpah akan memegang janjinya. Mereka pun menikah.

Bertahun-tahun rumah tangga mereka tampak bahagia. Terlebih-lebih setelah mereka memiliki seorang bocah lelaki. Namun, sayangnya, anak ini semakin besar semakin menunjukkan kenakalan. Kerjanya banyak bermain dan pulang ke rumah ketika perutnya sudah lapar. Kedua orangtuanya sering menasehati, tetapi tak pernah dia perhatikan.

Hingga pada suatu hari, demikian menurut turi-turian dalam homepage nainggolan.net, ibunya menyuruh anak itu mengantarkan makanan untuk ayahnya di ladang. Tapi, apa yang dilakukannya ? Anak ini menyembunyikan makanan tadi dan pergi bermain bersama teman-temannya. Puas bermain, anak ini pun merasa lapar. Dia mengambil makanan yang dia sembunyikan tadi. Dan melahap nasi bungkus untuk ayahnya itu. Setelah itu baru dia pergi ke ladang dan menyerahkan bungkusan kosong kepada ayahnya. Ketika sang ayah membuka bungkusan titipan istrinya itu, betapa dia terkejut karena hanya menemukan tulang ikan di dalam bungkusan.
“ Anakku, mengapa hanya tulang ikan isi bungkusan ini ? “
“ Tadi habis bermain bersama kawan-kawan, perutku terasa lapar Among (bapak), jadi aku memakannya, “ jawabnya ringan. Mendengar ucapan anaknya itu, emosi sang ayah mendidih. Dari pagi dia merasa lapar sehabis kerja keras mengolah ladang. Dan siang ini dia hanya mendapat tulang ikan saja. Maka, dengan nada marah, sang ayah pun berkata kepada anaknya “ Betulah kamu memang anak ikan ?!” bentaknya keras terhadap anaknya itu. Sang anak terkejut dan menangis. Segera dia berlari pulang ke rumah menemui ibunya.
“ Inong (ibu), tadi kata among bahwa aku ini anak ikan, betulkah ? “ tanyanya terisak. Ibunya terkejut. Sekejap air matanya pun mengalir menyesali perbuatan suaminya.
“ Suamiku, engkau telah melanggar sumpahmu, “ katanya sedih.

Seketika langit menjadi gelap. Petir dan angin gemuruh menderu-deru. Hujan dan badai pun sambar menyambar. Sang ibu dan anak itu tiba-tiba raib. Tapi, dari bekas telapak kaki mereka kemudian muncul mata air. Airnya keluar dengan sangat keras dan lama kelamaan membentuk sebuah danau. Pada mulanya, orang menyebutnya Danau Tuba (artinya danau tak tahu berbelas kasih). Tetapi, karena lidah orang Batak susah menyebut Tuba, maka Tuba berubah menjadi Toba. Dan, jadilah Danau Toba.


* Cerita legenda ini telah dimuat sebelumnya di majalah TAPIAN, edisi Juli 2008.

Rabu, 17 Desember 2008

Viky Sianipar, Pemuja Batak setengah mati !




By Sahala Napitupulu.

Perkenalkan, namaku Viky Sianipar. Ya, Sianipar ! Aku memang Batak. Tak terbayangkan sepuluh tahun yang lampau yang punya nama begitu percaya diri untuk memperkenalkan diri seperti itu. Dan dengan bangga pula menyebutkan marganya.

Viky lahir dan dibesarkan di perkampungan orang Betawi. Didalam gang sempit dengan rumah kecil-kecil dan saling berdempetan di wilayah Manggarai, Jakarta. Bahasa pengantar sehari-hari yang berlaku di rumahnya adalah bahasa Indonesia. Ibunya orang Sunda, tetapi pandai sekali marhata Batak dalam bahasa Batak. Ayah dan ibunya berbahasa Batak kalau ada hal yang ingin mereka rahasiakan, tak ingin diketahui anak-anak.

“ Karena keterbatasan dana orangtua pada waktu itu, aku disekolahkan di satu sekolah dasar dekat rumah, yang mayoritas murid-muridnya penduduk sekitar. Tidak ada orang Bataknya sama sekali, “ kata Viky. Teman-temannya sering mengejek Viky kecil sebagai orang Batak dengan konotasi negatif. Awalnya dia cuek saja. Tapi, lama-lama dia jengkel juga, namun tak tahu harus berbuat apa. Sementara pengetahuannya tentang Batak amat terbatas.

“ Yang kutahu tentang Batak cuma pesta Bona Taon yang lama dan membosankan. Cara bicara saudara-saudara dari tanah Batak yang keras dan kasar. Pesta adat perkawinan yang penataan makanannya jorok, membuatku mual setiap kali menghadirinya. Jadi apa yang dapat kubanggakan dari Batak untuk bikin teman-temanku iri ? “ tanya musikus muda itu, dan dia jawab sendiri, “ Enggak ada..!” Karena itu, dia sempat membenci takdirnya terlahir sebagai Batak, sehingga masa itu dia sengaja tidak mau mencantumkan marga Sianipar dibelakang namanya.

Viky sejak kecil telah bersentuhan dengan dunia musik. Dia mulai belajar musik klasik tahun 1982 di Yayasan Pendidikan Musik, yang terletak sekitar satu kilo dari rumahnya. Malang, oleh guru-gurunya dia dianggap tidak becus dan kemudian harus drop out.

Waktu itu, baginya belajar musik klasik sangat membosankan. Dia tergila-gila dengan The Beatles, kelompok dari Inggris yang menggoyang dengan musik-musik pop yang merebut hati anak-anak muda di seluruh dunia. Sudah tak cocok dengan musik klasik, Viky juga tidak kepingin mendengar lagu-lagu Indonesia. Apalagi musik nenek moyangnya, Batak. Dia penggemar fanatik The Beatles, yang lain seakan tiada. “ Kayaknya haram dengar musik yang lain kecuali The Beatles, “ katanya mengenang.

“ Enggak tahu kenapa, aku enggak senang lagu Indonesia. Buat aku kampungan, gitu lho. Apalagi lagu-lagu Batak. Makanya, artis-artis Indonesia tahun 90-an ke belakang banyak yang tidak aku kenal, “ sambungnya pula. Selain The Beatles, dia juga kesengsem pada kelompok musik Queen, Police, Duran Duran, David Foster, Toto hingga Genesis.

Mencari Roh yang Hilang

Pendidikan formalnya dia tempuh di SD Budi Asih tahun 1988. Melanjut ke SMP St.Theresia, selesai tahun 1991. Lulus Sekolah Menengah Atas St.Theresia tahun 1995, setelah satu kali tinggal kelas. Setelah lulus sekolah menengah atas, Viky masih malu mengaku Batak. Pernah dia mengeker seorang cewek, tapi begitu tahu cewek itu boru Batak, dia pasang kuda-kuda. Langsung mundur. Viky adalah anak Batak yang sedang terlepas dari akarnya.

Dalam perjalanan waktu, sebagai seorang pengusaha, orangtuanya sukses. Kesempatan pun terbuka buat Viky untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Dia studi bahasa Inggris di Berkeley, sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Sambil belajar bahasa, dia kursus memetik gitar elektrik pada George Cole, salah seorang murid terpenting Joe Satriani, gitaris tersohor Amerika keturunan Italia.

Titik balik jalan hidup Viky jatuh di tahun 2001. Dari seorang pembenci dia berbalik menjadi pemuja setengah mati. Ceritanya, waktu itu MS Production perusahaan rekaman milik ayahnya, dimana Viky duduk sebagai musik director-nya, menggelar konser musik “ Save Lake Toba “, bekerja sama dengan Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba. Konsep konser ini menyuguhkan lagu-lagu Batak yang bisa merangkul kaum muda.

Sejak itu, kecintaannya terhadap Batak mulai tumbuh, meski dia merasa belum menemukan “ roh “ kebatakannya. Baru pada bulan Mei 2007, Viky merasa “ dilahirkan kembali sebagai putera Batak “ ketika dia berkunjung ke Sianjur Mula-Mula dan naik ke Pusuk Buhit, mendaki bukit sakral itu seperti mau mencari roh yang hilang. Di dalam legenda, Pusuk Buhit dilukiskan sebagai singgasana si Raja Batak diturunkan dari langit oleh Ompu Mula Jadi na Bolon ( Allah Pencipta Alam Semesta ).

Perjalanann ziarah ke Pusuk Buhit itu agaknya dirasakannya sentimental, namun benar-benar merubah Viky dalam melihat Batak dan budayanya. Dia menjadi sangat “ bangga terlahir sebagai orang Batak. “ Dengan teguh dia katakana : “ Ternyata Batak itu merupakan salah satu suku bangsa yang mempunyai peradaban paling tinggi di dunia. Kekayaan peradaban itu bisa kita lihat dari seni budayanya. Bangsa yang memiliki peradaban tinggi tidak hanya memikirkan soal perut saja, tapi juga seni, filosofi dan ilmu-ilmu lainnya. Dan itulah Batak ! “ katanya meyakinkan.

Agama Masalah Pribadi

Di Batak, katanya, orang bisa menyaksikan seni ukir gorga, seni ulos. Dan jangan lupa, Batak mempunyai aksara sendiri. “ Tetapi, yang luar biasa lagi buat saya adalah sistem kekerabatan Dalihan na Tolu. Nenek moyang kita dahulu sudah bisa membuat rumusan bagaimana harus bersikap dari yang satu kepada yang lain dengan mengacu pada Dalihan na Tolu, “ Viky menguraikan.

Menunjukkan kebijakannya, Viky mengemukakan bahwa orang Batak dalam lingkup modernisasi seharusnya tidak kehilangan jati diri. Namun, kenyataan, katanya, banyak orang Batak tercerabut dari akar budaya. Dan sebagian yang lain keliru menafsirkan modernisasi.

“ Mereka menganggap modernisasi itu adalah westernisasi. Itu yang pertama. Yang kedua, mereka melihat budaya Batak itu hanya sebatas pesta adat. Dalihan na Tolu itu seakan-akan hanya berlaku disitu, di mana letak Hula-Hula, Boru dan dongan Tubu baru terlihat disitu. Sehingga banyak anak muda sekarang tidak tertarik untuk belajar budaya Batak, karena yang dinformasikan kepada mereka budaya Batak itu ya sebatas itu saja, “ katanya menyayangkan.

Menurut Viky, penyumbang terbesar sehingga terjadinya degradasi budaya Batak adalah masuknya agama Kristen maupun Islam. Bukan masuknya para misionaris ke tanah Batak yang menjadi soal, tetapi penerapan agama itu yang terlalu berlebihan, sehingga banyak budaya Batak yang harus hilang, terperangkap ke dalam dogma-dogma agama tersebut. Viky memberi contoh bentuk bangunan gereja yang semua harus sama dengan yang ada di Barat.

“ Tidak boleh ada gorga, pengiring ibadah harus organ, tidak boleh ada taganing, tidak boleh ada sarune dan lain-lain. Kontributor kedua terbesar bagi degradasi budaya Batak adalah imbas budaya Barat. Saya lebih setuju kalau soal beragama itu sebagai masalah pribadi dan tidak disangkut pautkan dengan budaya lokal, “ katanya coba memberikan pandangan yang terdengar agak filosofis.

Viky Sianipar, yang lahir 26 Juli 1976, menikah dengah Deasy Puspitasari tahun 2004. Pernikahan itu menganugerahinya Metasha Inspira Sianipar, 3 ½ tahun dan Mattheuw Putra Sianipar, 2 ½ tahun. Yang berbahagia bukan hanya mereka berdua, tetapi juga ompung kedua anak mereka yang manis itu ; Monang Sianipar dan Elly Rosalina Kusuma boru Harianja. Juga ketiga saudara Viky ; Sahat Sianipar, Bismark Sianipar dan tria sianipar.

* Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah budaya Batak, TAPIAN, edisi Juli 2008.

Tamara Geraldine Bicara Ulos Batak



By Sahala Napitupulu.

Ada banyak hal menarik keluar dari celotehnya ketika diajak bicara tentang ulos Batak, meskipun kadang dengan gaya yang disampaikannya lewat canda. Itulah Tamara Geraldine, salah satu selebritis Batak kelahiran Jakarta, anak kedua dari pasangan ayah L.M.Tambunan dan ibu Y.boru Sibarani. Wajah cantik dengan senyumannya yang manis dahulu kerap kita temui di beberapa acara stasiun televisi swasta sebagai presenter. Seperti dalam acara sepakbola Liga Calcio di RCTI dan kuis hiburan Go Show di TPI, selain banyak menjadi model dan bintang iklan. Belakangan dia membuat kejutan sebagai penulis dengan menerbitkan kumpulan cerita pendeknya dalam judul lumayan panjang, “ Kamu Sadar Saya Punya Alasan Untuk Selingkuh kan Sayang “ dan buku keduanya tentang biografi penyanyi Yuni Sahara.

Ditemui di rumahnya dalam sebuah wawancara dengan Tapian (20/10), Tamara bertutur tentang seleranya terhadap ulos Batak. “ Saya enggak suka ulos yang terlalu colourfull, yang manik-maniknya terlalu banyak seperti jenis ulos Sadum. Saya suka dengan warna ulos yang redup karena mudah dikombinasikan. Menurut ompung saya, warna budaya Batak ini hanya ada tiga, yaitu merah, hitam dan putih. Saya suka ulos dengan tiga unsur warna itu saja paling dominan. Kalau sudah ada warna ungu dan segala macam warna, saya malas memajangnya, “ ujar Tamara.
Di rumahnya dia memajang sejumlah ulos Batak, terutama ulos-ulos yang punya nilai historis dalam hidupnya. Diantara koleksinya ada ulos yang sudah berusia seratus tahun lebih yang dia dapat dari warisan ompungnya. Dia menata ruang rumahnya dengan keseimbangan antara unsue Oriental dan unsur Batak sehubungan dengan suaminya sendiri berasal dari Vietnam.

Tien Thinh Pham, pengusaha asal Vietnam yang telah mempersuntingnya 7 tahun silam, oleh keluarga Tamara telah dirajaon bermarga Nainggolan Parhusip. Perkawinan antar suku bangsa ini oleh keluarga Tamara tidaklah terlalu bermasalah sejauh mereka mau diadati dengan adat Batak Toba.

“ Kalau kalian enggak diadatin, kalau suaminya enggak ada marganya, nanti kalau kalian diundang di pesta-pesta adat, kalian akan bingung mau duduk dimana, di paranak atau di parboru, “ujar Tamara menjelaskan alasan tuntutan keluarganya. Menurut Tamara, suaminya tidaklah terlalu sulit beradaptasi dengan adat budaya Batak, karena di negeri suaminya di Vietnam pun mengenal konsep Dalihan na Tolu seperti di Batak. Boleh jadi benar, karena memang ada teori mengatakan orang Sumatera Utara, khususnya orang Batak, cikal bakalnya datang dari Phunam dan Phunam itu dari Indocina. Dengan dirajaon menjadi Nainggolan Parhusip, kata Tamara lagi, suaminya jadi merasa punya keluarga besar disini terutama karena pertalian Dalihan na Tolu.

“ Cuma suamiku bilang orang Batak ini agak aneh. Orang Batak kalau bicara di pesta-pesta adat maupun acara penghiburan selalu dibuka dengan kata Jadi dan ditutup dengan kata Botima. Selalu begitu, diawali dengan kata Jadi lalu ditutup dengan Botima. Ada apa dengan 2 kata itu ? “ cerita Tamara tentang pengamatan suaminya terhadap gaya bicara orang Batak. Dia dan suami, sejauh waktu memungkinkan, kerap juga menghadiri undangan pesta-pesta Batak, bahkan pernah mangulosi.

“ Tapi itu dia, pernah ketika kami mau memberi ulos kepada mempelai, saya manortor, suami saya malah tari cha-cha, “ kata Tamara sambil tertawa.

Saat ditanya pengalaman paling emosional yang pernah dia alami berhubungan dengan ulos, Tamara menyebut tiga peristiwa. “ Pertama, pada saat menikah, saya dan suami diulosi. Kedua, pada saat anak saya Tjazkayaa Loedwigee Poetry tardidi, kami sekeluarga diulosi. Dan ketiga, pada waktu ompung meninggal, tradisinya kami harus rebutan ulos ompung, “ katanya sambil mengingat-ingat kembali.

“ Hanya saya enggak yakin, apa itu karena ulosnya atau karena momentnya, “ ujarnya menambahkan. Bagi Tamara, ulos Batak itu hanya sebuah identitas etnik saja. Identitas dari mana dia berasal. Tidak lebih. Karena itu dia tidak pernah memberhalakan. Hal ini menyinggung adanya sebagian sikap orang Batak yang sangat mengkultuskan ulos pemberian hula-hula, orangtua, ompung atau tulang.

“ Ompung dan orangtuaku memang paradat, tapi waktu mangulosi kami, mereka selalu bilang ulos ini hanya simbol saja. Tapi tetap kalian berjalan supaya diiringi Tuhan Yesus. Jadi jangan lihat ini sebagai benda yang mengikat atas kuasa yang lain, selain kasih Tuhan itu sendiri, “ kata Tamara menjelaskan sikap yang ditanamkan keluarganya dalam memandang ulos. Karena itu dia tidak pernah mau beli ulos yang dikerjakan dengan perhitungan hari-hari tertentu sehingga terkesan mistik dan berhala. Dia pun tak pernah berburu ulos secara khusus.

Menjawab pertanyaan Tapian tentang filosofi ulos baginya, Tamara merujuk apa yang pernah dia dengar. “ Ompung memetaforkan ulos itu sebagai selimut. Arti selimut, dia bisa kasih kehangatan kalau kita dingin, dia bisa menaungi kita dari hujan. Itu yang aku tahu, “ ujarnya. Dia mengakui tidak banyak mempelajari tentang sejarah dan filosofi ulos. Namun dimatanya ada keunikan orang Batak dalam memakai ulos. Misalnya ketika orang pergi ke tempat duka cita, ulos yang dikenakan berbeda dan berbeda lagi ketika mereka pergi ke tempat pesta.

Tetapi Tamara juga melihat ‘ keanehan’ para wanita Batak dalam berbusana ke pesta adat perkawinan. “ Lihat saja, dimana-mana pesta perkawinan para wanita Batak justru kebanyakan pake kebaya dan Songket Palembang. Datangnya ke pesta adat Batak tapi pakenya Songket Palembang, “ ujar Tamara menyayangkan. Menurut Tamara hal ini disebabkan belum ada perancang busana Batak yang dianggap betul-betul serius dan berhasil dalam menangani ulos sebagai produk fashion. Tamara kemudian membandingkannya dengan kain Batik Jawa.

“ Lihat Batik Jawa. Batik bisa dijadikan baju sehari-hari tapi juga bisa tampil glamour, tentu karena ada perancang busana yang serius mengerjakannya, “ ujar Tamara mengkritisi kalahnya pamor ulos dalam mode dan produk fashion. Demikian Tamara berbagi pandangannya kepada Tapian.

* Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah budaya Batak, TAPIAN, edisi perdana November 2007.

Kamis, 11 Desember 2008

Kolam Sampuraga


Didongengkan kembali oleh : Sahala Napitupulu


Dahulu kala di daerah Padang Bolak, Tapanuli Selatan, hiduplah seorang janda tua dan miskin bersama anak satu-satunya bernama Sampuraga. Dia pemuda rupawan, pekerja keras dan jujur. Pekerjaannya setiap hari menggarap sawah orang lain dan mencari kayu bakar di hutan. Namun, dia punya impian. Ia seringkali membayangkan dirinya sebagai pemuda yang kaya dan kelak punya istri yang cantik. Dia ingin mengubah hidupnya, menata masa depan dengan kehidupan yang cerah bahagia. Hari-hari berlalu dan impiannya itu semakin merasuk kedalam jiwanya. Sampuraga ingin segera menikmati mimpinya itu sebagai satu kenyataan.

Demikianlah, pada suatu kesempatan di siang hari, Sampuraga bersama majikannya tengah beristirahat dibawah sebuah pohon rindang. Sang majikan senang dengan pekerjaan Sampuraga. Dia pun sudah menganggap Sampuraga seperti keponakannya, sementara Sampuraga pun memanggilnya Paman. Mereka baru selesai menuai padi. Panen telah selesai.

“ Sampuraga, “ ujar sang Paman padanya ketika mereka sedang makan siang. “ Saya lihat usiamu masih muda dan perjalanan hidupmu masih panjang. Demi masa depanmu, sebaiknya kamu pergi merantau. Keluarlah dari kampung ini, “ katanya seraya menatap Sampuraga.

“ Kemana saya akan pergi, Paman ? “ sahut Sampuraga bersemangat. Matanya berbinar. Keinginan itu telah lama ia pendam, sesungguhnya. Diam sejenak.

“ Pergilah ke sebuah negeri bernama Mandailng. Itu adalah negeri yang sangat subur dan penduduknya hidup makmur. Di situ orang sangat mudah mendapat uang, karena tanahnya memiliki kandungan emas. Penduduk Mandailing hidup makmur dengan cara mendulang emas di sungai, “ jelas sang Paman kemudian. Mata Sampuraga semakin berbinar-binar. Apa yang baru saja dia dengar semakin melambungkan impiannya.

“ Saya sudah lama bercita-cita untuk merantau,Paman. Sudah lama ingin mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu, suatu hari nanti, “ jawab Sampuraga sungguh-sunguh.

“ Sungguh cita-citamu mulia. Kamu ingin berbakti pada ibumu, ingin membahagiaan ibumu, Allah pasti meluruskan jalanmu, “ puji sang Paman.

Malam itu bulan purnama menghias langit. Di sebuah gubuk tua dan reyot, tampak Sampuraga bersama ibunya tengah berbincang.

“ Bu, Sampuraga ingin merantau ke Mandailing untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, “ kata Sampuraga mengutarakan niatnya pada sang Ibu. Orangtua itu terperanjat mendengar. Tapi, hanya sesaat.

“ Kemanakah gerangan anakku akan pergi merantau ? “ sambung sang Ibu.

“ Ke negeri Mandailing, Bu. Paman lah yang memberi tahu Sampuraga, negeri Mandailing itu sangat makmur, “ jelas Sampuraga kepada Ibunya.

“ Baiklah, anakku. Pergilah. Meskipun ibu sangat khawatir karena usia Ibumu yang sudah semakin renta. Ibu khawatir kalau Ibu nanti tidak bisa melihatmu lagi. Tapi, Ibu tak bisa melarangmu, karena itu demi masa depanmu. Maafkan Ibu, karena selama ini Ibu tak pernah membahagiakan hidupmu, anakku, “ kata Ibunya dengan suara lirih. Ada keharuan teramat dalam diantara keduanya, meski tak terkatakan. Lalu, keduanya berangkulan dengan penuh kasih sayang beriring derail air mata.

“ Terimakasih, Bu. Sampuraga berjanji, jika sudah berhasil dan Sampuraga menjadi kaya, saya akan menjemput Ibu. Doakanlah Sampuraga, Bu, “ ujarnya dalam pelukan sang Ibu.

“ Pasti, anakku. Pasti Ibu akan doakan supaya Allah memberkati niatmu, “ jawab sang Ibu perlahan. Setelah mendapat restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan bekal perjalanan.

Saat itu matahari pagi bersinar cerah. Kicau burung dari pohon-pohon terdengar riuh. Sampuraga telah meninggalkan Padang Bolak. Ibunya melepaskan kepergian Sampuraga dengan tetesan air mata diantara doa-doanya kepada Tuhan.

Setelah beberapa hari perjalanan, Sampuraga tiba di kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia terpesona melihat negeri itu. Penduduk disitu ramah-ramah. Mereka masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah, beratapkan ijuk. Sebuah istana tampak berdiri megah di tengah kota. Semua itu menandakan Mandailing memang sebuah negeri yang makmur dan sejahtera.

Sampuraga segera melamar pekerjaan. Ia diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya raya. Sampuraga selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia pun jujur dalam hal keuangan. Sudah berkali-kali sang majikan menguji kejujurannya, dan terbukti ia memang pemuda yang bisa dpercaya. Karena itulah, pada suatu hari, majikannya memberinya modal untuk membuka usaha sendiri.

Hari-hari selanjutnya, Sampuraga mulai mandiri dalam mengelola usaha dagangnya. Dan Tuhan tidak mengabaikan doa-doa yang dipanjatkan oleh Ibunya dari Padang Bolak. Tuhan memberkahi usahanya. Sehingga dalam waktu yang singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang dia peroleh, tidaklah ia habiskan, melainkan ia tambahkan untuk modal usahanya. Sehingga dagangan Sampuraga kian berkembang. Namanya pun mulai dikenal sebagai pengusaha muda yang kaya raya. Sang majikan sangat senang dengan keberhasilan Sampuraga. Tidak hanya itu. Ia berkeinginan untuk menikahkan Sampuraga denga putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.

“ Sampuraga, engkau memang pemuda yang jujur. Dan sekarang engkau telah menjadi pemuda yang kaya raya karena usahamu sangat berkembang. Maukah engkau menjadi menantuku ? “ tanya sang majikan dalam sebuah percakapan dari hati ke hati. Sampuraga tentu tak menampik, karena ia pun telah lama jatuh hati pada putri majikannya itu.

“ Dengan rasa hormatku, hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu. Sebab sesungguhnya hamba pun telah lama menaruh hati padanya, “ sambut Sampuraga dengan hati berbunga-bunga. Mereka kemudian saling diam. Beberapa saat saling memandang. Saling tersenyum.

Lalu pernikahan akan dilaksanakan sesuai dengan rencana. Dilangsungkan selama tujuh hari. Pesta digelar secara besar-besaran sejalan dengan adat Mandailing. Puluhan ekor kerbau dan kambing akan disembelih untuk jamuan makan. Gordang Sambilan akan ditabuh selama hari pesta untuk menghibur para undangan dan mengajak mereka manortor.

Berita tentang rencana pernikahan Sampuraga yang meriah itu tersiar juga ke Padang Bolak. Ibu Sampuraga, perempuan tua renta itu, hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar. Mengapa Sampuraga tak datang kepadanya dan memberi kabar ? Sudah lupakah ia pada Ibunya ? Wanita tua itu terpana dalam kesendirianya. Airmatanya berderai. Ia menangis karena kerinduannya melihat Sampuraga telah lama ia pendam. Ia rindu untuk bertemu dengan Sampuraga. Ia ingin melihat wajah anaknya, yang tiap malam ia bayangkan dalam doa-doanya.

Setelah mempersiapkan perbekalan, esok harinya berangkatlah sang Ibu ke negeri Mandailing untuk menyaksikan pernikahan Sampuraga dengan berjalan kaki. Dengan beban kerinduan yang teramat sangat, ia menyusuri hutan-hutan Tapanuli Selatan.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di kerajaan Pidoli. Tampak kemeriahan tengah berlangsung. Gordang Sambilan ditabuh bertalu-talu. Di pelaminan tampak Sampuraga bersanding dengan putri yang cantik jelita. Semua bersuka cita. Tapi, tidak jauh dari situ, seorang perempuan tua terus menatapnya. Ia ingin memastikan. Dan kini ia percaya, bahwa yang duduk di pelaminan itu adalah Sampuraga, anak kandungnya. Oleh rasa rindunya yang sangat mendalam, perempuan tua itu segera berteriak memanggil nama anaknya.

“ Sampuraga, anakku, “ dia berseru. Semua menoleh kepada sumber suara itu. Sampuraga terkejut. Undangan terperanjat. Sampuraga mengenal suara itu.

“ Tidak mungkin itu suara Ibuku, “ katanya dalam hati. Perempuan itu bergegas mendekatinya. Ia ingin memeluknya. Tapi, Sampuraga menahannya.

“ Siapa engkau perempuan tua ? “ Tanya Sampuraga dengan wajah memerah.

“ Aku Ibumu, Sampuraga. Peluklah Ibumu ini, nak. Ibu sudah sangat rindu padamu, “ perempuan tua itu mengulurkan tangannya sekali lagi untuk memeluk Sampuraga. Wajah Sampuraga merah membara. Ia akan sangat malu pada para undangan yang hadir jika mereka tahu Sampuraga punya Ibu yang demikian buruk dan tua renta. Karena itu ia menolaknya.

“ Tidak. Kamu bukan Ibuku. Ibuku telah lama mati dan wajah Ibuku pun tidak seperti kamu jeleknya, “ ketus Sampuraga menampik. Tidak hanya itu. Sampuraga kemudian memanggil penjaga keamanan pesta dan menyuruh mereka supaya mengusir perempuan itu.

“ Sampuraga, anakku. Kenapa engkau melupakan Ibumu ? Akulah yang melahirkanmu, “ ujar sang Ibu dengan derai air mata. Betapa ia kecewa, karena Sampuraga, anaknya, telah menolaknya. Bahkan mengusirnya. Semua undangan yang menyaksikan ikut terharu. Namun, tak seorangpun berani menengahi, karena tak seorang pun bisa memastikan kebenaran pengakuan perempuan tua itu.

Ibu yang malang kemudian diseret keluar meninggalkan tempat pesta itu. Dengan derai air mata dan luka hati yang menganga, sang Ibu kemudian berdoa. “ Ya, Tuhan, jika benar dia adalah anakku Sampuraga, berilah ia kutukan, karena ia telah mengingkari Ibu kandungnya sendiri. Tapi, jika ia bukan Sampuraga, anakku, maka selamatlah ia, “ doanya kepada Tuhan.

Tak lama, langit tiba-tiba gelap. Petir menggelegar. Lalu hujan deras tertumpah. Seluruh yang hadir dalam pesta berhamburan, berlari menyelamatkan diri. Sedangkan tempat pesta itu kemudian tenggelam, berubah menjadi kolam air panas. Kolam penanda pendurhakaan itu kemudian bernama Sampuraga. Hingga hari ini, kolam itu menjadi salah satu tempat pariwisata di daerah Mandailing, Tapanuli Selatan. Agaknya, dia juga menjadi tempat merenung untuk tidak mengulang tabiat buruk si Sampuraga, tempat memuja kemuliaan bagi semua perempuan yang menjadi Ibu kita.

* Tulisa ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah TAPIAN, edisi Desember 2008.

Si Gale-Gale, Pelipur Lara Siapa Saja


Didongengkan kembali oleh : Sahala Napitupulu.

Pada zaman dahulu kala, daerah Uluan di tanah Batak dipimpin oleh raja Rahat. Istrinya telah lama tiada. Dia raja bijaksana dan mempunyai seorang putra satu-satunya, bernama Manggale. Rakyat yang dipimpinnya hidup dengan tentram dan makmur. Sedangkan Manggale, selaku putra mahkota, dihormati karena ketangkasannya dalam berperang. Menjunjung tinggi kebenaran dan mencintai rakyat Uluan.

Namun, suatu hari terdengar kabar bahwa dihutan perbatasan Uluan telah berkumpul pasukan dari seberang. Mereka hendak menyerang dan menjarah harta kekayaan Uluan. Rakyat tampak gelisah menunggu apa yang akan terjadi. Menunggu apa yang akan diputuskan oleh raja mereka. Segera sang raja mengumpulkan penasehatnya, para tua-tua kampung, para datu, termasuk Manggale sebagai panglima perang.

“ Pasukan musuh telah masuk ke wilayah Uluan. Rakyat sudah gelisah. Rakyat Uluan menunggu keputusan saya. Berikanlah nasehat kalian, “ tutur raja setelah menjelaskan keadaan yang tengah terjadi. Mereka saling memandang. Wajah mereka diliputi ketegangan.

“ Apa pendapatmu datu Mangatas ? “ Tanya sang raja kemudian.

Sang datu diam sesaat. Ia penaseha tertua dan pertimbangannya sangat didengarkan oleh raja. Ia berpikir keras. Setelah menghela nafas panjang, sang datu menjawab. “ Musuh yang akan kita hadapi sudah terkenal tangkas dalam berperang, tangkas dalam berkuda dan ganas dalam menghunus pedang. Tapi jangan takut, karena pasukan Uluan yang dipimpin Manggale akan menang melawan mereka, “ ujar datu Mangatas dengan suara berwibawa.

Raja Rahat melayangkan pandangan kepada tua-tua kampung. Tak ada bantahan. Kemudian raja menatap putranya, Manggale. Sang putra pun tampak setuju dengan pendapat sang datu.

“ Baiklah. Dengan ini saya raja Rahat, raja Uluan menyatakan akan mengirimkan pasukan kita untuk segera berangkat melawan musuh di hutan perbatasan. Anakku Manggale akan memimpin pasukan Uluan. Kiranya berkat Debata Mulajadi Nabolon menyertai engkau dan pasukanmu, anakku, “ kata sang raja memutuskan.

Enam bulan sudah berlalu. Manggale dan pasukannya masih dihutan perbatasan berperang menghadapi pasukan musuh. Raja Rahat dan rakyat Uluan menungggu-nunggu. Tak ada yang berani masuk hutan.

Hari-hari dilalui sang raja dengan gelisah. Tapi, malam sebelumnya ia punya mimpi buruk. Ia melihat seekor burung yang sedang terbang tiba-tiba jatuh ke halaman rumahnya terkena panah seorang pemburu. Adakah ini sebuah isyarat dari Debata Mulajadi Nabolon ? Tanya sang raja memikirkan arti mimpinya itu.

Sore itu langit kelam. Raja Rahat sedang merindukan kedatangan Manggale, putranya. Tak tahan hatinya dilanda rasa rindu pada putranya itu. Tapi, tak ada kabar berita tentang keadaan sebenarnya. Apakah pasukan Uluan menang atau kalah, tak ada kepastian beritanya. Sedangkah mimpi terpanahnya seekor burung, ia tafsirkan sebagai pertanda buruk. Mungkin anakku Manggale telah tewas di hutan, pikir raja mengenai nasib putranya itu.

Sejak datangnya mimpi itu, sang raja jadi tampak termenung berlama-lama. Ia lebih suka mengurung diri di kamarnya berhari-hari. Kadang sang raja tak menyentuh makanan dan minuman. Bahkan sering tak membasuh muka atau mandi untuk menyegarkan tubuh. Rakyat Uluan cemas kalau-kalau sang raja jatuh sakit.

Sore itu langit Uluan berkabut gelap. Tua-tua kampung dengan datu Mangatas telah bersepakat untuk melihat keadaan raja mereka. Sesaat setelah mereka masuk kedalam rumah raja, betapa hati mereka bersedih. Sang raja mereka temukan dalam keadaan terbaring mengenaskan. Ia tak bisa berbicara. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya kurus dan ringkih. Tatapan matanya kosong.

Sang datu menjamah tubuh sang raja. Memeriksanya sedemikian rupa. “ Tak ada penyakit padanya. Raja kita sakit karena memikirkan Manggale, “ ujarnya. Lalu ia mengajak mereka semua keluar dari kamar sang raja untuk merundingkan cara pengobatannya. Mereka pun berunding, memikirkan bagaimana supaya raja bisa sembuh. Menghadirkan Manggale kepada sang raja, rasanya tak mungkin. Mereka tak tahu dimana sekarang Manggale dan pasukannya. Mungkin masih hidup, mungkin juga tidak. Masing-masing sibuk dengan jalan pikiran bagaimana menolong sang raja yang mereka cintai itu.

Datu Mangatas beberapa saat kemudian memberi isyarat untuk bicara. Dia menemukan ide untuk mengobati rasa rindu raja pada anaknya.

“ Kita akan membuat patung yang menyerupai Manggale. Dengan melihat patung Manggale, semoga kerinduan hati raja kita akan terobati, “ ujarnya menawarkan idenya itu. Semua terdiam. Semua larut memikirkan tentang ide membuat patung Manggale. Akhirnya mereka setuju.

“ Tapi siapa yang aka mengerjakan patungnya dan dimana akan dikerjakan ? “ tanya seorang tetua yang dipanggil ompung Binsar.

“ Saya tahu di kampung Lumbanjulu Nihuta ada orang yang pintar membuat patung manusia. Dialah yang aka mengerjakan patung Manggale. Dan nanti, bila patung itu telah selesai, supaya tampak hidup kita aka mengundang roh Manggale untuk masuk kedalam patung itu, “ tanggap datu Mangatas.

“ Bangaimana caranya supaya roh Manggale mau datang ? “ Tanya ompung Binsar.

“ Tiup Sordam dan tabuh Gondang Sabangunan. Saya akan manortor untuk memanggil roh Manggale, “ jawab sang datu. Perundingan mereka pun rampung.

Tiga bulan kemudian. Sesuai dengan petunjuk datu Mangatas, upacara memanggil roh Manggale dilakukan saat bulan purnama.

Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam itu bulan purnama tampak seperti tersaput kabut magis. Asap dupa bertebaran disekeliling tempat upacara. Penduduk telah berkumpul. Patung Manggale ditaruh ditengah halaman. Ukuran dan tinggi patung itu tampak sama persis dengan Manggale. Mereka duduk melingkari patung Manggale. Semua hening. Mereka sedang menunggu kedatangan raja untuk masuk bersama sang datu yang akan memimpin upacara. Tak lama kemudian raja pun tiba di lokasi. Demi melihat patung Mangggale, raja segera menangis. Lama ia menatap patung itu seperti tak percaya pada penglihatannnya.

“ Manggale, anakku..” desahnya lirih, nyaris tak terdengar. Semua terharu. Beberapa saat berlalu. Datu Mangatas kemudian memberikan isyarat kepada pargonci supaya musik gondang segera ditabuh.

Mula-mula dimulai dengan tiupan Sordam. Menyusul tabuhan gondang. Sang datu mengambil tali tiga warna : merah, putih dan hitam. Mengikatkannya dikepalanya. Lalu mengenakan ulosnya. Dia masuk ketengah lingkaran. Merapal mantra memanggil roh Manggale. Dan sesaat kemudian ia pun manortor mengkuti tabuhan gondang. Semua mata menatap padanya dengan saksama. Sambil terus manortor, dia mengitari patung Manggale tujuh putaran. Dan, tiba-tiba patung itu mulai bergerak. Tidak hanya bergerak, tetapi manortor. Patung itu manortor bersama sang datu. Kemudian raja dijemput oleh sang datu dan Manggale untuk ikut manortor. Raja bangkit berdiri. Dan ia pun ikut manortor.

Pargonci terus menabuh gondang bersama peniup sordam. Rakyat Uluan, demi melihat raja telah manortor bersama patung Manggale, pun ikut bangkit berdiri. Lalu mereka manortor bersama. Mereka bergembira. Semua manortor bersama patung Mannggale hingga fajar menyingsing. Namun, “ pesta “ itu harus berhenti. Karena begitulah perjanjiannya, sebelum ayam hutan berkokok, roh Manggale harus dikembalikan ke alamnya.

Sesaat kemudian ayam hutan memang terdengar berkokok. Roh Manggale lantas terbang meninggalkan mereka. Dan patung dirinya itu pun tak dapat lagi bergerak. Rakyat Uluan lalu menyimpan kembali patung Manggale. Demikianlah raja Rahat sejenak terhibur. Dia telah bertemu dengan “ putra”nya Manggale. Sejak itu, apabila sang raja merindukan anaknya, maka upacara pemanggilan roh Manggale dilakukan kembali. Zaman silih berganti dan patung itu kemudian disebut Si Gale-gale.

Sekarang yang bisa memanggilnya tidak mesti seorang raja. Siapa saja yang berkunjung ke Tomok, di Samosir, boleh mampir ke patung Si Gale-gale dan memberikan saweran kepada penjaga patung itu. Dan manortorlah si patung.


* Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah TAPIAN, edisi November 2008.

Senin, 08 Desember 2008

Dalihan na Tolu, Dimata Mereka


By.Sahala Napitupulu.

Kiri : Gibson Sihombing, 40 tahun, Kandidat Doktor ekonomi Universitas Persada Indonesia.
Kanan : Charles BonarSirait, 37 tahun, Pembawa Acara.
_________________
(Majalah budaya Batak,Tapian, pada edisi September 2008, dalam rubrik Sudut Pandang mengetengahkan tentang dinamika Dalihan na Tolu, khususnya dimata kaum muda Batak di perantauan, dalam judul Ada Perubahan Tapi Esensi Dalihan na Tolu Tak Tergoyahkan. Diantara nara sumber yang ditampilkan Tapian ada Charles Bonar Sirait dan Gibson Sihombing. Dibawah ini petikan komentar mereka.)
Gibson Sihombing :
Dalam tradisi Batak, Dalihan na Tolu merupakan sumber hukum adat yang mengatur kehidupan budaya masyarakat Batak, yaitu somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboro. Falsafah ini dipakai sebagai pedoman dalam kehidupan sosial dan tatanan adat Batak sejak orang lahir sampai meninggal dunia. Pemahaman tentang Dalihan na Tolu saya peroleh tidak hanya melalui bacaan Saya aktif dalam punguan marga, kini saya wakil sekretaris punguan pomparan Op.Mangambittua Nababan se-Jabodetabek. Sehingga saya banyak terlibat dalam menghadiri acara-acara adat Batak.
Didalam Tungku nan Tiga itu juga ada mengandung azas keadilan. Karena setiap orang Batak dapat menempati posisi sebagai hula-hula, bisa sebagai dongan tubu maupun sebagai boru. Sebuah contoh sederhananya seperti ini. Katakanlah, disebuah pesta adat perkawinan yang saya hadiri pada hari Jumat, kedudukan saya disitu sebagai pihak hula-hula. Tetapi, di hari Sabtu, di pesta adat yang lain saya hadir sebagai pihak dongan tubu. Dan di hari Minggu, dalam pesta yang lain lagi, saya hadir dalam kedudukan sebagai pihak boru. Jadi, tidak ada posisi yang permanen dalam Dalihan na Tolu. Hari ini saya bisa hula-hula, besok bisa sebagai dongan tubu dan lusa sebagai boru.
Selain itu, Dalihan na Tolu mendorong orang Batak supaya hidup bergotong- royong. Berdasarkan Dalihan na Tolu, tak ada pesta yang tidak dikerjakan secara bergotong royong. Baik pihak hula-hula, dongan tubu maupun boru, punya peran dan tanggung jawab kerja masing-masing. Pihak hula-hula (dan juga tulang) diperlakukan dengan hormat oleh pihak pelaksana adat, mulai dari posisi duduk, cara penyampaian tutur kata sampai pada hidangan makanan dan minuman. Lain lagi pihak parboru. Mereka akan mengambil posisi sebagai “pembantu” yang mengurusi urusan dapur. Sedangkan pihak dongan tubu akan menunjukkan sikap gotong-royong dengan mengumpulkan tumpak(sumbangan) untuk dipergunakan oleh pelaksana pesta adat. Itulah nilai positif yang membuat Dalihan na Tolu bisa eksis hingga kini ditengah gempuran budaya modern.
Namun, menurut pengamatan saya, dalam pelaksanaannya sekarang, hubungan hula-hula-boru mulai bergeser. Artinya, tidak sesakral pada mulanya. Kini pihak boru tidak lagi menganggap pihak hula-hula sebagai sumber berkat. Seperti pandangan para leluhur kita dahul;u, berkat itu datang melalui perantara hula-hula. Tapi, kini tidak lagi. Hal ini dipengaruhi, terutama, oleh faktor menguatnya pengajaran agama Kristen ditengah masyarakat Batak.
Charles Bonar Sirait :
Walau modernitas telah membawa orang sangat maju (individualistis), namun manusia tetap merupakan mahluk sosial yang memiliki kebutuhan akan berkomunikasi. Dalihan na Tolu pada konteks ini merupakan falsafah yang tepat untuk dapat membuat manusia tetap akrab dan memiliki hubungan batin.
Dalihan na Tolu ditengah gempuran budaya modern ternyata masih tetap terpelihara. Pesta-pesta adat Batak masih terselenggara oleh halak hita di perantauan. Ditengah gempuran budaya modern, dia tetap bertahan, karena adanya kekuatan nilai didalamnya. Nilai-nilai itu antara lain kekerabatan, hagabeon, hamoraon,uhum dan ugari, pangayoman dan marsisarian.
Nilai hagabeon itu bermakna harapan panjang umur dan beranak cucu yang banyak. Nilai hamoraon (kehormatan) terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan materi pada diri seseorang. Nilai uhum (hukum) dan ugari (kebiasaan) tercermin dalam penerapan dalam menegakkan keadilan dan kesetiaan pada janji. Nilai pangayoman bermakna perlindungan. Sedang marsisarian artinya saling mengerti, saling membantu.
Dari semua nilai itu, nilai kekerabatanlah ditempat paling utama. Nilai-nilai luhur dari budaya Batak tidak luntur, walau zaman berubah dengan cepat. Karena ada aspek ketertautan antar manusia yang tidak dapat tergantikan. Memang, sesuai dengan perkembangan zaman, penerapan Dalihan na Tolu dalam pesta-pesta adat sudah perlu disederhanakan,agar waktu lebih efisien. Seperti diketahui, karena soal waktu yang tidak efisien, banyak pasangan muda Batak malas menghadiri pesta-pesta adat Batak.
Yang penting bagaimana nilai-nilai luhur dari Dalihan na Tolu itu lebih disosialisasikan dan dapat berperan nyata dalam perkembangan mental generasi muda.
Dalam bahasa Batak hanya anak lelaki yang disebut anak, sedangkan anak perempuan disebut boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya. Dalam adat Batak, sesuai dengan Dalihan na Tolu, marga memegang peran utama. Istilah kekerabatan, seperti dongan sabutuha atau dongan tobu, pihak uhula-hula maupun pihak boru didasarkan pada hubungan marga-marga. Karena itu Dalihan na Tolu itu bisa menembus sekat-sekat agama.

Kamis, 04 Desember 2008

Melancong Menemui Si Raja Batak


By Sahala Napitupulu.

Berbaur dengan orang-orang yang datang menyaksikan Danau Toba kalau tak menyeberang ke Pulau samosir, rasanya kurang syor. Anda bisa pilih Tuk-Tuk atau Tomok, dua desa paling dekat dengan Parapat yang menjadi pusat pesta. Terletak 1000 meter diatas permukaan laut, pulau Samosir, dengan luas 250.000 ha itu, diperkirakan telah ada sejak ribuan tahun silam, yang muncul sebagai akibat dari letusan supervulcano.

Setelah letusan maha dahsyat tersebut terbentuklah kaldera yang luas dan diisi oleh air. Tekanan magma yang tidak menemukan jalan keluar menyebabkan munculnya daratan ditengah kaldera yang sudah tergenang air. Begitulah konon lahirnya pulau Samosir. Para penyair, pemusik dan pelukis berulang-ulang coba mengabadikan pesona keindahan Danau Toba dan Samosir, namun tak pernah menyamai kecantikannya yang nyata terhampar di depan mata.

Kalau sudah mendarat di Samosir, akan terasa keunikan Danau Toba yang mungkin tak ditemukan dibelahan dunia lain. Di Samosir terdapat dua danau kecil, Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang, dan muncullah julukan " danau diatas danau ". Kedua danau cilik itu berada di dua kecamatan yang berbeda. Sidihoni sejauh delapan KM dari Pangururan, sedangkan Aek Natonang dekat dengan Simanindo.

Jangan lupa singgah ke " Aek Hangat " di kawah Pusuk Buhit, di Kecamatan Sianjur Mula-mula. Air suam-suam kuku disitu dipercaya mujarab untuk mengobati penyakit kulit.

Pusuk Buhit diyakini sebagai tempat asal-muasal orang Batak. Pusuk Buhit merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian lebih dari 18oo meter dari permukaan Danau Toba. Menurut legenda, si Raja Batak, diturunkan dari langit dan direbahkan di Pusuk Buhit oleh Ompu Mula Jadi Na Bolon (Allah pencipta semesta). Tetapi, ada pula yang mempercayai teori yang mengatakan bahwa si Raja Batak itu berasal dari Thailand yang datang melalui Semenanjung Malaya dan tiba di Sianjur Mula-mula. Teori yang lain menyebutkan si Raja Batak itu berasal dari India, merembes melalui daerah Barus atau Alas Gayo dan sampai di Danau Toba. Entahlah, terserah Anda yang mana yang benar.

Yang jelas, sebagai tujuan wisata, Samosir sudah lama dikenal dan dikagumi para turis. Panorama alam, wisata spiritual dan budaya hingga wisata air menunggu Anda dengan tangan terbuka lebar. Untuk mencapai Samosir memang cukup makan waktu. Kalau dari Jakarta penerbangan ke Medan memakan waktu dua jam. Dilanjutkan dengan perjalanan darat hampir 200 KM dari Medan ke Parapat yang memakan waktu empat jam.

Membuka Peti Pusaka

Dari Parapat ke Samosir, Anda dapat menumpang ferry dari dermaga Ajibata atau Tigaraja. Tuk-Tuk bisa dicapai sekitar 30 menit. Di desa ini, penginapan dan homestay tampak seperti bertengger di tebing Danau. Sedangkan desa Tomok 45 menit jauhnya. Selama pelayaran di air Danau yang tenang tampak perbukitan yang membentang di daratan Samosir.

Pulau Samosir juga dapat dicapai melalui jalan darat. Lewat Tano Ponggol yang menghubungkan pulau Samosir dan Pulau Sumatera melalui wilayah yang bernama Tele. Sebelum turun ke Pangururan, singgahlah dulu di kecamatan Sianjur Mula-mula. Disitu sedang menunggu Batu Obon dan Aek Sipitu Dai (air dengan tujuh rasa yang berbeda) serta rumah tradisional Batak. Di dalam Batu Obon inilah, kata orang, tersimpan harta pusaka Saribu Raja. Ini tempat memukau juga. Karena hingga kini tak ada yang bisa membuka peti pusaka yang terbuat dari batu itu.

Tomok adalah konsentrasi turis. Dengan berjalan kaki, berangkatlah ke desa Tuk-tuk Siadong. Disitu terdapat pemakaman raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu zaman pra-sejarah atau sering disebut Sarcophagus. Makam yang terbuat dari batu itu utuh tanpa ada persambungan sama sekali, yang dipahat sebagai tempat untuk meletakkan mayat raja Sidabutar, penguasa Tomok pada waktu itu.

Kemudian perjalanan bisa dilanjutkan menuju ke desa Siallagan. Disini menanti perkampungan orang Batak, dengan kursi-kursi batu tempat persidangan, dan tempat eksekusi bagi yang akan menjalani hukuman mati. Tak pula jauh dari situ desa Simanindo. Ada lokasi perkampungan Batak, dimana pengunjung bisa menonton wayang Batak si Gale-gale. Di seberang jalan ada museum yang memajang benda-benda kuno.

Dengan kepercayaan tentang manusia Batak pertama yang turun di pucuk bukit dan alam Danau Toba yang mempesona, ada yang mengatakan wisata ke sana adalah menikmati perpaduan mistik dan kemolekan alam.

* tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah TAPIAN, edisi Juli 2008.